PERJUANGAN NABI MUHAMMAD SAW (4)
Abdullah Hehamahua
Nabi Muhammad SAW gusar, sedih, bahkan takut diabaikan Allah SWT. Sebab, cukup lama, sejak di gua Hira, Jibril tidak datang mengunjunginya. Namun, enam bulan kemudian, Jibril datang ke rumah Nabi Muhammad SAW. Baginda karena sedih sehingga beliau berselimut. Jibril pun menyampaikan wahyu kedua.
Wahyu ini merupakan pelantikan Nabi Muhammad SAW sebagai RASUL. Konsekwensi logisnya, selain tindakan, ibadah, dan perilaku pribadi sebagai nabi, beliau juga harus menjalankan Tupoksi seorang rasul.
Tupoksi Rasul
Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) Nabi Muhammad SAW sebagai seorang rasul, tersurat dan tersirat dalam wahyu kedua, yakni:
Wahai orang yang berselimut (Nabi Muhammad), Bangunlah, lalu berilah peringatan.! Rabb-mu, agungkanlah.! Pakaianmu, bersihkanlah.! Segala (perbuatan) yang keji, tinggalkanlah.! Janganlah memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.! Karena Tuhanmu, bersabarlah.! (QS Al Muddatsir: 1 – 7).
Tujuh ayat ini menunjukkan tugas pokok, fungsi, peranan, dan persyaratan yang diperlukan sebagai seorang rasul, yakni:
- Mengtauhidkan Allah SWT
Ayat ketiga, “Rabb-mu, agungkanlah” menunjukkan bahwa, tugas pokok pertama Rasulullah SAW adalah mengtauhidkan Allah SWT. Sebab, ayat tersebut menunjukkan, seluruh jagat raya dengan isinya adalah kecil. Hanya Allah SWT yang besar dengan segala keagungan-Nya. Itulah sebabnya, syarat pertama menjadi muslim adalah mengucapkan kalimah syahadah “أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ (aku bersaksi bahwa, tidak ilah yang disembah kecuali Allah). Bahkan, Ketika shalat, umat Islam memulai dengan bacaan “اللهُ أَكْبَرُ (Allah Maha Besar).
- Mendakwahkan Islam
Tugas pokok kedua Nabi Muhammad SAW sebagai RASUL disebutkan dalam ayat “Bangunlah, lalu berilah peringatan.” Ayat ini menunjukkan bahwa, tugas Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul adalah menyampaikan, menyiarkan, dan mendakwahkan ajaran Islam ke seluruh manusia, dimulai dengan bangsa Quraisy di bandar Makkah.
Dakwah, secara etimologi berasal dari kata kerja Arab: da’a – yad’u – da’watan yang berarti: mengajak, menyeru, memanggil, permohonan, atau permintaan. Perkataan lain, dakwah diartikan sebagai seruan untuk berbuat kebaikan, baik dilakukan oleh Allah SWT (ke hamba-Nya), maupun oleh sesama manusia.
Dakwah secara terminologi adalah usaha mendorong manusia untuk berbuat kebajikan dan mengikuti petunjuk Allah SWT, serta mencegah dari perbuatan mungkar.
Muhamad Natsir, PM pertama NKRI, mendefinisikan dakwah sebagai usaha menyerukan dan menyampaikan kepada manusia tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia. Bahkan, Ibnu Taimiyah, seorang mujadid Islam mengatakan, dakwah adalah mengajak manusia untuk beriman kepada Allah, Rasul-Nya, serta membenarkan apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
- Kesucian Jiwa dan Raga
Ayat keempat “Pakaianmu, bersihkanlah,!” merupakan perintah Allah SWT agar Nabi Muhammad dalam menjalankan dakwah harus mengenakan pakaian yang bersih. Filosofi dari ayat ini menunjukkan, seorang da’i harus bersih dan suci pisik dan rohani dalam berdakwah. Itulah sebabnya, Allah SWT perintahkan umat Islam yang masuk ke masjid hendaknya mengenakan pakaian yang indah.
Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al A’raf: 31).
- Memberantas Kemungkaran
Ayat keempat, “Segala (perbuatan) yang keji, tinggalkanlah,” menunjukkan, Nabi Muhammad SAW sebagai rasul harus memberantas kemungkaran yang ada dalam masyarakat. Konsekwensi logisnya, Nabi Muhammad SAW harus meng-hilangkan kemungkaran di diri sendiri dan keluarga barulah melakukan hal serupa terhadap masyarakat Quraisy. Itulah sebabnya, dalam salah satu haditsnya, Nabi Muhammad bersabda:
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu, ingkarilah dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim).
- Ikhlas dalam Berdakwah
Ayat keenam, “Janganlah memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak,” mengandung filosofi, setiap perjuangan, tindakan, dan perilaku, termasuk berdakwah hendaknya ikhlas. Itulah sebabnya, minimal lima kali sehari semalam, ummat Islam dalam shalatnya berikrar:
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku (kurban), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS Al An’am: 162).
- Istiqamah dalam Berjuang
Ayat ketujuh, “Karena Rabb-mu, bersabarlah,” memerintahkan Nabi Muhammad SAW sebagai rasul untuk tetap istiqamah, konsisten, dan sabar dalam berdakwah. Ke-istiqamahan Rasulullah SAW itulah, maka hanya dalam 23 tahun berdakwah, lahir Madinatul Munawarah, masyarakat yang damai, adil, dan sejahtera.
Simpulannya, pendakwah, selain bersih hati, pikiran, tindakan, dan perilaku, harus ikhlas dalam berjuang secara konsisten, hanya mengharapkan ridhal Allah SWT. (Depok, 4 Ramadhan 1447H/21 Februari 2026)

