Perjuangan Nabi Muhammad SAW (3)

February 21, 2026

PERJUANGAN NABI MUHAMMAD SAW (3):

Abdullah Hehamahua

 

Suami, bagaimana pun ganteng, bugar, cerdas, dan kaya, tapi tanpa dukungan isteri, akan mengalami problem. Olehnya, dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW bersabda:

 

“Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah yang baik agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Dukungan Isteri

Peranan isteri dalam kesuksesan seorang suami, tidak bisa dinafikan. Hal ini berlaku juga bagi Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW ketika kembali dari gua Hira, sesaat setelah menerima wahyu pertama, mengalami kegalauan, rasa takut, bahkan sampai mengigil, seperti diriwayatkan Aisyah ra:

 

“Nabi pulang dalam keadaan gemetar dan berkata, “Zammiluni! Zammiluni!” (Selimuti aku! Selimuti aku!), lalu Khadijah menenangkan serta meyakinkan beliau bahwa Allah tidak akan menghinakan beliau.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

Khadijah ra menyelimuti Nabi hingga rasa takutnya hilang. Rasulullah SAW, setelah reda menggigilnya, bertanya: “Hai Khadijah, apa yang telah terjadi dengan-ku?” Lalu baginda menceritakan seluruh peristiwa yang dialaminya. “Aku benar-benar khawatir terhadap diriku,” katanya.

Khadijah menghibur beliau dengan kata-kata sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah: “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Engkau adalah orang yang selalu menyambung silaturahim, menolong yang lemah, memberi kepada orang yang membutuhkan, memuliakan tamu, dan membantu orang yang berada dalam kesulitan,” (HR Bukhari dan Muslim).

 

Menggigilnya baginda bukan karena suhu udara yang rendah. Namun, Rasulullah SAW sadar, wahyu yang baru diterimanya menginformasikan paradigma ketuhidan yang luar biasa. Padahal, masyarakat Quraisy gemar menyembah berhala sehingga baginda merasakan beratnya tugas yang diemban.

 

  1. Paradigma Ketauhidan

Rasulullah SAW memahami bahwa, substansi dari wahyu pertama merupakan proklamasi dari Allah SWT atas eksistensi-Nya mengenai paradigma ketauhidan. Paradigma ketauhidan menempatkan Allah SWT sebagai: Peren-cana, Pencipta, Pemilik, Penguasa, Pengelola, Pengawas, dan Hakim Pemutus segala urusan makhluk-Nya di jagat raya.

Konsekwensi logisnya, hanya Allah SWT, di mana semua makhluk bergantung hidup, berlindung, berharap, bermohon, dan menyembah. Namun, pada waktu yang sama, masyarakat Quraisy menyembah, berlindung, memohon, dan bergantung hidup ke patung-patung dan pimpinan kabilah. Bahkan, mereka biasa menilik nasib ke dukun dan paranormal.

Semua adat, tradisi, budaya, dan perilaku masyarakat Quraisy tersebut bertentangan 360 derajat dengan apa yang baru diterima baginda dari Allah SWT.

 

  1. Tugas Nabi Muhammad SAW

Wahyu pertama menugaskan Nabi Muhammad SAW untuk mengubah seluruh pola hidup dan perilaku masyarakat dunia, khususnya kaum jahiliah di Makah. Beratnya tugas tersebut yang membuat tubuh baginda, mengigil kedinginan.

 

  1. Pendidikan sebagai Program Utama

Wahyu pertama menugaskan Nabi Muhammad SAW agar semua manusia mengtauhidkan Allah SWT. Proses pengtauhidan Allah SWT dilakukan melalui program dan kegiatan pendidikan, baik secara formal, nonformal, maupun infomal (seperti yang diinformasikan dalam artikel seri kedua).

Wahyu pertama tersebut juga merupakan sumber semua ilmu di bumi yang berasal langsung dari Allah SWT. Konsekwensi logisnya, manusia hanya berguru ke Maha Guru, Allah SWT melalui perantaraan para Nabi dan Rasul yang memeroleh wahyu.

 

Simpulan:

  1. Seorang suami akan berhasil jika didukung isteri, baik menyangkut pengurusan rumah tangga, anak-anak, maupun doa bagi kesuksesan suami. Konsekwensi logisnya, kalau suami pulang dalam keadaan uring-uringan karena terkena PHK,  isteri jangan mengomeli: “abang sih, sudah kubilang dulu, jangan kerja di perusahaan itu, tapi abang bandel. Inilah jadinya.”

Isteri justeru menenangkan suami dengan suara lembut dan kata-kata harapan: “Sabar ya bang. Kan rejeki bukan ditentukan oleh perusahaan itu, tetapi oleh Allah SWT. Kita hanya diperintahkan untuk berusaha. Abang selama ini sudah berusaha dengan sungguh-sungguh. Percayalah, abang kan rajin shalat, berbudi bahasa yang baik, tentu akan ada jalan keluarnya.”

Suami akan tenang mendengar ucapan isteri tersebut. Suami lalu menyerahkan persoalannya ke Allah SWT. Suami akan memiliki motivasi baru, misalnya berwirausaha sendiri, mengandalkan pengalaman kerja sebelumnya.

 

  1. Suami yang ingin disokong penuh oleh isteri, hendaknya menikahi perempuan  sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW: “Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah yang baik agamanya, niscaya kamu akan beruntung.”(HR. Bukhari dan Muslim).

 

  1. Nabi, Rasul, Pejuang, serta Pembela Kebenaran dan Keadilan selalu mendapat tantangan. Bahkan, mereka dimusuhi. Namun, sejarah membuktikan, para nabi, rasul, pejuang, serta pembela kebenaran dan keadilan akan berhasil. Musuh dan kebatilan akan hancur. Allah SWT berfirman:

 

“Dan katakanlah (Muhammad), ‘Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.’ Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.” (QS Al Isra: 81). (Depok, 3 Ramadhan 1447H/20 Februari 2026).