PENJAJAHAN DARI LONDO BULE KE LONDO IRENG
Refleksi atas praktek membangun ketergantungan Teknologi dilembaga Pendidikan
Oleh: Junaedy Alfan
Peneliti dan Praktisi IT untuk Pendidikan dan Peradaban
Kita sering menggemakan slogan “Bangga Buatan Indonesia” dan melakukan black campaign terhadap produk asing dengan dalih kemandirian nasional. Namun, jika kita bedah lebih dalam, apakah kita benar-benar merdeka? Ataukah kita hanya mengganti wajah penjajah dari kulit putih (Londo Bule) menjadi kulit sawo matang (Londo Ireng) dengan metode eksploitasi yang justru lebih halus, sistematis, dan sulit dilawan karena dibalut rasa nasionalisme semu?
Fenomena “Drop Barang”: Warisan Mentalitas Penjajah Modern
Fakta di lapangan sejak bertahun-tahun menunjukkan pola yang konsisten dan memprihatinkan. Pemerintah atau instansi donor sering kali memberikan bantuan berupa perangkat keras canggih mulai dari laboratorium komputer, laptop, hingga peralatan IoT kepada sekolah-sekolah, termasuk pesantren.
Namun, paket bantuan tersebut hampir selalu datang tanpa paket alih teknologi yang memadai.
* Data Lapangan: Banyak laporan (termasuk sorotan media terkait bantuan Chromebook era tertentu) menunjukkan bahwa ribuan perangkat rusak dalam hitungan bulan. Mengapa? Karena penerima hanya diajari cara “menyalakan”, bukan cara “memelihara”, “memperbaiki”, atau “mengembangkan”.
* Dampaknya: Sekolah tidak memiliki SDM IT internal. Ketika ada kerusakan kecil, mereka harus memanggil vendor luar dengan biaya mahal, atau lebih parah lagi, perangkat tersebut dibiarkan menumpuk debu menjadi sampah elektronik bernilai jutaan rupiah. Ini adalah bentuk ketergantungan materiil yang diciptakan oleh ketiadaan edukasi.
Jebakan Sistem Berlangganan: LMS sebagai Alat Eksploitasi Baru
Jika dulu kita terjajah oleh impor barang fisik, kini kita terjajah oleh sistem berlangganan (subscription). Narasi “Gunakan Produk Dalam Negeri” sering kali disalahartikan sebagai “Beli Lisensi dari Perusahaan Lokal”.
Ambil contoh penerapan Learning Management System (LMS) di sekolah:
* Model Bisnis Predatori: Banyak penyedia platform pendidikan lokal menerapkan model bayar per siswa/per tahun. Bagi sekolah besar, ini mungkin terlihat wajar. Namun, bagi lembaga pendidikan Islam atau pesantren yang mengandalkan donasi dan SPP terjangkau, beban ini sangat memberatkan.
* Ketergantungan Data: Sekolah tidak memiliki kendali atas data mereka. Jika sekolah terlambat membayar, akses ditutup. Jika vendor menaikkan harga sepihak, sekolah tidak punya pilihan karena tidak ada tim IT yang bisa memindahkan sistem ke server mandiri (server lokal intranet).
* Ilusi Kemudahan: Vendor menjual “kemudahan” dengan imbalan “ketidakmampuan”. Guru dan staf dilarang belajar teknis backend karena dianggap rumit, sehingga mereka selamanya menjadi penyewa, bukan pemilik.
Ini adalah definisi baru dari Londo Ireng: Sesama bangsa sendiri yang menggunakan posisi monopolistik untuk mengeruk keuntungan dari ketidakmampuan teknis institusi pendidikan, tanpa memberikan nilai tambah berupa peningkatan kapasitas SDM.
Keprihatinan Sejak 2014: Akar Masalah adalah SDM, Bukan Alat
Sejak tahun 2014, ketika gelombang digitalisasi mulai gencar digalakkan, sudah terlihat jelas bahwa masalah utamanya bukan pada kurangnya alat, melainkan kurangnya manusia yang mengerti alat tersebut.
Institusi pendidikan, khususnya Pesantren, sering kali dianggap sebagai pasar potensial yang “mudah diatur” karena minimnya literasi IT. Mereka ditawari solusi instan yang sebenarnya menciptakan masalah jangka panjang:
1. Biaya operasional membengkak akibat langganan.
2. Tidak ada aset teknologi yang dimiliki (semua sewa).
3. Kerentanan tinggi terhadap gangguan teknis karena ketergantungan pada pihak ketiga.
Solusi Nyata: Elfan Ai Academy dan Filosofi “Alih Teknologi”
Menyadari lubang hitam ini, Elfan Ai Academy hadir bukan sekadar sebagai lembaga kursus, melainkan sebagai gerakan pembebasan teknologi. Proyeksi kami jelas: Menciptakan SDM IT yang mampu mem-backup kebutuhan IT lembaga Pendidikan Islam secara mandiri.
Mengapa Model 6 Bulan di Elfan Ai Academy Berbeda?
* Fokus pada Penguasaan, Bukan Sekadar Penggunaan: Kami tidak mengajarkan guru hanya cara klik tombol di LMS. Kami mengajarkan bagaimana sistem itu bekerja, bagaimana melakukan maintenance, bagaimana mengamankan data, dan bagaimana mengembangkan modul sendiri.
* Kemandirian Institusi: Lulusan kami diharapkan mampu menjadi tulang punggung IT di pesantren/sekolah mereka. Dengan adanya satu orang yang kompeten, sekolah tidak perlu lagi membayar lisensi mahal ke vendor luar untuk hal-hal dasar. Mereka bisa membangun server lokal, membuat LMS sendiri sesuai kebutuhan dan keunikan setiap lembaga. Menguasai hilir hingga hulu dan bisa mandiri total dengan biaya sangat minim,
* Efisiensi Jangka Panjang: Investasi 6 bulan untuk mencetak minimal 2 SDM ahli IT jauh lebih murah dan berkelanjutan dibandingkan membayar langganan sistem selama 10 tahun yang uangnya mengalir keluar tanpa meninggalkan aset keahlian.
Saatnya Bangun Kesadaran
Mari kita hentikan narasi palsu bahwa “membeli produk lokal” sama dengan “mandiri”. Kemandirian sejati terjadi ketika sebuah lembaga memiliki kapasitas intelektual untuk mengelola, memelihara, dan mengembangkan teknologinya sendiri.
Jangan biarkan pesantren dan sekolah kita menjadi sapi perahan bagi korporasi teknologi lokal yang bermental penjajah. Jangan biarkan anggaran pendidikan habis hanya untuk membayar “sewa” teknologi yang seharusnya bisa kita kuasai.
Elfan Ai Academy menawarkan jalan keluar: Dari konsumen pasif menjadi produsen aktif. Dari terjajah Londo Bule maupun Londo Ireng, menjadi bangsa yang benar-benar merdeka secara teknologi.
Sudah saatnya bertindak. Sudah saatnya mendidik manusia, bukan hanya membeli barang.
Barakallah fikum.

