Penggagas atau Pencetus Istilah Halal Bi Halal

March 24, 2026

Tentu orang yang mengerti dan menguasai bahasa arab baik gramatika dan sastranya.
Dan kemudian Halal Bi Halal / HBH menjadi tradisi yang dirayakan setiap tahun oleh pemerintah pusat hingga pemerintahan desa dan diikuti seluruh lapisan masyarakat bangsa Indonesia.

Tentu penggagas/ pencetusnya melibatkan pejabat tertinggi pemerintahan RI yaitu :
Presiden RI Ir Sokarno. Seperti dituturkan Almaghfurlah KH Fuad Hasyim, Buntet Cirebon.

Pada acara Halal Bi Halal di Ponpes Mambaul Ulum, Tanjung Muli Purbalingga,
12 Desember 2002 Masehi atau 9 Syawal 1423 Hijriyah bahwa Penggagas atau Pencetus istilah Halal Bi Halal / HBH adalah KH Wahab Hasbullah.

Sesungguhnya inilah cerita yang terjadi (fakta sejarah). Setelah Negara Republik Indonesia merdeka pada tahun 1945, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa.

Para elite politik saling curiga dan bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum.
Sementara pemberontakan terjadi di mana mana diantaranya DI/ TII / PKI
(Madiun Affair)

Lalu pada tahun 1948 di pertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno mengundang KH Wahab Hasbullah ke Istana Negara untuk dimintai pendapat dan saran dalam mengatasi situasi politik yang kurang sehat itu.

Pada waktu itu jabatan KH Wahab Hasbullah Anggota Dewan Pertimbangan Agung RI,
Kyai Wahab kemudian menyarankan kepada Bung Karno agar mengadakan acara Silaturahim dengan mengundang elite yang bertikai, apalagi sebentar lagi hari raya idul fitri, seluruh umat Islam disunnahkan bersilaturahim lalu Bung Karno berkomentar:
“Silaturahim itu kan biasa,”

“Saya ingin istilah yang lain”
“Itu sih gampang”, kata Kyai Wahab yang memang sahabat karib Bung Karno sejak sama-sama nyantri di Markas Haji Oema Said (HOS) Tjokroaminoto di Surabaya.

Begini, para elite politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling curiga dan saling menyalahkan, padahal saling curiga dan saling menyalahkan itu dosa. Dan dosa itu haram.

Supaya mereka tidak punya dosa (haram) maka harus dihalalkan, Mereka harus duduk satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan, sehingga silaturahim nanti kita pakai istilah : HALAL BI HALAL/ HBH, saran Kyai Wahab, seperti ditirukan KH Fuad Hasyim yang semasa hidupnya sering bertemu dengan KH Wahab.

Dari saran Kyai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada hari raya idul fitri 1948 M mengundang semua tokoh nasional dan elite politik ke Istana Negara untuk
ber-Halal Bi Halal.
Tentu saja mereka datang semua, bukan saja karena yang mengundang Presiden, tetapi lebih dari itu ingin tahu apa itu Halal Bi Halal. Akhirnya mereka duduk satu meja saling maaf memaafkan.

Inilah babak baru untuk menggalang kekuatan dan persatuan bangsa. Kyai Wahab yang kala itu duduk sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Agung RI bersama dr Setia Budi (Douwes Dekker) dan Ki Hadjar Dewantara, juga hadir dalam acara Halal Bi Halal itu, ujar KH Fuad Hasyim.

Sejak saat itulah, instansi instansi pemerintah mulai dari pusat hingga desa serentak mengadakan Halal Bi Halal / HBH. Yang kemudian diikuti pula oleh masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama.

Bung Karno bergerak lewat Instansi pemerintah, sedangkan Kyai Wahab menggerakan warga masyarakat dari bawah. Apalagi waktu itu Kyai Wahab baru memimpin Rais Aam NU, menggantikan Rais Akbar Almaghfurlah KH Hasyim Asy’ari
yang wafat pada tanggal 7 Ramadhan 1366 H atau 25 juli 1947.

Maka jadilah Halal Bi Halal sebagai kegiatan rutin tahunan dan mentradisi sebagai budaya khas Indonesia sampai saat ini dan Insya Allah akan berlangsung terus hingga akhir zaman.

Gus Aam Wahib Wahab, Putra Almaghfurlah KH Wahib Wahab, Mantan Menteri Agama RI dan Cucu Inisiator, Pendiri dan Penggerak NU KH Wahab Hasbullah.