MANUSIA TIDAK BOLEH SOMBONG.
HANYA ALLAH SWT YANG BERHAK SOMBONG
Abdullah Hehamahua
Kumasuki ruang UGD sekitar pukul 14.00, 31 Oktober 2025 di salah satu rumah
sakit swasta, daerah Cisalak, Depok. Dokter pun segera melakukan tindakan
terhadap diriku.
Tetiba, sekitar sejam kemudian, terdengar tangis serorang isteri pasien sambil
memanggil perawat. Dokter jaga dan para perawat bertindak cepat. Rupanya pasien
tersebut terkena serangan jantung. Pasien itu diletakkan di sampingku yang hanya
dibatasi gorden. Olehnya, saya dapat mendengar dan menyaksikan tindakan yang
dilakukan dokter dan perawat. Isterinya tetap menangis.
Kuingat salah satu pesan Nabi Muhammad SAW, bahwa, sesama muslim yang
meski tidak kenal, jika saling mendoakan, maka doanya diizabah Allah SWT. Saya
pun berdoa, “Ya Allah jika Engkau telah tetapkan ajal pasien ini sekarang, maka
mudahkan sakratul mautnya. Ampunilah dosa-dosanya, terima amal ibdahnya, dan
masukkan beliau ke dalam surga-Mu.
Masyaa Allah !!!. Sekitar sejam kemudian, kudengar abangnya mengucapkan
“inna lillahi wa inna ilayhi raji’un.” Sayangnya, keluarga yang berada di sekeling pasien
tersebut tidak menuntunnya untuk mengucapkan kalimah “la ilaha illalah.” Padahal,
Rasullulah SAW bersabda, barang siapa yang mengakhiri ajalnya dengan kalimah “la
ilaha ilallah, maka dia masuk surga.
Besok paginya, di ruangan perawatan, dokter yang lain memeriksa kondisiku.
Ternyata, dokter itu baru sembuh dari demam. Isteriku yang ada di samping, spontan
berkata, “dokter juga sakit.?” Beliau hanya tersenyum kecil. Kedua peristiwa ini
memotivasiku untuk menulis artikel ini.
Manusia Tidak Boleh Sombong
Aula Institut Islam Memba’ul ‘Ulum (IIM), Surakarta, 13 Oktober 2025, penuh
dengan ratusan mahasiswa. Purek, dan belasan dosen, juga hadir. Mereka
menghadiri acara bedah salah satu bukuku, “Indonesia Berkah 2045.” Saya, dalam
ceramah, terlanjur mengatakan, “saya sekarang sudah berumur 78 tahun, tapi bisa
1keliling Sumatera dan Jawa dengan mengenderai bus berhari-hari.” Bahkan,
kukatakan, “saya bisa ceramah dari pagi sampai petang.”
Maksud ucapanku tersebut sebagai motivasi bagi mahasiswa agar mereka serius
belajar dan beraktivitas agar bisa menjadi sarjana yang berkapasitas ulul albab.
Namun, Allah SWT langsung menegurku dengan satu sentilan kecil “kun fayakuun”
(jadilah, maka jadilan ia) (QS Yasin: 82).
Isteri menjemputku di stasiun kereta api Gambir, Jakarta, menuju rumah di Depok.
Saya mulai menggigil selama di dalam mobil. Saya akhirnya masuk rumah sakit
sepekan kemudian dan dirawat selama 18 hari. Masyaa Allah, betapa dahsyatnya
kekuasaan Allah SWT.
Kusadari, usiaku mencapai 78 tahun itu karena iradah dan rahmat Allah SWT. Kusadari,
ilmu yang kumiliki selama ini hanya atas iradah dan rahmat Allah SWT. Kusadari, kemampuan
menumpang bis berhari-hari di Sumatera dan Jawa karena iradah dan rahmat Allah SWT.
Simpulannya, saya, pembaca, manusia, bahkan seluruh makhluk di alam ini tidak boleh
sombong. Sebab, hanya Allah SWT Yang berhak Sombong. (bersamung) (Depok,2 Desember
2025)

