Manusia Tidak Boleh Sombong Hanya Allah SWT Yang Berhak Sombong

December 2, 2025

MANUSIA TIDAK BOLEH SOMBONG.

HANYA ALLAH SWT YANG BERHAK SOMBONG

Abdullah Hehamahua

Kumasuki ruang UGD sekitar pukul 14.00, 31 Oktober 2025 di salah satu rumah

sakit swasta, daerah Cisalak, Depok. Dokter pun segera melakukan tindakan

terhadap diriku.

Tetiba, sekitar sejam kemudian, terdengar tangis serorang isteri pasien sambil

memanggil perawat. Dokter jaga dan para perawat bertindak cepat. Rupanya pasien

tersebut terkena serangan jantung. Pasien itu diletakkan di sampingku yang hanya

dibatasi gorden. Olehnya, saya dapat mendengar dan menyaksikan tindakan yang

dilakukan dokter dan perawat. Isterinya tetap menangis.

Kuingat salah satu pesan Nabi Muhammad SAW, bahwa, sesama muslim yang

meski tidak kenal, jika saling mendoakan, maka doanya diizabah Allah SWT. Saya

pun berdoa, “Ya Allah jika Engkau telah tetapkan ajal pasien ini sekarang, maka

mudahkan sakratul mautnya. Ampunilah dosa-dosanya, terima amal ibdahnya, dan

masukkan beliau ke dalam surga-Mu.

Masyaa Allah !!!. Sekitar sejam kemudian, kudengar abangnya mengucapkan

“inna lillahi wa inna ilayhi raji’un.” Sayangnya, keluarga yang berada di sekeling pasien

tersebut tidak menuntunnya untuk mengucapkan kalimah “la ilaha illalah.” Padahal,

Rasullulah SAW bersabda, barang siapa yang mengakhiri ajalnya dengan kalimah “la

ilaha ilallah, maka dia masuk surga.

Besok paginya, di ruangan perawatan, dokter yang lain memeriksa kondisiku.

Ternyata, dokter itu baru sembuh dari demam. Isteriku yang ada di samping, spontan

berkata, “dokter juga sakit.?” Beliau hanya tersenyum kecil. Kedua peristiwa ini

memotivasiku untuk menulis artikel ini.

Manusia Tidak Boleh Sombong

Aula Institut Islam Memba’ul ‘Ulum (IIM), Surakarta, 13 Oktober 2025, penuh

dengan ratusan mahasiswa. Purek, dan belasan dosen, juga hadir. Mereka

menghadiri acara bedah salah satu bukuku, “Indonesia Berkah 2045.” Saya, dalam

ceramah, terlanjur mengatakan, “saya sekarang sudah berumur 78 tahun, tapi bisa

1keliling Sumatera dan Jawa dengan mengenderai bus berhari-hari.” Bahkan,

kukatakan, “saya bisa ceramah dari pagi sampai petang.”

Maksud ucapanku tersebut sebagai motivasi bagi mahasiswa agar mereka serius

belajar dan beraktivitas agar bisa menjadi sarjana yang berkapasitas ulul albab.

Namun, Allah SWT langsung menegurku dengan satu sentilan kecil “kun fayakuun”

(jadilah, maka jadilan ia) (QS Yasin: 82).

Isteri menjemputku di stasiun kereta api Gambir, Jakarta, menuju rumah di Depok.

Saya mulai menggigil selama di dalam mobil. Saya akhirnya masuk rumah sakit

sepekan kemudian dan dirawat selama 18 hari. Masyaa Allah, betapa dahsyatnya

kekuasaan Allah SWT.

Kusadari, usiaku mencapai 78 tahun itu karena iradah dan rahmat Allah SWT. Kusadari,

ilmu yang kumiliki selama ini hanya atas iradah dan rahmat Allah SWT. Kusadari, kemampuan

menumpang bis berhari-hari di Sumatera dan Jawa karena iradah dan rahmat Allah SWT.

Simpulannya, saya, pembaca, manusia, bahkan seluruh makhluk di alam ini tidak boleh

sombong. Sebab, hanya Allah SWT Yang berhak Sombong. (bersamung) (Depok,2 Desember

2025)

𝙈. 𝙉𝙖𝙩𝙨𝙞𝙧, “𝙈𝙚𝙧𝙚𝙗𝙪𝙩 𝙏𝙖𝙛𝙨𝙞𝙧 𝙋𝙖𝙣𝙘𝙖𝙨𝙞𝙡𝙖” : 𝙈𝙚𝙣𝙪𝙟𝙪 𝙆𝙚𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙄𝙨𝙡𝙖𝙢 𝙋𝙤𝙡𝙞𝙩𝙞𝙠 𝙙𝙞 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖 𝙈𝙚𝙣𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜 ?

𝙈. 𝙉𝙖𝙩𝙨𝙞𝙧, “𝙈𝙚𝙧𝙚𝙗𝙪𝙩 𝙏𝙖𝙛𝙨𝙞𝙧 𝙋𝙖𝙣𝙘𝙖𝙨𝙞𝙡𝙖” : 𝙈𝙚𝙣𝙪𝙟𝙪 𝙆𝙚𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙄𝙨𝙡𝙖𝙢 𝙋𝙤𝙡𝙞𝙩𝙞𝙠 𝙙𝙞 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖 𝙈𝙚𝙣𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜 ? 𝘼𝙝𝙢𝙖𝙙