Indonesia:Tiada Hari Tanpa Bencana

December 2, 2025

INDONESIA: TIADA HARI TANPA BENCANA

Abdullah Hehamahua

Erupsi dahsyat terjadi di beberapa gunung merapi di Indonsia. Gunung Lewotobi

Laki-laki di NTT kembali erupsi, (22 September 2025) sebanyak 22 kali. Dampak

negatifnya, 7.959 warga terpaksa mengungsi. Sebelumnya, banjir bandang melanda

Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat, 26 Mei 2025. Bencana ini mengorbankan satu

orang dan puluhan rumah terendam.

Hal serupa terjadi di Jakarta dan Tangerang. Luapan kali Ciliung, Jakarta, 5 – 6

Juli 2025 menyebabkan 53 RT tergenang air. Banjir di Tangerang, 6 Juli 2025

mengakibatkan 6.145 keluarga yang terdampak banjir, khususnya warga di

Kecamatan Cipondoh dan Ciledug. Pada waktu bersamaan (6 Juli 2025), banjir

bandang dan longsor melanda sejumlah desa di Bogor. Total 18 kecamatan dan 33

Desa/Kelurahan terdampak banjir. Dilaporkan 3 orang meninggal dunia.

Dahsyatnya, bencana alam secara beruntun melanda Sumatera Utara, Aceh, dan

Sumatera Barat.

Bencana Sumatera Utara

KPK, (Juni 2025) menahan Kadis PUPR Sumut, bawahan Boby Nasution dan 4

tersangka lain terkait korupsi proyek jalan. Masyarakat, khususnya aktifis dan LSM

anti Korupsi beberapa kali berunjuk rasa di KPK. Mereka menuntut KPK memroses

Boby Nasution. Namun, KPK tetap “budek” mendengar tuntutan tersebut.

Tetiba, bulan ini (November), Boby Nasution ditersangkakan oleh alamnya sendiri.

BNPB menyebutkan, sampai tanggal 30 November 2025, 96 orang meninggal dan 68

orang hilang. Apakah KPK akan memroses Boby Nasution.? “Tanyatakan rumput

yang bergoyang,’ kata Ebiet G Ade dalam salah satu lirik lagunya.

Bencana Aceh

Aceh, bukan hanya terkenal karena masuk dalam khilafah Islam masa lalu, tapi

juga karena bencana alam berupa tsunami, 26 Desember 2004. Bencana ini

mengorbankan lebih dari 200.000 nyawa. Tahun ini (2025), bencana alam terjadi di

provinsi Aceh yang mengorbankan 13 nyawa dan 9 orang dinayatakan hilang.

Bencana Sumatera Barat

Gunung Merapi di Sumatera Barat kembali mengeluarkan erupsi (4 November

2025). Korban nyawa tercatat, 85 orang dan 90 jiwa dinyatakan hilang. Sumatera

1Barat, (30 September 2009), terjadi gempa bumi yang dahsyat. Korban nyawa, 1.117

orang. Bahkan, Desa Lubuk Laweh, di wilayah Nagari Tandikek, Kecamatan

Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman, tertimbun dengan seluruh penduduknya.

Penyebabnya, kemaksiatan yang dilakukan penduduk desa tersebut.

Bencana Alam sebagai Teguran Allah SWT

Pejabat eksekutif, legislative, yudikatif, BUMN/BUMD, bahkan para aktivis selalu

mengatakan, bencana alam yang terjadi karena persoalan iklim, curah hujan yang

tinggi, salah urus, dan persoalan teknis operasional lainnya. Boleh dibilang, tidak ada

yang menghubungkan becana tersebut dengan campur tangan dari “Langit.” Padahal,

menurut sila pertama Pancasila dan pasal 29 UUD 45, Indonesia adalah negara

tauhid. Konsekwensi logisnya, segala aspek kehidupan warganya, tidak terlepas dari

hubungannya dengan Allah SWT. Sebab, Allah SWT berfirman: “Telah tampak

kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya

Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar

mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Aruum: 41).

Ayat ini dengan tegas menyatakan, manusialah yang mengakibatkan segala

bentuk bencana alam tersebut. Ayat ini juga merupakan teguran, cobaan, bahkan

azab dari Allah SWT karena manusia tidak mengikuti perintah-Nya. Bukankah Al

Qur’an mengisahkan banjir Nuh yang menenggelamkan seluruh bumi di wilayah

tersebut. Hanya Nabi Nuh dan puluhan pengikutnya serta setiap pasang hewan yang

ada waktu itu diselamatkan dalam kapal Nabi Nuh. Allah SWT berfirman:

“Lalu Kami membukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang

tercurah. Kami pun menjadikan bumi menyemburkan banyak mata air. Maka,

berkumpullah semua air itu sehingga (meluap dan menimbulkan) bencana yang telah

ditetapkan”. (QS Al Qomar: 11 – 12).

Wajib kembali ke Al-Qur’an dan As-Sunnah

Umat manusia yang ada di bumi sekarang ini, termasuk bangsa Indonesia adalah

keturunan Nabi Nuh dan pengikut setianya. Kisah Nabi Nuh tersebut pernah terjadi di

Indonesia. Sebab, tanggal 17 April 1955, sebuah dusun di Jawa Tengah, Legetang di

Banjarnegara tertimbun oleh gunung Pengamun-amun. Padahal, gunung ini berada

sekitar dua kilometer dari dusun Legetang. Penyebabnya, warganya terlibat perjudian,

minum arak, perzinahan, dan kemaksiatan lainnya.. Hari ini, kita dapat meyaksikan

papan nama bertuliskan, “di sini dulu ada dusun Legetang.“

Konsekwensi logisnya, jika bangsa ini tidak kembali ke ajaran-ajaran-Nya, tidak

mustahil, pada waktu mendatang (tahun 2050.?), Indonesia hanya tinggal nama.

Bahkan, buku-buku Sejarah di Asean menyebutkan, pernah ada negara yang

bernama Indonesia. Tragis !!! (Depok, 1 Desember 2025).

𝙈. 𝙉𝙖𝙩𝙨𝙞𝙧, “𝙈𝙚𝙧𝙚𝙗𝙪𝙩 𝙏𝙖𝙛𝙨𝙞𝙧 𝙋𝙖𝙣𝙘𝙖𝙨𝙞𝙡𝙖” : 𝙈𝙚𝙣𝙪𝙟𝙪 𝙆𝙚𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙄𝙨𝙡𝙖𝙢 𝙋𝙤𝙡𝙞𝙩𝙞𝙠 𝙙𝙞 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖 𝙈𝙚𝙣𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜 ?

𝙈. 𝙉𝙖𝙩𝙨𝙞𝙧, “𝙈𝙚𝙧𝙚𝙗𝙪𝙩 𝙏𝙖𝙛𝙨𝙞𝙧 𝙋𝙖𝙣𝙘𝙖𝙨𝙞𝙡𝙖” : 𝙈𝙚𝙣𝙪𝙟𝙪 𝙆𝙚𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙄𝙨𝙡𝙖𝙢 𝙋𝙤𝙡𝙞𝙩𝙞𝙠 𝙙𝙞 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖 𝙈𝙚𝙣𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜 ? 𝘼𝙝𝙢𝙖𝙙