*NASIHAT PAGI*
Senin, 8 Juni 2026 M/22 Dzulhijjah, 1477 H.
*(Badruddin H Subky)*
Pondok Pesantren Tahfidz & Tafsir Al-Badar, Cilendek Barat, Kota Bogor, Jawa Barat.
*KRISIS KADERISASI ULAMA & DIAM ULAMA DI ERA DIGITAL*
بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم.
فَإِن َنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تأْوِيلً ْ
_Jika kamu berbeda pendapat tentang suatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya._*(QS. An-Nisa 4: 59).*
Kini, kita dihadapkan dengan kenyataan pahit yang sangat mengkhawtirkan sampai menyayat hati, karena semakin langkanya ulama sejati. Satu persatu ulama-ulama yg lurus, yang sudah menjadi pilar umat Islam telah wafat. Di sisi lain, kepedulian public terhadap kaderisasi ulama semakin lenyap ditelan arus gitalisasi. Tak bisa dielakan diberbagai lembaga pendidikan Islam, kini sudah tak peduli lagi akan kaderisasi ulama. Diperparah lagi, – selain ponondok pesantren yg seharusnya menjdi dapur kaderisai ulama-, kini diberbeberapa daerah di Indonesia sedang diterpa isu negative, karen ada sebagian oknum kyai/gus yg telah berani menoadi anak-anak santrinya.
Padahal, kehadiran ulama di muka bumi ini sangat penting. Mereka adalah pewaris para nabi _(warasatul anbiya)_ yang bertugas menuntun umat dan memperbaiki akhlak dan akidah Islam dari hantaman fitnah akhir zaman.
Namun, di tengah zaman yang kini semakin rumit, malah sebagian ulama yang adapun, dirasa kurang taktis dan tegas dalam merespons persoalan umat. Jika kerisis keulamaan ini sudah tidak diperhatikan lagi, sedangkan problematika umat semakin menyeret ke posisi yg sangat mengkahatirkan dan realitasnya sudah di luar kendali logika sehat, maka kita wajib mengembalikan semua poblemaikanya kepada tuntunan tertinggi, yaitu Al-Quran dan Sunnah disertai pendapat para ulama yang _khasyyatullah_ (Takutnya hanya kepada AllahST).
*PIJAKAN URGENSI KEHADIRAN ULAMA*
*1. Karakter Ulama yang Ulama*
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
_Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahapengampun._*(QS. Fatir 35: 28)*
*2. Kedudukan Teologis Ulama*
إِنَّ اْلعُلَمَاءُ هُمْ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ. مَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
_Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Siapa yang mengambil ilmu darinya, maka ia telah mengambil bagian keuntungan yang sangat banyak._*(Sahih Bukhari, Kitab al-Ilm, Bab al-Ilm Qabla al-Qauwl wa al-Amal, Juz, 1, hlm. 22)*
*3. Fungsi Sosial Ulama*
لَوْلاَ الْعُلَمَاءُ لَصَارَ النَّاسُ مِثْلُ الْبَهَائِمِ أَيْ أَنَّهُمْ بِالتَّعْلِيْمِ يَخْرُجُوْنَ النَّاسَ مِنْ حَدِّ الْبَهِيْمَةِ إِلَى حَدِّ اْلإِنْسَانِيَّةِ
_Seandainya tidak ada ulama, niscaya manusia akan menjadi seperti binatang. Artinya, melalui pengajaran dan pendidikan ulama, manusia terbimbing bisa keluar dari tabiat hewani utk menuju derajat kemanusiaan yang mulia._*(Imam Ghazali, Ihya Ulumuddin, Juz 1, hlm. 7)*
*4. Landasan Al-Quran,* Firman Allah swt:
فَإِن َنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تأْوِيلً ْ
_Maka jika kamu berselisih dalam suatu perakara (yang sulit diselesaikan) maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya_.*( QS. An-Nisa 4: 59).*
Ada tiga kalimat penting yg perlu di jelaskan dari ayat di atas:
1]. *Kalimat*: فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ Menurut Ibu Katsir, sbb:
مَهْمَا اِخْتَلَفْتُمْ فِيْهِ مِنْ أُصُوْلِ الدِّيْنِ وَفُرُوْعِهِ، فَرُدُّوا الْحُكْمَ فِي ذَلِكَ إِلَى كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِهِ
_Perkara apa saja yang kamu perselisihkan, baik dalam masalah pokok agama (ushul) maupun cabang-cabangnya (furu’), maka kembalikanlah keputusan hukumnya kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya._*(Ibnu Katisir, Juz 2, hlm. 345)*
Saat ini, umat Islam mudah terpecah (karena berbagai fitnah terhadap habaib dsb) dan kehilangan arah yg benar karena jumlah ulama yang benar-benar ulama yg takutnya hanya kepada Allah *_(khasyyah)_* dan mendalam ilmunya *_(rasikhiin)_* tidak sebanding dengan jumlah populasi umat Islam di dunia khususnya di Indonesia.
Kondisi ini diperparah lagi oleh fenomena di lapangan—sebagaimana dianalisis oleh KH. Khaer Affandy, Tasikmalaya Jabar, beberapa tahun lalu—di mana banyak ulama/kyai saat ini yang tidak lagi mau mendidik anak kandungnya menjadi ulama/kyai. Malah sebagian diantara mereka cenderung masif hanya mengandalkan jalur instan ke ilmu dunia. Akibatnya, pesantren kosong dari santri yang mau menjadi ulama, sehingga secara terus menerus umat Islam tidak/belum mampu menjawab tantangan kerisis ulama.
2].*Kalimat*: فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
Menrut Imam Mujahid dan yag lainnya (ulama salaf), sbb:
إِلَى كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِهِ. وَهَذَا أَمْرٌ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأَنَّ كُلَّ شَيْءٍ يَتَنَازَعُ فِيْهِ النَّاسُ أَنْ يُرَدَّ فِيْهِ إِلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: {وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ}، فَمَا حُكِمَ بِهِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَشَهِدَ لَهُ بِالصِّحَّةِ فَهُوَ الْحَقُّ، وَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ؟
_Kembalikanlah kepada Al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya._
Hal ini adalah perintah dari Allah SWT bahwa segala hal yang diperselisihkan manusia wajib dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana firman-Nya:; Segala apa pun jika kamu berselisih, maka putusannya harus diserahkan kepada Allah’. _Maka apa saja yang diputuskan oleh Al-Qur’an dan Sunnah sahihah, itulah kebenaran. Dan tidak ada setelah kebenaran melainkan kesesatan_. *(Ibnu Katsir, Juz 2, hlm. 345. Jalalain, Juz 1, lm. 115)*
Kerena ada kewajiban mengembalikan krisis ulama kepada Allah dan Rasul-Nya maka berarti para pakar pendidikan Islam punya kewajiban syar’i untuk merombak total strategi kaderisasi ulama, khsusnya kembali kepada system pondok pesantren (apapun nama lemabaga pendidikan Islam-nya), karena system pendidikan pesantren sudah teruji keberhasilannya dalam mencetak ulama-ulama militant yg _khakhyatullh_. Kita tidak bisa lagi bertumpu harapan pada metode instan atau kompromi yang kabur. Apa lagi ulama masa depan harus mampu berdakwah diera digital secara luas, dan berani menyuarakan kebenaran, sebagai cahaya penerang (_Sirajan Munira_). Bukan justru mengkhianati amanah ilmunya.
3). *Kalimat:* ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Selanjutnya ibnu Kasir memaparkan solusi efektif yang paling aman dan selamat dari persoalan umat Islam, sbb:
التَّحَاكُمُ إِلَى كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِهِ، وَالرُّجُوعُ إِلَيْهِمَا فِي فَصْلِ النِّزَاعِ خَيْرٌ، {وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا} أَيْ: أَحْسَنُ عَاقِبَةً، وَأَحْسَنُ مَرَدًّا فِيْمَا يَقْدَمُوْنَ عَلَيْهِ مِمَّا يَنْتَجِعُوْنَ فِيهِ
Maksudnya:_Berhukum kepada kitabullah dan sunnah Rasul-Nya serta kembali kepada keduanya di saat terjadi perselisihan, adalah sebuah kebaikan baik (khair). Dan kalimat ‘paling baik akibatnya,’ berarti paling indah kesudahannya, paling agung pahalanya, dan selamat tempat kembalinya._ *(Ibnu Katsir, Juz 2, hlm. 346)*
Jika bangsa. Indonesia ini khususnya umat Islam dan para ulama, kyai/gus dan aktivis muslim, mau mengembalikan sistem kaderisasi ulama ke jalan Quran dan Sunnah, maka akibatnya akan baik (_Ahsanut Ta’wila)_ yang akan dirasakan akibat positifnya adalah bertahannya peradaban Islam dan system kehidupan sosial kemanusiaan yang penuh berkah. Sebaliknya, jika diabaikan, maka umat Islam tingal menunggu hancurnnya dan di akhir zaman Islampun hanya tinggal nama, dan simbu-simbul keIslaman juga hanya akan jadi kenangan .
Sesuai peringatan dari Imam Al-Ghazali saat beliau mengutip perkataan Imam Hasan Basri:
*Laulal ilmul ulamaau lahakal jaahhiluna*.
_Seandainya tidak ada ilmu para ulama, niscaya hancurlah orang-orang bodoh._*(Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin,Juz 1, hlm. 7)*.
*Wa-Lalulal ulamau lahalakan-nasu kal-bahaaimi.* _Tanpa bimbingan ulama, moral manusia akan merosot jatuh ke derajat binatang_.
*OTOREFEKSI ULAMA MODERN & BAHAYA SIKAP DIAM*
Ulama adalah memikul mandat kenabian untuk menjaga akidah umat Islam dari kerusakan moral, terutama di era digital yg penuh fitnah ini:
سَتَكُوْنُ فِتَنٌ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيْهَا مُؤْمِنًا وَيَمْسِى كَافِرًا إِلاَّ مَنْ أَحْيَاهُ اللهُ بِالْعِلْمِ
_Kelak akan terjadi fitnah (yang menakutkan). Di pagi hari seseorang masih beriman, namun disore harinya ia telah kafir, kecuali orang (ulama) yang hidupnya dijaga oleh Allah dengan mengamalkan ilmunya._*(HR. Al-Dailay, Juz 2, hlm. 334, No. 3478)*
Namun, kenyataan hari ini, sering kali kita diperlihatkan dengan potret ulama-ulama yang tidak lantang menjalankan _amar ma’ruf nahi munkar._ Kurangnya ketegasan para dai/ para ulama saat ini, telah dirasakan langsung oleh penulis ketika berdialog dalam suatu ruangan (peniltaian) dengan pengurus MUI Pusat: Menurutnya, penyampaian kebenaran _(al-haq)_ kepada pihak penguasa saat ini, cenderung bias dan penuh kompromi. Dan
Ketika hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas dan tatanan sosial dibolak-balik, maka ulama tidak boleh bungkam dan menjadi setan bisu (_saitanun-akhrash)_ demi mengincar jabatan atau sekadar aman secara birokrasi. Diamnya pemegang otoritas ilmu para ulama terhadap kemaksiatan kaum structural, maka bisa mengundang azab kolektif dari Allah SWT sebelum ajal menjemput. Dan disebutkan dalam sebuah hadis Rasuluallh saw:
مَا مِنْ رَجُلٍ يَكُونُ فِي قَوْمٍ يَعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعْصِيَةِ وَيَقْدِرُونَ أَنْ يُغَيِّرُوا عَلَيْهِ فَلَا يُغَيِّرُونَ إِلَّا أَصَابَهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ قَبْلَ أَنْ يَمُوتُوا
_Tidaklah seseorang berada di suatu kaum yang melakukan kemaksiatan di tengah-tengah mereka, sedangkan kaum tersebut mampu mengubahnya, namun mereka tidak mau mengubahnya, melainkan Allah akan menimpakan siksaan kepada mereka sebelum mereka mati_*(HR. Abu Dawud, No. 4339 & Ibnu Majah, No. 4009)*
*KESUCIAN ILMU DALAM ATSAR*
Umat Islam yang mendambakan kejayaan di dunia dan keselamatan di akhirat, maka wajib menjaga diri dan lembaga pendidikan Isalam, khusunya pondok pasntren dari segala hal yang haram dan syubhat.
وَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ السَّاجِيُّ : خَمْسُ خِصَالٍ بِهَا تَمَامُ الْعِلْمِ ، وَهِيَ : مَعْرِفَةُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ، وَمَعْرِفَةُ الْحَقِّ وَإِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ ، وَالْعَمَلُ عَلَى السُّنَّةِ ، وَأَكْلُ الْحَلَالِ ، فَإِنْ فُقِدَتْ وَاحِدَةٌ لَمْ يُرْفَعِ الْعَمَلُ
Abu Abdullah As-Saji (Said bin Yazid) berkata: _“Ada lima perkara yang menyempurnakan ilmu: (1) Mengenal Allah SWT, (2) Mengenal kebenaran, (3) Ikhlas beramal, (4) Mengamalkan Sunah-sunnah Nabi, dan (5) Memakan harta yang halal. Jika hilang salah satunya saja, maka amal ibadah, tidak akan diangkat ke langit (tidak diterima oleh Allah)._
قَالَ سَهْلُ : وَلَا يَصُحُّ أَكْلُ الْحَلَالِ إِلَّا بِالْعِلْمِ ، وَلَا يَكُونُ الْمَالُ حَلَالًا حَتَّى يَصْفُوَ مِنْ سِتِّ خِصَالٍ : الرِّبَا وَالْحَرَامُ وَالسُّحْت، وَهُوَ اسْمٌ مُجْمَلٌ – وَالْغُلُولُ وَالْمَكْرُوهُ وَالشُّبْهَةُ
Imam Sahl berkata:_Tidak sah memakan makanan yang halal tanpa didasari ilmu. Dan harta belum bisa dikatakan halal dan bersih, kecuali meninggalkan dari yg enam hal: (1) Riba, (2) Perkara haram, (3) Suht (harta kotor/suap), (4) Ghulul (khianat/penggelapan), (5) Perkara makruh, dan (6) Syubhat._ (*Tafsir Al-Qurtubi, Juz 2, hlm. 208)*
*KESIMPULAN*
1.Para ulama melalui pendidikan pesantren dan lembaga pencetak ulama lainnya, wajib mengkader ulama, dan wajib dijauhkan dari dana syubhat atau cara-cara batil. Sumber yang halal akan melahirkan generasi penerus yang berkah dunia-akhirat.
2.Kurangnya ketegasan ulama saat menghadapi kezaliman saat ini, harus menjadi bahan koreksi bersama. Karena itu kita harus serius mencetak kader ulama agar ilmu-ilmu keislaman tidak hilang dari muka bumi. Jika umat Islm lengh maka bisa jadi umat Islam dipimpin oleh bangsa lain dan atau dipimpin oleh orang-orang bodoh.
3.Ulama sejati, tidak boleh diam atau berkompromi dengan kemaksiatan atau dari pejabat perintah yg jahat dan atau dari ulama penjilat demi jabatan. Sikap diam hanya akan menjerumuskan masyarakat dan umat Islam ke dalam kehancuran moral dan dapat mengundang azab Allah SWT.
Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan kekuatan lahir batin, melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita, kepada para pemimpin kita, para ulama kita dan seluruh umat Islam, serta semoga Allah SWT menuntun kita semua ke jalan lurus yang diridhai-Nya. Amin.
والله اعلم بالصواب.

