Indonesiamu, Indonesiaku,Indonesia Kita (17)

June 26, 2026

INDONESIAMU, INDONESIAKU, INDONESIA KITA (17)

Abdullah Hehamahua

Laut Indonesia, tidak hanya punya sumberdaya budidaya dan penangkapan. Sebab, lautnya merupakan pusat keaneragaman hayati laut yang berguna bagi industri farmasi.
Olehnya, seri ini, dikomunikasikan, industri farmasi kelautan yang selain untuk kepentingan nasional, juga sebagai penghasil devisa negara melalui ekspor obat-obatan, kosmetik, dan suplemen.

Industri Farmasi Kelautanmu
Anda bilang, Indonesia, negara maritim. Sebab, dua pertiga wilayahnya, laut. Namun, kebijakan anda sangat kontradiktif. Sebutlah, “food estate” seluas puluhan ribu hektar di Kalteng, gagal. Ini bukan proyek negara maritim. Anehnya, anda mau buka sejuta hektar lahan untuk sawah, sawit, dan tebu di kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Bahkan, haji Isam dari Kalsel memesan ribuan ekskavator dari China. Ratusan di antaranya sudah disandarkan di pelabuhan Wanam, Merauke. Padahal, pulau Papua itu kaya sumber daya kelautan.
Tragisnya, anda prioritaskan kelapa sawit di mana tanaman ini mengakibatkan bencana alam di mana-mana khususnya Sumatera, tahun lalu. Bahkan, ada 1.189 orang meninggal, 8.000 luka-luka, dan 33 dinyatakan masih hilang.
Dampak negatifnya, negara dirugikan Rp. 68,67 triliun karena kerusakan infrastruktur.

Paradoks yang anda lakukan, 90% bahan baku obat-obatan diimpor. Padahal, semuanya ada di indonesia, baik yang berasal dari hutan maupun laut Indonesia sendiri.
Paradoks lainnya, anda batasi fasilitas dan dana riset. Bahkan, anggaran R & D, hanya 0,2% dari PDB, terendah di Asia Tenggara. Bandingkan dengan Jepang, 3,7% dari PDB. Sebab, teknologi ekstraksi dan pemurnian tingkat farmasi perlu peralatan ultrafiltrasi dan kromatografi yang canggih dan mahal.
Anehnya, anda tidak bisa dapatkan bahan baku laut yang seragam secara berkelanjutan dengan mengatasi fluktuasi alam dan musim di Indonesia. Bahkan, anda sendiri ciptakan
kompleksitas regulasi dan uji klinis. Padahal, mengubah ekstrak laut menjadi obat yang diakui secara klinis perlu waktu tahunan dan biaya besar melalui uji preklinik dan klinik.

Industri Farmasi Kelautanku
Masyarakat Malaysia selalu gunakan minyak gamat untuk sakit apa pun. Minyak ini berasal dari teripang yang diproses oleh UKM/UMKM. Di Indonesia, teripang diekspor ke Jepang, tapi belum diolah secara serius menjadi obat, suplemen, dan kosmetik.
Masyarakat Maluku, tempo dulu, tidak kenal kecap atau saos. Namun, menu penyedap ketika makan, disebut “bekasang.” Ia berasal dari fermentasi insang dan isi perut ikan.
Di Malaysia, khususnya provinsi Kelantan dan Trengganu, dikenal dengan nama “budu”
Bekasang atau budu ini punya tiga manfaat: (1)
Kandungan proteinnya tinggi yang membantu pembentukan massa otot dan regenerasi sel tubuh; (2) Kaya asam lemak omega-3 yang menyehatkan otak serta menjaga kebugaran jantung; (3) Memperkuat kekebalan tubuh.

Sebagian masyarakat Maluku, tempo dulu, biasa mengenakan gelang yang terbuat dari akar bahar. Akar bahar ini, jenis hewan yang hidup di terumbu karang laut. Manfaatnya, selain sebagai asesori yang murah, ia mencegah terjadinya rematik.

Hematku, di tengah ketergantungan terhadap impor bahan baku obat (BBO) yang mencapai lebih dari 90%, industri farmasi kelautan, dapat menjadi solusi strategis. Sebab, selain teripang, isi perut ikan, dan akar bahar, ada rumput laut. Ia selain berfungsi sebagai ekspien dalam formulasi obat modern, juga punya khasiat antikoagulan dan imunomodulator. Bahkan, spons laut merupakan gudang senyawa bioaktif di mana ekstrak spons tertentu punya toksitas spesifik yang dapat dikembangkan menjadi obat anti kanker dan antibiotik baru.
Ada juga mikroalga seperti spriluna dan biota laut kaya minyak ikan yang merupakan komponen penting dalam pencegahan penyakit degeneratif dan kardiovaskular. Apalagi, minyak ikan punya manfaat besar. Sebab, ia kaya asam lemak omega-3 yang sangat baik untuk menyehatkan jantung, mendukung fungsi dan perkembangan otak, memelihara kesehatan mata, serta mengurangi peradangan.

Data-data di atas, maka tiada pilihan, kecuali riset bioteknologi tingkat lanjut. Ia mencakup bioprospecting (pencarian senyawa bioaktif), rekayasa genetika, dan uji klinis praklinis yang kompleks.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di sektor ini, serius mendorong industrialisasi produk biofarmasi laut ini. KKP pada waktu yang sama, fokus terhadap hilirisasi riset menjadi produk bernilai ekonomis seperti produksi enzim dari mikroba laut dan hidrolisat protein ikan untuk produk farmasi.

Industri Farmasi Kelautan Kita
Anda, saya, kita semua, sepakat,
farmasi kelautan adalah cabang ilmu dan industri yang manfaatkan organisme laut atau metabolit sekundernya untuk keperluan medis, kesehatan, dan kosmetik.
Anda, saya, kita semua, juga tetap konsisten dengan pasal 29 dan 33 UUD 45 untuk fungsikan potensi ekonomi farmasi kelautan. Konsekwensinya, perlu kolaborasi pentahelix di antara pemerintah, akademisi, industri, komunitas, dan media. Konsekwensi lanjutannya, perlu: 1. Pengembangan akuakultur berbasis farmasi di mana budidaya biota laut harus distandarisasi untuk memenuhi kriteria tingkat farmasi.
2 Hilirisasi nasional di mana perusahaan farmasi besar nasional (Kalbe Farma atau Kimia Farma) didorong guna integrasikan bahan aktif laut lokal ke dalam lini produk nutraseutikal dan obat mereka. Dampak positifnya, ketergantungan impor bahan baku sintetis, berhenti.

Simpulan
1.Industri farmasi kelautan Indonesia merupakan “harta karun” yang menjanjikan ketahanan kesehatan nasional dan pertumbuhan ekonomi yang eksponensial.
2.Perlu dukungan riset yang kuat, regulasi berkelanjutan, dan pemanfaatan bioteknologi biru. Dampak positifnya, Indonesia tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen utama bahan baku obat berbasis laut secara global.
3.Perlunya peningkatan anggaran R & D, setidaknya 3% dari PDB, mendekati Jepang yang 3,7 – 3,9 %. Sebab, anggaran R & D Indonesia yang terendah di Asia Tenggara, yakni 0,2%. Semoga !!! (Depok, 26Juni 2026)