Masyumi Memanggil :Jangan Biarkan Generasi Muda Hanya Mewarisi Masalah

June 26, 2026

MASYUMI MEMANGGIL: JANGAN BIARKAN GENERASI MUDA HANYA MEWARISI MASALAH

Oleh: Dr. Ahmad Yani, S.H., M.H.

Indonesia Sedang Berada di Persimpangan Sejarah

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia memiliki jumlah penduduk usia produktif yang sangat besar. Generasi Milenial, Gen Z, dan Alpha menjadi kelompok terbesar dalam struktur demografi bangsa. Banyak pihak menyebut kondisi ini sebagai bonus demografi—sebuah peluang emas menuju Indonesia Maju.

Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang harus dijawab dengan jujur:

Apakah generasi muda sedang menerima bonus, atau justru mewarisi krisis yang ditinggalkan oleh generasi sebelumnya?

Ketika kita melihat realitas yang ada, kegelisahan itu menjadi sangat beralasan.

Generasi muda hari ini tidak membuat utang negara yang terus membengkak. Namun, merekalah yang kelak harus menanggung bebannya.

Mereka tidak menikmati eksploitasi sumber daya alam selama puluhan tahun. Akan tetapi, mereka harus menghadapi kerusakan lingkungan, krisis air, banjir, tanah longsor, serta perubahan iklim akibat kebijakan yang tidak berkelanjutan.

Mereka tidak menciptakan sistem ekonomi yang timpang. Namun, mereka hidup dalam situasi ketika akses terhadap tanah, modal, dan kesempatan usaha semakin sulit diperoleh.

Mereka juga tidak menciptakan budaya korupsi. Namun, mereka dipaksa hidup dalam sistem yang sebagian telah dirusak oleh praktik korupsi yang menggurita.

Lebih menyedihkan lagi, sebagian generasi muda mulai menganggap korupsi, manipulasi, dan penyalahgunaan kekuasaan sebagai sesuatu yang biasa karena terlalu sering melihatnya terjadi tanpa konsekuensi yang memadai.

Inilah ancaman terbesar bangsa ini: ketika generasi muda kehilangan harapan dan mulai menganggap kerusakan sebagai sesuatu yang normal.


Bonus Demografi Bisa Menjadi Bom Waktu

Bonus demografi tidak otomatis menjadi berkah. Ia hanya akan menjadi anugerah apabila didukung oleh:

  • pendidikan yang berkualitas;
  • lapangan kerja yang memadai;
  • kesempatan berwirausaha yang terbuka; serta
  • sistem politik dan ekonomi yang adil.

Tanpa semua itu, bonus demografi justru dapat berubah menjadi bom waktu sosial.

Jutaan lulusan sekolah dan perguruan tinggi akan menghadapi kenyataan pahit bahwa pekerjaan semakin sulit diperoleh.

Banyak yang memiliki pendidikan tinggi, tetapi tidak memiliki kepastian masa depan. Sebagian bertahan di sektor informal dengan pendapatan yang minim. Sebagian kehilangan optimisme. Sebagian lainnya memilih meninggalkan negeri ini demi mencari kesempatan di tempat lain.

Padahal, bangsa yang besar tidak boleh membiarkan generasi mudanya hidup tanpa harapan.


Ketika Demokrasi Kehilangan Makna

Kegelisahan lain yang dirasakan generasi muda adalah semakin jauhnya demokrasi dari cita-cita awalnya.

Demokrasi seharusnya menjadi sarana menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan partisipasi rakyat. Namun, dalam praktiknya, demokrasi sering kali berhenti pada aspek prosedural.

Pemilu diselenggarakan secara rutin.

Kampanye berlangsung meriah.

Tetapi persoalan rakyat tetap berulang.

Korupsi terus terjadi.

Ketimpangan semakin melebar.

Biaya pendidikan masih tinggi.

Kesempatan kerja semakin terbatas.

Akibatnya, muncul pertanyaan yang semakin sering terdengar di kalangan anak muda:

“Apakah politik masih bisa menjadi alat perubahan?”

Pertanyaan ini tidak boleh diabaikan.

Sebab ketika generasi muda kehilangan kepercayaan terhadap politik, yang terancam bukan hanya demokrasi, melainkan masa depan bangsa.


Indonesia Membutuhkan Politik yang Bermoral

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar.

Tidak kekurangan sumber daya alam.

Tidak kekurangan anak muda yang kreatif.

Yang sering kali kurang adalah kepemimpinan yang amanah dan politik yang bermoral.

Politik tidak boleh hanya menjadi arena transaksi kekuasaan.

Politik harus kembali menjadi jalan pengabdian.

Politik harus menjadi sarana menghadirkan keadilan.

Politik harus menjadi alat memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

Dalam perspektif Islam, kekuasaan bukanlah hak istimewa, melainkan amanah.

Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.”

(QS. An-Nisā’ [4]: 58).

Ayat ini mengingatkan bahwa tujuan kekuasaan bukan untuk memperkaya segelintir orang, melainkan menegakkan keadilan bagi seluruh rakyat.


Masyumi dan Panggilan Sejarah bagi Generasi Muda

Dalam konteks itulah Masyumi hadir kembali.

Bukan sekadar untuk ikut pemilu.

Bukan sekadar menambah jumlah partai politik.

Melainkan untuk menghidupkan kembali tradisi politik yang berlandaskan nilai, integritas, ilmu pengetahuan, dan pengabdian.

Masyumi meyakini bahwa perubahan tidak akan lahir dari politik yang transaksional.

Perubahan hanya dapat lahir melalui kolaborasi antara rakyat—terutama generasi muda—dengan kepemimpinan yang memiliki visi besar tentang masa depan bangsa.

Karena itu, Masyumi memanggil Generasi Milenial, Gen Z, dan Alpha.

Bukan untuk menjadi pengikut.

Bukan untuk menjadi objek politik.

Melainkan menjadi subjek perubahan.

Menjadi generasi yang berani berkata tidak terhadap korupsi.

Menjadi generasi yang menjaga lingkungan hidup.

Menjadi generasi yang membangun kewirausahaan.

Menjadi generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menjadi generasi yang memadukan kecerdasan intelektual dengan akhlak yang mulia.


Jangan Menjadi Generasi yang Mewarisi Krisis

Setiap generasi memiliki ujian sejarahnya sendiri.

Generasi kemerdekaan menghadapi penjajahan.

Generasi awal republik menghadapi ancaman disintegrasi.

Generasi hari ini menghadapi tantangan yang berbeda: korupsi, ketimpangan, kerusakan lingkungan, krisis moral, serta melemahnya kepercayaan terhadap institusi publik.

Karena itu, pilihan generasi muda hari ini akan sangat menentukan.

Apakah akan menjadi generasi yang hanya mengeluh terhadap keadaan?

Ataukah menjadi generasi yang bangkit untuk memperbaiki keadaan?

Sejarah tidak pernah diubah oleh mereka yang hanya mengkritik dari pinggir lapangan.

Sejarah selalu diubah oleh mereka yang berani turun tangan dan mengambil tanggung jawab.


Saatnya Menunaikan Janji Kemerdekaan

Generasi Milenial, Gen Z, dan Alpha bukanlah pewaris masalah.

Mereka adalah pewaris masa depan Indonesia.

Mereka berhak mendapatkan negeri yang lebih adil.

Mereka berhak mendapatkan lingkungan yang lestari.

Mereka berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang.

Mereka berhak mendapatkan pemerintahan yang bersih.

Mereka berhak menikmati demokrasi yang bermakna.

Pada saat yang sama, mereka juga memiliki kewajiban moral untuk memastikan bahwa cita-cita kemerdekaan tidak berhenti sebagai tulisan indah dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Kini saatnya generasi muda mengambil peran.

Membangun Indonesia yang bertumpu pada nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah, dan Keadilan Sosial.

Indonesia yang maju tanpa kehilangan moralitas.

Indonesia yang modern tanpa meninggalkan jati diri.

Indonesia yang kuat tanpa menindas yang lemah.

Indonesia yang makmur tanpa merusak masa depan generasi berikutnya.


Masyumi Memanggil

Milenial. Gen Z. Alpha.

Mari berkolaborasi membangun peradaban baru Indonesia.

Bukan sekadar memenangkan pemilu.

Tetapi memenangkan masa depan bangsa.

Mari bersama menghadirkan Indonesia yang adil, bermartabat, dan berkeadaban.

Menuju Indonesia Berkah—Baldatun Ṭayyibatun wa Rabbun Ghafūr.