Pelajaran dan Petunjuk Yang Memimpin Manusia ke Jalan Yang Lurus

June 25, 2026

*NASIHAT PAGI*
Kamis 10 Muharram 1478 H/25 Juni 2026 M.

*(Prof. Dr. KH. Badruddin HSubky M.HI)*

Pondok Pesantren Tahfidz & Tafsir Al-Badar, Cilendek Barat, Kota Bogor, Jawa Barat.

*RITME DINAMIKA SPRITUAL*

بسم الله الرحمن الرحيم.
فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗ اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ .
_Maka ke manakah kamu akan pergi? Al-Qur’aan itu, tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali jika dikehendaki Allah SWT, Rabb semesta alam._*(QS. At-Takwir 81: 26-29).*

Sesudah diterangkan bahwa Al-Qur’an itu benar-benar datang dari Allah SWT dan di dalamnya berisi pelajaran dan petunjuk yang memimpin manusia ke jalan yang lurus. Kemudian ditanyakanlah kepada orang-orang kafir dan orang-orang durhaka itu: ”Jalan manakah yang akan kamu tempuh lagi?”.

Secara tekstual jawaban yg benar dari pertanyaan ayat di atas, adalah kita wajib kembali kepada Al-Qur’an sebagai petunjuk jalan menuju Allah SWT.
Dalam perjalanan menuju Allah SWT seorang hamba tidak cukup hanya Ibadah secara fisik, namun harus juga disertai keimanan dan keyakinan kokoh kuat yg disertai tulus ikhlas kepada-Nya. Itulah yg disebut *salik* (hamba yg menuju kebesaran Allah SWT). Dalam perjalanan salik menuju Allah SWT disebut prosesi spiritual. Seperti disebutkan pada ayat 29 Surat At-Takwir di atas bahwa tidak ada seorangpun hamba Allah yg dapat melakukan proses spritual atau proses ibadah lainnya, kecuali dengan izin, kehendak dan kekuasan-Nya.

Karena itu Nasihat Pagi hari ini, berjudul *Ritme Dinamika Spiritual:*

Ritme dinamika spiritual, adalah *proses pergeseran kesadaran, keyakinan, dan aktivitas hati (batin) seorang hamba dalam mencari makna hidup yg hakiki* serta membangun hubungan kedekatan dengan sesuatu yang Mahabesar, Mahasempurna dari dirinya. Hal ini mencakup pasang- surutnya *Taqarrub* (kedekatan) seorang hamba kepada Allah SWT, sebagai proses pendewasaan ruhani, dan komitmen menjalankan disiplin dalam beriman, beribadah dan ketulusan hanya kepada-Nya.

Dalam Nasihat pagi hari ini yang berjudul *Ritme Dinamika Spritual* akan dijelaskan secara rinci, apa itu proses gerakan spiritual/ruhani yg dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan mengambil beberapa rujukan (dalil) ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits Rasulullah SAW dan pendapat para ulama ahli tafsir dan para ulama salafush-shalih, dengan menggunakan metoda Tafsir Tekstual/Nash dan Tafsir Kontektual/Mafhum atau Maudhui’ Biddiroyah sbb:

*BAGIAN PERTAMA (Tinjauan Tafsir Tekstual):*

*1.Asbabun Nuzul*
قال سفيان الثوري عن سعيد بن عبد العزيز عن سليمان بن موسى لما نزلت هذه الآية « لمن شاء منكم أن يستقيم » قال أبو جهل الأمر إلينا إن شئنا استقمنا وإن شئنا لم نستقم فأنزل الله تعالى « وما تشاءون إلا أن يشاء الله رب العالمين ».
Berasal dari Sufyan Tsauri dari Said bin Abdul Aziz dari Sulaiman bin Musa, dia berkata: “Ketika turun, ayat: “Barang siapa di antara kamu mau menempuh jalan yang lurus. (Surat At-Takwir 81: 28). Maka Abu Jahal berkata: “Perkaranya ada di tangan kami, jika kami mau maka kami akan lurus, jika kami mau maka kami tidak lurus.” Kemudian Allah menurunkan ayat 29 sbb: “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan lurus itu) kecuali jika dikehendaki oleh Allah SWT, Rabb semesta alam.*(Ibnu Katsir Juz ke-4 hlm.479-481).*

*2. Kalimat, Fa-Aena Tadzhabuun (Ke mana Kamu Pergi.*

*1). Imam Zamakhsyari* menafirkannya sbb: استضلال لهم كما يقال لتارك الجادّة اعتسافا أو ذهابا في بنيات الطريق :
أين تذهب، مثلت حالهم بحاله في تركهم الحق وعدولهم عنه إلى الباطل لِمَنْ شاءَ مِنْكُمْ بدل من العالمين وإنما أبدلوا منهم لأنّ الذين شاءوا الاستقامة بالدخول في الإسلام هم المنتفعون بالذكر، فكأنه لم يوعظ به غيرهم وإن كانوا موعظين جميعا وَما تَشاؤُنَ الاستقامة يا من يشاؤها إلا بتوفيق الله ولطفه. (الزمخشرى).
Hal ini, menujukkan kesesatan bagi mereka yg sudah pergi meninggalkan Al-Qur’an. Kalimat “Kemana kamu pergi?”, Ini gambaran situasi mereka meninggalkan kebenaran dan keadilan dan mereka pergi menuju kebatilan dan kesesatan.
Kalimat *liman syaa minkum* adalah kata ganti dari kalimat *minal ‘aalamiin*. Artinya, kenapa mereka berani meninggalkan kebenaran dan berdusta kepada Al-Qur’an?. Karena yg bisa Istiqomah hanya orang-orang beriman keimanan sebab mereka sudah masuk Islam, mereka itulah orang- orang yg dapat mengambil manfaat dari Al-Quran. Seolah-olah selain mereka tidak dapat mengambil manfaat dari Al-Quraan, meskipun semua orang beriman memberikan peringatan. Tidak akan ada di jalan Istiqomah bagimu, kecuali dengan taufiq Allah SWT dan kelembutan hidayah-Nya. *(Tafsir Syekh Zamakhsyari).*

*2).Jalaluddin Sayuthi* menafsirkannya sbb:
فبأي طريق تسلكون إنكاركم القرآن وإعراضكم عنه.
Jalan yg mana lagi yg kamu cari?, Kamu selalu berupaya mengingkari Al-Qur’an dan menentangnya secara terbuka. *(Jalalain Juz 2, hlm. 254).*

*3).Imam Nasafi* menafsirkannya sbb:
كيف يخطر هذا ببالكم، وأين عزبت عنكم أذهانكم؟ حتى جعلتم الحق الذي هو في أعلى درجاتالصدق بمنزلة الكذب، الذي هو أنزل ما يكون، وأرذل] وأسفل الباطل ؟
هل هذا إلا من انقلاب الحقائق . (السعدى).
_Bagaimana kekhawatiran-mu, dan bagaimana getaran hati-mu, sehingga kamu jadikan kebenaran yg tertinggi itu malah kamu ingkari dengan kebohongan, sehingga kamu menjadi hina dina akibat melakukan kebatilan._*(Tafsir An-Nasafi)*.

*4).Imam Az-Zujaj* dan *Syekh Junaedi* yg dikutip Imam An-Nasafi menafsirkan nya sbb:
وقال الزجاج معناه فأي طريق تسلكون أبين من هذه الطريقة التي بينت لكم وقال الجنيد فأين تذهبون عنا وإن من شيء إ عندنا. (النسفى)
Imam Az-Zujaj berkata: “Jalan mana lagi selain Al-Qur’an yg sudah jelas bagimu.
Kemudian Imam Junaedi, berkata: “Mengapa kamu meninggalkan Kami (Allah SWT), padahal segala sesuatu dalam Al-Quran itu sudah lengkap dan sempurna dari Kami (Allah SWT). *(Tafsir An-Nasafi).*

*2. Kalimat: In huwa Illa dzikirun lil-‘aalamin.*

*1).Jalaluddin Sayuthi* menafsirkannya sbb:
«إن» ما «هو إلا ذكر» عظة «للعالمين» الإنس والجن.
Al-Quran itu, tiada lain kecuali nasihat dan pelajaran bagi penghuni semesta alam, yaitu jin dan manusia. *(Jalalain Juz 2 hlm. 254).*

*2).Imam Nasafi* menafsirkannya sbb:
إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرٌ للعالمين. ما القرآن إلا عظة للخلق.( نسفى).
_Al-Qur’an itu adalah bentuk peringatan untuk seluruh makhluk hidup di dunia._ *(Imam Nasafi).*

*3).Syekh Nashir As-sa’ady* menafsirkannya sbb:
يتذكرون به ربهم، وما له من صفات الكمال، وما ينزه عنه من النقائص والرذائل [والأمثال] ويتذكرون به الأوامر والنواهي وحكمها، ويتذكرون به الأحكام القدرية والشرعية والجزائية، وبالجملة يتذكرون به مصالح الدارين، وينالون بالعمل به السعادتين .
لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ بعدما تبين الرشد من الغي والهدى من الضلال (.السعدى)
Al-Qur’an itu peringatan bagi penghuni semesta alam. Maksudnya: mereka (orang- orang beriman) ingat kepada Rab nya. Mereka mengingat Allah SWT yang memiliki Sifat Sempurna dan Mahasuci dari segala kekurangan. Mereka akan mempelajari Al-Quran untuk berdakwah, amar ma’ruf nahi mungkar dan menjelaskannya dengan rinci. Mereka Mempelajari Al-Qur’an yg berhubungan dengan yg gaib (taqdir) dan pelaksanaan syar’iat Islam dan iman kepada hari pembalasan amal di akhirat. Secara umum makna Al-Qur’an menjelaskan kemaslahatan dunia akhirat. Bagi setiap orang yg Istiqomah diantara kamu, setelah jelas antara baik dan buruk, dan antara kesesatan dan petunjuk. *(Tafsir As-sa’ady)*

*4. Tafsir* Kalimat *wamaa-tasyaaun*

*1). Imam Nasafi* menafirkannya sbb:
وما تشاؤون} الاستقامة {إِلاَّ أَن يَشَاءَ الله رَبُّ العالمين} مالك الخلق أجمعين.
_Kamu tidak bisa istiqomah (dalam beribadah) kecuali dengan iradah dan kekuasaan Allah SWT Dzat Yang menjadi Raja semesta alam._*(An-Nasafi)*).

*2). Jalaluddin Sayuthi* menafsirkannya sbb:
«وما تشاؤون» الاستقامة على الحق «إلا أن يشاء الله رب العالمين» الخلائق استقامتكم عليه. (جلالين)
_Tidak ada yg mampu memberi istiqamah dalam membela kebenaran, kecuali Allah Pengurus semesta alam. Dialah yg mengurus makhluk2 Nya supaya istiqamah dalam beribadah kepada-Nya_. *(Jalalain Juz 2 hlm. 254)*

*3). Ibnu Katsir* menafsirkannya sbb:
وما تشاءون إلا أن يشاء الله رب العالمين » أي ليست المشيئة موكولة إليكم فمن شاء اهتدى ومن شاء ضل بل ذلك كله تتابع لمشيئة الله تعالى رب العالمين.
_Tidak ada yg bisa diwakilkan utk kamu (dalam segala urusan), kecuali kehendak dan kemampuan Allah SWT. Barang siapa orang yang di kehendaki mendapat petunjuk oleh Allah, maka ia mendapatkannya (petunjuk) dan barang siapa orang yang dikehendaki sesat oleh Allah, maka ia mendapatkannya (sesat). Semua makhluk ini akan bergerak sesuai dengan kehendak Allah, Rab semesta alam._ *(Ibnu Katsir Juz 4 hlm. 470-471)*

*BAGIAN KEDUA (Tinjauan Tafsir Kontektual).*

*1.Kalimat: Faena Tadzhabun* *Kemana Kamu Pergi?*
Jawabannya, sebagai umat manusia yg beriman dan bertakwa kita wajib kembali kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintahnya-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dengan mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan Sunah Rasulullah serta pendapat para ulama salafush-shalih.

*2. Perjalanan Hidup Berdasarkan Syar’iat Islam*.
Dengan tiga hal pokok yaitu Syari’at, Thariqat dan Haqiqat. Puncak perjalanan hidup beribadah kepada Allah SWT adalah mengikuti ritme dinamika spritual (aturan Allah SWT).

1). *Pola perkembangan dinamika spritual* (batin) ini meliputi 4 (empat) tahapan:

*(1). Kesadaran (Awareness):* Momen pencerahan awal saat seorang hamba mulai mempertanyakan eksistensi jati diri dan tujuan hidupnya.
*(2).Disiplin (Rhythm):* Praktik ruhani yang teratur (seperti ber *khalwah*, *riyadhoh*/latihan hati, jiwa dan raga dalam Istiqomah, berdoa, puasa, atau retret dll) untuk melawan distraksi kehidupn sehari-hari yg berinteraksi dengan kehidupan dunia.
*(3).Transisi (Dynamics)*: Fase pergeseran ide, pemikiran atau emosi, yang sering diuji oleh tantangan hidup, dapat menghasilkan pendewasaan karakter.
*(4).Kesejahteraan Holistik:* Pencapaian kedamaian dan ketenangan batin/ hati dan keselarasan dengan tujuan hidup yang berdampak positif pada ketahanan mental spiritual untuk mengejar kesejahteraan di dunia dan kebagian hakiki di akhirat.

*3.Makna Subtansi Masyiah (Kehendak) dan Qudrat (Kekuasaan) Allah SWT*
وماتشأون الا أن يشاء رب العالمين

*1). Syekh Athoillah As-Sakandari* berkata sbb:
سَوَابِقُ الْهِمَمِ لَا تَخْرِقُ أَسْوَارَ الأَقْدَارِ
_”Berkobarnya semangat tak kan kuat menerjang benteng-benteng kepastian (Kekuasaan Allah)”._*(Kitab Syarah Hikam Juz 1 hlaman 6).*

*2) . Syekh Nafzi dan Syek Ibnu Ajibah dan Syekh Asy-Syarqawi* yg dikutip Aly As’ad, berkata sbb:
“Segala apapun yang terjadi adalah atas kuasa dan prakarsa Allah, bahwa semenjak zaman azali, Dia telah memutuskan segalanya menjadi demikian itu. Kobaran semangat dan menggebunya hasrat tidak akan dapat mempengaruhi keputusan tersebut. Dalam konteks proses spiritual (suluk), hal tersebut penting disadari terlebih dahulu, karena kelak akan menemui hal-hal yang tidak biasa dialami, sehingga jangan pernah beranggapan bahwa hal itu muncul karena hasil usahanya, tetapi sepenuhnya adalah karena anugerah dan prakarsa Allah swt yang telah dipastikan terjadinya. Salik juga tidak perlu kelewat ambisi untuk menggapai suatu posisi spiritual, tapi cukup berjalan seirama dengan rithme dinamika spiritual yang dialami.” *(Ibnu Ajibah, liqodhul Himam, hal 34; An Nafazi dan Asy Syarqawi 1/6)*.

*3).Syekh Athoillah As-Sakandari* berkata:
أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيْرِ، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِهِ أَنْتَ لِنَفْسِكَ
_Hentikan campur tanganmu dalam mengatur. Karena segala yang telah diatur oleh Pihak Lain untukkmu, tidak perlu kamu ikutan mengaturnya._

*4). Syekh An-Nafzi dan Syekh Ibnu Aijibah* berkata:
“Adalah Allah SWT telah mengatur segalanya secara pasti, termasuk usia, rizki, jodoh, dsb. Dia telah mengatur sekalian titah-Nya dengan ajaran agama samawi yang diturunkan. Kita tidak perlu mencoba mencari alternatif selain agama Islam, atau memodifikasi agama-agama sesuai dengan kehendak kita sendiri. Perjalanan suluk harus ditempuh lewat tiga jalur sekali gus, yaitu (a) Aqidah yang akan menghasilkan iman dan yaqin, (b) Syari’ah yang akan menghasilkan taqwa dan tha’ah, dan (c) Akhlak yang akan menghasilkan ikhlas dan kesucian hati. Kemudian tiga hal itu lebur menjadi kesatuan energi yang mampu menerima kehadiran Nur Allah yang Maha Suci.” *(Ibnu Ajibah, liqodhul Himam, hal 35; An Nafazi dan Asy Syarqawi 1/6).*

*4). Ritme dinamika yg terjalin dalam fondasi penciptaan.*
Misalnya: Sejak matahari terbit dan terbenam. Dari musik dan gerakan, dari detak jantung sampai pernapasan kita, ritme ada di mana-mana. Menurut Kamus Oxford, ritme didefinisikan sebagai pola gerakan yang kuat, teratur, dan berulang. Kepercayaan, dan realita bahwa ritme menghasilkan keteraturan dan aliran yang menampakkan keindahan. Kita mencintai dan menerima keindahan ritme kehidupan, itu semua meyakinkan kita akan kebaikan. Detak jantung yang berirama berarti jantung yang sehat. Detak jantung yang tidak teratur adalah peringatan bahaya dan ritme-ritme lain yg baik, teratur dan ibadah dalam kehidupan membawa sukacita ke hati kita. Kita merasakannya di dalam jiwa kita ketika kita mendengar lantunan suara Al-Qur’an dan adzan yang bagus dengan ritme yang indah. Bagaimana dengan kehidupan spiritual kita? Apakah ada ritme dinamika spritual dalam ibadah kita?.

*4. Khalwat Puncak Kesadaran atau Mindfulness.*

Khlawat atau Mindfulness dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai kesadaran penuh. Ini adalah praktik memusatkan perhatian pada momen saat kita beribadah kepada Allah harus tulus—berfokus pada apa yang kita rasakan, kita lihat, dan kita lakukan—tanpa menyesali masa lalu yg kelabu yg mencemaskan, tetapi harus menatap/ memandang masa depan yg cemerlang.

Berikut adalah 4 (empat) pilar sebagai ringkasan/inti dari kesadaran penuh (konsentrasi prosesi sptitual:

*1). Fokus pada “Di Sini dan Saat Ini”*:

Menjalani aktivitas dengan pikiran dan hati yang benar-benar hadir di tempat tersebut.

*2). Menerima Tanpa Menilai:* yaitu mengamati emosi (sedih, marah, cemas) atau pikiran yang muncul tanpa menilainya sebagai “baik” atau “buruk”. Itu semua kehendak Sang Pencinta Allah SWT.

*3). Melibatkan Panca Indra:*
Menyadari tekstur, sensasi fisik/ jasmani atau anggota badan secara langsung dari apa yang sedang dilakukan.

*4). Kombinasi antara Tubuh, Hati dan Pikiran:*
Menyatukan niat, pikiran, dan sensasi anggota badan menjadi satu kesatuan fokus, tulus kepada kebesaran Allah SWT.
Banta manfaat secara psikologis dari ke busan yg baik ini. Secara klinis bisa membantu meredakan stres, meredakan kecemasan, dan bisa meningkatkan fokus, dan tulus serta membantu diri dan jiwa kita lebih menerima dari apa adanya *(Qana’ah)*. Dan manfaat secara spiritual dapat membuahkan tawakkal dan ikhlas serta Istiqomah dalam beribadah kepada Allah SWT.

*KESIMPULAN*

1.Kita sebagai hamba Allah SWT yang beriman dan bertakwa, wajib kembali kepada-Nya dengan menggunakan dalil- dalil yg bersumber dari Al-Quran, As-Sunnah dan pendapat para ulama salafush-shalih.

2.Orang-orang yang ingkar kepada Al-Quran atau ingkar kepada sebagian isinya, sama saja dengan ingkar kepada semua isi kandungan Al-Quraan atau sama dengan ingkar kepada Allah SWT dan kepada semua aturan-Nya.

3.Ritme Dinamika Spritual, adalah sebuah proses spritual yg wajib dijadikan cara untuk kita lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan utk meningkatkan keimanan dan keislaman agar kita meraih nilai- nilai kehidupan spiritual yg hakiki di saat dahsyatnya godaan gerakan rasional dan gerakan amal sosial yg sering menabrak nilai nilai perjalanan spiritual untuk melaksakan Islam Kaffah.

4.Segala ibadah, baik lahir maupun batin maka wajib ikut kepada ritme dinamika spritual yg telah ditetapkan oleh Allah SWT dan telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya serta oleh para ulama salafush-shalih.

5.Didunia ini, tidak ada kejadian apapun yg kebetulan, tapi semuanya sudah di tentukan oleh kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Karenanya hamba wajib berserah diri secata total kepada-Nya setelah melakukan syar’iat dengan baik dan benar serta sah secara fiqh.

Semoga kita diberikan kekuatan dalam proses ritme dinamika spritual untuk meraih nikmat hakiki menuju ridha ilahi (Allah SWT) yang telah mentakdirkan kita di jalan Nya.

Semoga Allah SWT meridhoi kita semua dalam beribadah yg sesuai dengan permintaan dan qurat serta irodat-Nya. Amin.

والله أعلم بالصواب.