Perjuangan Nabi Muhammad SAW (2)

February 19, 2026

PERJUANGAN NABI MUHAMMAD SAW (2)

Abdullah Hehamahua

 

Muhammad, kurang lebih tiga tahun berkontemplasi di gua Hira. Allah SWT pun mengutus Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama. Wahyu ini sekaligus merupakan pelantikan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul.

 

Wahyu Pertama

        Lima ayat pertama yang disampaikan ke Nabi Muhammad SAW, menunjukkan, setiap umat Islam, lelaki maupun perempuan, anak-anak dan orang tua, wajib belajar. Allah SWT berfirman:

Bacalah dengan nama Rabb-mu yang menjadikan. Yang menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabb-mu Yang Maha Mulia. Yang mengajarkan manusia dengan perantaraan qalam. Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (QS Al Alaq: 1 – 5).

 

Pendidikan Rabbaniyah

Lima ayat di atas mewajibkan diberlakukan Pendidikan Rabbaniyah. Pendidikan tersebut wajib dipahami sebagai berikut:

  1. Aqidah sebagai Landasan Kehidupan

Ayat pertama merupakan deklarasi Allah SWT bahwa, Dia Yang menciptakan manusia. Konsekwensi logisnya, hanya Allah SWT Yang patut diibadati, tempat mengadu dan memohon. Bukan patung, pohon, keris, jimat, dukun, paranormal, raja atau ideologi apa pun.

Sejarah Indonesia mencatat, empat ulama dalam Panita Sembilan yang yang menyusun Dasar Negara, menempatkan ”Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sila pertama Pancasila.

Keempat ulama tersebut (H. Agus Salim, KH Wahid Hasyim, Abdul Kahar Muzzakir, dan Abi Kusno) mengabadikan sila tersebut dalam pasal 29 UUD 45: ”Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.” Konsekwensi logisnya, sekalipun bukan negara agama, Indonesia adalah negara tauhid.

  1. Pelajaran Ilmu Hayat

Ayat kedua, secara filosofis menjelaskan, manusia hanya meng-gantungkan nasibnya ke Allah SWT. Sebab, perkataan alaqah, dalam ayat ini, arti sebenarnya adalah melekat. Ini karena, ketika sperma bertemu ovum dan terjadi pembuahan, maka benih ini mengalir melalui saluran telur lalu menempel atau melekat di dinding rahim.

Allah SWT menetapkan seorang ibu sebagai medium di mana segumpal darah tersebut mengikuti proses sunatullah selama kurang lebih 9 bulan. Namun, jika benih tersebut lepas dari gantungannya, maka gagallah dia menjadi seorang manusia. Itulah yang dikenal dengan keguguran.

Konsekwensi logisnya, kita harus berpegang (melekat) di ajaran Allah SWT jika ingin menjadi manusia sukses. Konsekwensi logis lanjutannya, setelah aqidah, mata pelajaran kedua dalam pendidikan Islam adalah ILMU HAYAT.

  1. Pelajaran Akhlak

Allah SWT di ayat ketiga, mengulangi lagi perintah belajar. Namun, perintah belajar di sini dalam kontek mengakui dan menghormati Allah SWT sebagai Yang Sangat Mulia (warabbul aqram). Konsekwensi logisnya, hukum belajar, sama dengan shalat. Maknanya, berdosa kalau dalam sehari, kita tidak belajar sesuatu.

Konsekwensi logis lanjutannya, mata pelajaran ketiga dalam kurikulum pendidikan adalah AKHLAK. Fakta di lapangan, keterpurukkan Indonesia di pelbagai sektor, khususnya bencana alam disebabkan pemimpin, pejabat, elit politik, pengusaha, dan rakyat tidak berakhlak. Sebab, akhlak itu meliputi perilaku pribadi kita sehari-hari terhadap Allah SWT, Rasulullah SAW, hewan, tumbuhan, air, dan udara.

  1. Pendidikan Sains dan Teknologi

Ayat keempat menginformasikan, disebabkan Allah Maha Mulia, maka segala sesuatu yang diajarkan ke manusia melalui perantaraan qalam agar kita menjadi insan yang mulia  (taqwa). Qalam bagi murid SD jaman dahulu adalah alat tulis yang terbuat dari grip. Kertasnya adalah batu tulis yang juga terbuat dari grip.

Murid SMP menggunakan pensil dan kertas. Namun, sewaktu di SMA, siswa sudah menggunakan pena dan kertas. Guru, sejak SD, SMP, sampai SMU, pada waktu itu menggunakan kapur dan papan hitam. Dosen, tahun 60-an, sudah menggunakan papan putih dan spidol. Namun, dosen kemudian menggunakan OHP (Overhead Projector). Mahasiswa tetap menggunakan pena dan kertas.

Dosen, pada awal 70-an sudah mulai menggunakan infokus.  InFocus sendiri merupakan salah satu merek proyektor LCD secara umum. Ia digunakan untuk meningkatkan kualitas pengajaran melalui presentasi visual, video, dan grafik. Konsekwensi logisnya, pensil, pena, OHP, dan infokus adalah pengembangan dari perkataan “qalam” dalam wahyu pertama tersebut.

Konsekwensi logis lanjutannya, negara-negara yang menguasai IT, sains, dan teknologi dewasa ini, menjadi penguasa dunia. Mereka menguasai sektor pendidikan, politik, dan ekonomi. Padahal, IT, sains, dan teknologi tersebut telah disampaikan Allah SWT ke umat Islam sejak 15 abad yang lalu melalui wahyu pertama.

  1. Ilmuan sebagai Target Pendidikan

Ayat kelima menjelaskan, semua ilmu dan metode pembelajaran (qalam) yang diberikan Allah SWT dimaksudkan agar manusia bisa menjadi ilmuan. Namun, ilmuan tidak identik dengan sarjana. Sebab, 86% koruptor yang ditangkap KPK adalah sarjana. Ada S1, S2, S3, bahkan profesor. Itulah sebabnya, mereka yang paling takut Allah SWT adalah ilmuan. Allah SWT berfirman:

 “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu). (QS Fathir: 28).

Konsekwensi logisnya, orang yang berilmu lebih tinggi derajatnya dari yang lainnya. Ayat ini sekaligus merupakan deklarasi bahwa, semua ilmu pengetahuan yang ada di bumi ini berasal langsung dari Allah SWT. Wajar kalau Rasulullah SAW bersabda, “orang-orang berilmu adalah pewaris para Nabi.”

 

Simpulan

  1. Segala perbuatan muslim/muslimah, baik aspek vertikal, horizontal, maupun diagonal, harus atas nama Allah SWT. Konsekwensi logisnya, hati, pikiran, tindakan, dan perilakunya harus tunduk terhadap perintah Allah SWT. Itulah sebabnya, seorang pejabat muslim Indonesia yang diambil sumpahnya (dalam acara pelantikan) harus dimulai dengan ucapan “wallahi” (demi Allah). Konsekwensi logis lanjutannya, jabatannya adalah amanah dari Allah SWT sehingga harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, sesuai dengan ketentuan-Nya. Tragisnya, Indonesia dalam keadaan terpuruk sekarang karena pejabat eksekutif, legislatif, dan yudikatif, tidak melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan Allah SWT.
  2. Sistem pendidikan Islam, baik jenis, silabi, kurikulum, maupun metode pembelajaran,tidak boleh bertentangan dengan ketentuan Allah SWT, demi pengabdian kepada-Nya semata.
  3. Program, kegiatan serta aplikasinya di setiap keluarga, ormas, LSM, Yayasan, orpol, Kementerian, Lembaga Negara, Pemda, dan BUMN/BUMD harus dengan nama Allah, demi pengabdian kepada-Nya. (Depok, 2 Ramadhan 1447H/19 Februari 2026)

 

Sains Tidak Berpikir (2)

SAINS TIDAK BERPIKIR (2) Irawan Santoso Shiddiq, SH Martin Heidegger (1889-1976), menerbitkan artikel “Science does