PERJUANGAN NABI MUHAMMAD SAW (1):
Abdullah Hehamahua
Alhamdulillah, dengan ijin dan hidayah Allah SWT, kita bertemu kembali pada 1 Ramadhan hari ini. Untuk itu, dengan tulus kusampaikan permintaan maaf, bahwa, setiap hari selama Ramadhan, akan kukomunikasikan tema ”Perjuangan Nabi Muhammad SAW.” Seri pertama ini, sambil menunggu waktu berbuka (ifthar), kukomunikasikan subtema: ”Perenungan dan Penyucian Hati.”
Gua Hira, Perjuangan Fisik dan Ruhiah
Rasulullah SAW, sebelum menerima wahyu, sering berkontemplasi di gua Hira. Beliau merenungi perilaku penduduk Makah yang dikenal sebagai masyarakat jahiliah. Sebab, dalam masyarakat terjadi perbudakan, penindasan wanita, mengu-burkan hidup-hidup bayi perempuan, menipu dan manipulasi dalam jual beli, serta menyembah berhala. Mereka juga sering berperang antar kabilah. Ada tiga pelajaran utama dari proses perenungan Rasulullah SAW di dalam gua Hira ini, yaitu:
- Proses Pencarian Kebenaran
Ibrahim dalam proses pencarian Rabb-nya, menganggap, bintang, bulan, dan matahari adalah Rabb-nya. Namun, beliau berlepas diri dari asumsi tersebut sebagaimana dikisahkan dalam ayat Al-Qur’an berikut:
“Ketika malam telah gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku”. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata, “Saya tidak suka kepada yang tenggelam. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata, “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS Al An’am: 76 – 78).
Nabi Muhammad SAW, berbeda dengan Nabi Ibrahim dalam hal pencarian Rabb. Sebab, beliau langsung menyepi di dalam gua Hira, jauh dari keramaian kota. Beliau berkontemplasi dan berhubungan langsung dengan Rabb-nya berdasarkan fitrah ketauhidannya. Fitrah ketauhidanya dimulai dengan suatu mimpi berupa penampakkan cahaya yang terang datang ke beliau.
Mimpi yang benar, berasal dari Allah SWT, diberikan ke manusia-manusia pilihan. (Mimpi selain itu adalah kembang-kembang tidur). Apakah Muhammad, manusia pilihan sehingga mimpi yang datang kepadanya, bukan sejenis kembang-kembang tidur.?
Sejarah (baik yang ditulis umat Islam maupun nonmuslim), mencatat, Muhammad sejak kecil sudah merupakan manusia pilihan. Hal ini ditunjukkan dengan gelar yang diberikan masyarakat Makah sebagai ”Al Amin” (yang dipercaya). Logis kalau beliau memeroleh mimpi yang benar. Sebab, jika sejak kecil sampai dewasa, Muhammad punya noda dan dosa, maka dapat dipertikaikan, mimpi beliau tersebut, tergolong benar atau sekadar kembang-kembang tidur.
Faktanya, Nabi Muhammad, setelah memeroleh mimpi tersebut, terdorong untuk menyepi di dalam gua Hira.
Pelajaran penting yang dapat dipetik di sini, setiap menghadapi kegalauan apa pun, baik di rumah, kampung, kantor atau masyarakat, kita perlu tafakur. Kita merenungi dan mengkaji semua permasalahan yang ada. Dampak positifnya, kita dapat menetapkan diagonose dari masalah yang ada untuk selanjutnya mem-berikan terapi yang tepat guna.
Perenungan itu bisa berupa dialog batin, memelajari dan mengkaji Al-Qur’an dan Al- Hadis atau shalat sunat. Semuanya bertujuan untuk memeroleh petunjuk dan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi. Konsekwensi logisnya, kita tidak ke night club, paranormal atau menggunakan ganja dan minuman keras.
- Proses Penyucian Diri
Rasulullah SAW, selama di dalam gua Hira, tidak berhubungan dengan siapa pun. Beliau menumpukkan perhatian dalam berkomunikasi dengan Rabb-nya. Pelajaran yang dapat dipetik di sini, kita boleh memeroleh informasi, data, dan saran dari orang lain. Namun, putusan akhir berada di tangan kita dengan meng-komunikasikannya langsung ke Sang Khalik.
Salah satu cara untuk bisa berkomunikasi dengan Allah SWT adalah kita senantiasa memiliki hati, pikiran, dan perilaku yang bersih dari kotoran-kotoran dunia. Rasulullah SAW sudah terpelihara sejak kecil dari perbuatan-perbuatan kotor tersebut sehingga proses kontemplasinya di dalam gua Hira mendatangkan hasil yang luar biasa.
- Proses Penempaan Fisik
Proses pencarian kebenaran, tidak hanya memerlukan kehebatan rohaniah, tetapi juga kesiapan fisik yang prima. Ini dibuktikan dengan sukarnya mendatangi gua Hira. Sebab, gua Hira adalah lubang yang hanya bisa menampung tiga orang. Ia berada di salah satu gunung dari banjaran gunung Hira di luar kota Makah. Kita perlu waktu sekitar dua jam dari kaki gunung untuk sampai ke gua tersebut. Padahal, pegunungan ini sendiri berada jauh dari rumah Rasulullah SAW (lima kilometer dari kota Makah).
Nabi Muhammad SAW berada di dalam gua ini dalam waktu relatif lama. Beliau adakalanya menyepi selama sepekan berturut-turut. Bahkan, ada pula selama sebulan penuh. Beliau hanya meninggalkan gua sebentar untuk mengambil perbekalan di rumahnya.
Pelajaran yang dapat dipetik, seseorang yang ingin menjadi tokoh, individu berjaya, pemimpin dan pemandu ummat, harus memiliki kekuatan fisik yang prima. Hal ini dibuktikan kemudian bahwa, selama hidup, Rasulullah SAW memimpin langsung puluhan perang melawan musuh-musuh Islam. Bahkan, sirah Nabawi mencatat, semasa hidupnya, beliau hanya tidur 4 jam sehari. Dua puluh jam lainnya penuh dengan aktivitas rutin, baik secara vertikal maupun horizontal..
Simpulannya, untuk meneladani Nabi Muhammad SAW, setiap muslim/muslimah wajib memelajari sejarah perjuangan beliau. Namun, ia harus dimulai dengan penyucian hati, pikiran, dan perilaku sebelum kita bertekad untuk meneladani perjuangan Rasulullah. Semoga !!!. (Depok, 1 Ramadhan, 1447H/18 Februari 2026)

