Al-MUWASSA’
(Sisi Prismatik Sholat Tarawih)
_______________
Penulis: Dr.Lalu Zulkifli
(Ketua Umum Lingkar Al-Islam Moderat Indonesia / LAMI).
A. Tumakninah _(Thuma’ninah)
Ada sebuah hadist Nabi Saw yg menjelaskan ttg perintah _tumakninah_ (berhenti sebentar dengan tenang) dan tidak tergesa-gesa dalam sholat, yg dikenal sebagai hadits _al Musi’ fii Sholatihi_ (orang yg buruk sholatnya).
Maka dari itu Nabi Saw menjelaskan keutamaan tumakninah ini, dari riwayat Abu Hurairah, Nabi Saw bersabda:
kemudian rukuklah sampai tumakninah ketika rukuk, kemudian bagkitlah sampai tegak berdiri, kemudian sujudlah sampai tumakninah ketika sujud, kemudian angkatlah (kepalamu) untuk duduk sampai tumakninah ketika duduk, kemudian sujudlah sampai tumakninah ketika sujud,…*lakukan hal ini dalam seluruh sholatmu.”*_ (HR. imam Bukhari No.757 dan imam Muslim No.397).
Tumakninah _(thuma’ninah)_ adalah bagian rukun dalam sholat. Hal ini dijelaskan dalam kitab _al Fiqhu Al Malikiy_ oleh Mazhab Maliki. Tumakninah adalah _amru lil wujud_ yg berarti masuk dalam rukun sholat.*
______________________
B. Sholat Tarawih
Berbagai kaifiyat dalam ibadah sholat Tarawih.
Imam Hanafi, Imam Syafi’i dan Imam Hambali sepakat sholat tarawih 20 rakaat. Sedangkan Imam Maliki sholat tarawih 36 rakaat ditutup witir 3 rakaat.
*Imam Hanafi ra* meyakini bahwa sholat tarawih sebagaimana Umar bin Khattab ra adalah benar (20 rakaat dua salam), dan sholat tarawih hukumnya sunnah muakkad.
Beliu menjelaskan dalam kitab _Fathul Qadir_ bahwa kaum muslimin berkumpul dibulan Ramadhan sesudah isya’ lalu mereka sholat bersama imamnya lima istirahat. Setiap isrirahat dua salam, kemudian ditutup witir.
Dalam kitab _Al-mudawwanah Al Qubro_ *Imam Maliki* mengatakan bahwa Amir Mukminin mengutus utusan kepadaku dan ingin mengurangi rakaat Qiyam Ramadhan yg dilakukan umat di Madinah. Lalu Ibnu Qasim Perawi Mazhab Maliki berkata sholat tarawih itu 36 rakaat ditutup witir 3 rakaat sehingga menjadi 39 rakaat.
Imam Malik mengatakan kepada utusan Amir Mu’minin bahwa sholat tarawih 36 ditambah 3 tidak boleh dikurangi. Inilah yg kudapati di Madinah.
——————
Dalam kitab _Al Muwaththa’_ dari Muhammad bin Yusuf dari As Saib bin Yazid, Imam Maliki berkata Umar bin Khathab ra memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim ad-Dari untuk sholat bersama umat 11 rakaat, dia berkata *”bacaan surah Qur’annya panjang-panjang sehingga kita terpaksa berpegangan ditongkat karena lamanya berdiri dan berakhir hingga menjelang fajar.”*
Ia berkata melalui Yazid bin Ruman “orang-orang sholat pada masa Umar bin Khattab ra dibulan Ramadhan sebanyak 23 raka’at.”
Imam Malik ra juga meriwayatkan dari Yazin bin Khasifah dari As Saib bin Yazid bahwa sholat tarawih dilakukan 20 rakaat tanpa witir. Juga diriwayatkan dari Imam Malik 46 rakaat tambah 3 witir. Inilah yg masyhur dari imam Malik.
——————
Imam Syafi’i ra* dalam karya bliau _al Umm,_ bliau berkata *”sholat malam bulan Ramadhan itu, sholat sendirian lebih aku sukai, dan sy melihat umat di Madinah melaksanakan sholat 39 rakaat, tapi 20 rakaat lebih aku sukai, karena itu diriwayatkan dari Umar bin Khattab.”* Demikian itu juga umat di Makkah dan mereka witir 3 rakaat.
Lalu bliau mejelaskan bahwa sholat di Kairo Mesir juga 20 rakaat 10 salam ditutup 3 witir setiap malam Ramadhan.
—————-
Imam Hambali ra* dalam kitab _Al Mughni_ bahwa sholat Ramadhan/tarawih itu 20 rakaat. Bliau mengikuti sholat tarawih sahabat Umar bin Khattab ra.
—————–
Ibnu Hibban ra* dalam kitab _Fiqih Sunnah_ menjelaskan bahwa *”Sesungguhnya sholat Tarawih itu awalnya 11 rakaat nanun bacaan Qur’annya sangat panjang. Kemudian mereka meringankan bacaan Qur’annya namun menambah jumlah raka’at menjadi 23 raka’at dengan bacaan sedang. Setelah itu mereka meringankan bacaan menjadikan tarawih menjadi 36 rakaat tanpa witir.*”
—————-
*Imam As Subki ra* dalan kitab _al Hawi,_ bliau berpendapat bahwa sholat tarawih itu termasuk _nawafil_ terserah masing-masing, tergantung berat dan ringannya keadaan. Ada yg memilih 11 rakaat naun bacaannya panjang, ada yg memilih 20 raka’at daripada bacaan panjang.
———–
Ibnu Taimiyah ra* dalam _Majmu’ Al Fatawa_ “boleh tarawih 20 rakaat sebagaimana yg masyhur dalam Mazhab Syafi’i atau Hambali, boleh 11 rakaat (sebagaimana riwayat dai Sayyidah Aisyah rha), atau 13 rakaat semuanya baik, tergantung panjang dan pendeknya bacaan. Bahkan boleh 40 rakaat, semuanya afdhol.
Bliau menjelaskan bahwa diambilnya kesepakatan sholat 36 rakaat ditambah witir 3 rakaat di Madinah, padahal awalnya 11 dan 23 raka’at adalah adanya peristiwa penyerangan Madinah oleh Yazid bin Muawiyah tahun 60 H, maka terasa berat Bagi mereka dengan panjangnya bacaan, maka berlakulah 36 ditambah 3 witir di Madinah.
Sebagian ulama juga ada menjelaskan bahwa dahulu sholat tarawih di Makkah itu setiap 4 rakaat diselingi dengan thawaf. Karena di Madinah tidak memiliki keutamaan thawaf di Baitullah maka mereka menggantinya dengan tambahan rakaat sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah S.W.T.
————–
Kitab _al Fiqh ‘ala al Madzahib al Arba’ah_ karya Syekh Abdurrahman Al Jaziri (w.1360 H) dapat dijadikan salah satu referensi.
————-
Al Hafizh Ibnu Hajar* dalam _Fathul Bari_ berpendapat bahwa semua itu variasi / fleksibilitas, bisa 11, 21 atau 23 rakaat tergantung kesiapan dan kesanggupan.
Dari Ibnu Umar Ra, Nabi Saw bersabda: _”Sholat malam itu dua raka’at dua rakaat. Jika kalian khawatir masuk waktu subuh, maka kerjakanlah satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi sholat sebelumnya._ (Hadits Riwayat Imam Bukhari No.990 dan Imam Muslim No 749).
Bahkan ada riwayat bahwa Abu Sufyan ra melaksanakan sholat witir satu rakaat selamanya, namun tidak dijelaskan apakah yg dimaksud Abu Sufyan bin Harb mertua Nabi Saw. Atau Abu Sufyan bin Al Harits sepupu Nabi Saw.
C. Simpul Makna & Keutamaan
Berdasarkan berbagai pendapat yg sepengetahuan dan sebacaan penulis, maka penulis yakini bahwa sholat tarawih itu dapat difahami dan dilaksanakan dengan *_Muwassa’_ yakni lentur, leluasa dan fleksibel sebagaimana pendapat moderat dari Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (mantan Mufti Kerajaan Saudi Arabia).*
Nabi Saw bersabda _”apabila seseorang mengimami orang-orang hendaklah meringankan sholat karena diantara mereka terdapat anak-anak, orang tua, yg lemah, yang sakit dan yg punya hajat (keperluan), dan bila sholat sendirian dapat ia lakukan sesukanya._ (HR. Bukhari).
Dalam hadits yg lain Nabi Saw memberikan jawaban ketika Nabi Saw ditanya oleh para sahabat tentang *bagaimana sholat yg paling afdhol ? Bliau menjawab “berdiri yg lama.”* (HR.Muslim).
Patut juga kita perhatikan bahwa Nabi Saw bersabda _inna afdhola sholaatilmar-i fii baytihi Illaa sholaat al maktuubah_ *(paling afdhol /utama seseorang sholat dirumahnya kecuali yg fardhu (lima waktu).* (HR. Bukhari wa Muslim).
Dan pada akhirnya adalah sholat tarawih di 10 malam terakhir dibulan Ramadhan adalah momentum meningkatkan ibadah dan menghidupkan malam, bangunkan dan ajaklah isteri kita, sebagaimana Nabi Saw mengajarkannya (HR. Bukhari wa Muslim dari Sayyidah Aisyah rha).
_wallahu a’lam_
__________________
_Wisata hati ke negeri Balkan_
_Janganlah lupa nenteng manisan_
Khusyuk menikmati hidangan Ramadhan
Sambil berdo’a kemenangan Iran.
Indonesia, 21 Ramadhan 1447 H.

