SEJARAH LAILATUL QODAR DAN NABI SYAM’UN AS SERTA AMALAN2NYA
Sejarah dan asal usul diturunkannya Lailatul Qadar untuk umat Nabi Muhammad ternyata bermula dari kisah Nabi Syamun (Samson).
Sejarah diturunkannya Lailatul Qadar penting diketahui umat muslim mengingat hal ini sangat jarang dibahas. Dalam satu Hadis dari Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada malam sepuluh yang terakhir dari (bulan) Ramadhan.”
Keutamaan Lailatul Qadar yang lebih afdhal (lebih baik) daripada melakukan ibadah selama 1000 bulan ditegaskan dalam Al-Qur’an:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS Al-Qadar ayat 1-5)
Turunnya malam kemuliaan itu ternyata memiliki kisah menarik. Bermula dari Nabi Syam’un, seorang Nabi dari kalangan Bani Israel yang dikenal memiliki fisik yang kuat melawan kemungkaran.
Nabi Syam’un Ghozi ‘alaihissalam dijuluki Samson. Beliau memiliki beberapa julukan lain. Dalam bahasa Arab, beliau disebut Syamsyawn atau Syam’un. Dalam bahasa Ibrani, disebut Simson. Dalam bahasa Tiberias disebut Shimshon. Dalam Alkitab Nasrani, disebut Samson.
Nama Syamun sendiri artinya “yang berasal dari matahari, sedangkan Al-Ghozi, artinya “yang berasal dari Ghazi (Ghaza, Palestina). Beliau merupakan hakim ketiga terakhir pada zaman Israel kuno.
Nabi Syam’un Ghozi memiliki mukjizat dapat melunakkan besi dan dapat merobohkan istana. Cerita tentang Syam’un ini merupakan cerita Israiliyat yang diceritakan turun temurun di jazirah Arab, jauh sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lahir.
Dalam Kitab Muqasyafatul Qulub karangan Imam Al-Ghazali diceritakan bahwa Rasulullah berkumpul bersama para sahabat di bulan Suci Ramadhan. Kemudian Rasulullah bercerita tentang seorang Nabi bernama Syam’un Ghozi yang membuat beliau tersenyum.
Syam’un adalah Nabi dari Bani Israil yang diutus di tanah Romawi. Dikisahkan, Nabi Syam’un berperang melawan bangsa yang menentang Ketuhanan Allah. Keperkasaan Nabi Syam’un dipergunakan untuk menentang penguasa kaum kafir saat itu, yakni Raja Israil.
Akhirnya sang raja Israil mencari jalan untuk menundukkan Nabi Syam’un. Berbagai upaya pun dilakukan dan diimingi akan mendapat hadiah emas dan permata berlimpah. Singkat cerita, Nabi Syam’un Ghozi terpedaya oleh isterinya.
Karena sayangnya dan cintanya kepada istrinya, Nabi Syam’un berkata pada istrinya, “Jika kau ingin mendapatkanku dalam keadaan tak berdaya, maka ikatlah aku dengan potongan rambutku.”
Akhirnya, Nabi Syam’un diikat oleh istrinya saat ia tertidur. Lalu dia dibawa ke hadapan sang raja. Beliau disiksa hingga dibutakan matanya dan diikat serta dipertontonkan di istana raja.
Karena diperlakukan yang sedemikian hebatnya, Nabi Syam’un berdoa kepada Allah. Beliau berdoa dimulai dengan bertaubat, kemudian memohon pertolongan atas kebesaran Allah.
Doa Nabi Syam’un dikabulkan Allah. Istana raja bersama seluruh masyarakatnya hancur beserta isteri dan para kerabat yang mengkhianatinya. Kemudian Nabi Syam’un bersumpah kepada Allah akan menebus semua dosa-dosanya dengan berjuang menumpas semua kebathilan dan kekufuran yang lamanya 1000 bulan tanpa henti. Semua itu atas Hidayah dari Allah.
Riwayat lain menyebutkan, ketika doanya dikabulkan Allah, Nabi Syam’un menggunakan kekuatannya untuk meruntuhkan seluruh istana sehingga mengorbankan raja dan istri beliau sendiri. Setelah kejadian itu, Nabi Syam’un kemudian bersumpah untuk beribadah selama 1000 bulan (83 tahun 4 bulan) tanpa henti.
Begitulah kisah Nabi Syam’un yang membuat Rasulullah tersenyum. Ketika Rasulullah selesai menceritakan kisah Nabi Syam’un yang berjihad fisabilillah selama 1.000 bulan, para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, kami ingin juga beribadah seperti Nabiyullah Syam’un Ghozi.” Kemudian Rasulullah diam sejenak dan Malaikat Jibril pun datang dan mewahyukan kepada Raulullulah tentang satu malam yang sangat agung.
Bahwa pada bulan Ramadhan ada sebuah malam, dimana malam itu lebih baik daripada 1000 bulan. Itulah Lailatul Qadar yang jika kita mendapatkannya, maka malam itu lebih baik daripada 83 tahun 4 bulan atau menyamai ibadahnya Nabi Syam’un seribu bulan.
Dalam Kitab Qishashul Anbiyaa dikisahkan bahwa Rasulullah tesenyum sendiri, lalu bertanyalah salah seorang sahabatnya, “Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah?”
Rasulullah SAW menjawab: “Diperlihatkan kepadaku hari akhir ketika dimana seluruh manusia dikumpulkan di Mahsyar. Semua Nabi dan Rasul berkumpul bersama umatnya masing-masing, masuk ke dalam surga. Ada salah seorang Nabi yang dengan membawa pedang, yang tidak mempunyai pengikut satupun, masuk ke dalam surga, dia adalah Nabi Syam’un.”
Referensi:
1. Kitab Musyafaqatul Qulub.
2. Kitab Qishaashul Anbiyya.
AMALAN MALAM 10 TERAKHIR DAN LAILATUL QODAR
Malam Lailatul Qadar adalah momen yang paling dinanti oleh setiap Muslim di seluruh penjuru dunia pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Kemuliaannya digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai malam yang “lebih baik dari seribu bulan.” Namun, seringkali muncul persepsi bahwa beribadah di malam mulia ini hanya terbatas pada sholat sunnah semalam suntuk seperti Tahajud atau Sholat Tasbih.
Bagi wanita yang sedang haid, orang yang sedang sakit, atau mereka yang memiliki keterbatasan fisik sehingga tidak bisa berdiri lama untuk sholat masih bisa tetap mendapatkan keberkahan malam lailatul qodar.
Pintu rahmat Allah SWT terbuka sangat lebar. Ada segudang amalan selain sholat yang memiliki bobot pahala luar biasa untuk menjemput ridha-Nya di malam yang penuh cahaya ini.
Sebelum melaksanakan amalan, penting untuk memahami bahwa Lailatul Qadar bukan sekadar ritual fisik, melainkan pendekatan spiritual hati. Allah SWT merahasiakan tanggal pastinya agar umat Islam senantiasa bersemangat beribadah di sepanjang sepuluh malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil.
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3)
Dengan durasi seribu bulan yang setara dengan kurang lebih 83 tahun 4 bulan, setiap dzikir, sedekah, dan doa yang Anda panjatkan di malam tersebut akan dihitung seolah-olah Anda melakukannya selama seumur hidup manusia.
Amalan Utama Selain Sholat
1. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar
Dzikir adalah ibadah yang paling fleksibel. Anda bisa melakukannya sambil duduk, berbaring, atau saat sedang mengurus pekerjaan rumah tangga yang ringan. Di malam Lailatul Qadar, lidah yang basah dengan asma Allah akan menjadi magnet rahmat.
Kalimat Tauhid: Membaca Laa ilaha illallah secara berulang untuk memperkuat akidah.
Tasbih, Tahmid, dan Takbir: Mengagungkan kesucian dan kebesaran Allah.
Istighfar: Ini adalah kunci utama. Memohon ampunan (Astaghfirullah hal adzim) dengan penuh penyesalan atas dosa masa lalu dapat membersihkan noda di hati tepat di saat Allah sedang turun ke langit dunia untuk memberikan ampunan.
2. Membaca dan Mentadabburi Al-Qur’an
Lailatul Qadar adalah malam turunnya Al-Qur’an (Nuzulul Qur’an). Maka, berinteraksi dengan kitab suci ini adalah amalan yang sangat afdhal. Jika Anda tidak sempat menyelesaikan banyak juz, fokuslah pada kualitas.
Bacalah satu surat dengan perlahan.
Pahami artinya melalui terjemahan.
Resapi maknanya ke dalam situasi hidup Anda saat ini.Membaca satu huruf Al-Qur’an saja dibalas dengan sepuluh kebaikan. Bayangkan jika itu dilakukan di malam seribu bulan!
3. Memperkuat Doa Khusus Lailatul Qadar
Rasulullah SAW mengajarkan doa spesifik kepada Ummul Mukminin Aisyah RA ketika ia bertanya apa yang harus diucapkan jika bertemu Lailatul Qadar. Doa ini sangat singkat namun mencakup segala kebutuhan manusia:
$$اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّ
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan menyukai pengampunan, maka ampunilah aku.”
Ulangi doa ini di setiap kesempatan—saat jeda istirahat, sebelum tidur, atau saat santap sahur.
4. Bersedekah Secara Konsisten
Banyak orang melupakan sedekah di malam hari. Padahal, jika Anda bersedekah Rp10.000 di malam Lailatul Qadar, nilainya di sisi Allah sama dengan bersedekah setiap hari selama 83 tahun lebih.
Tips Praktis: Siapkan uang kecil atau gunakan aplikasi pembayaran digital untuk berdonasi ke masjid, panti asuhan, atau platform kemanusiaan setiap malam di 10 hari terakhir. Dengan begitu, Anda dipastikan tidak akan melewatkan sedekah di malam mulia tersebut.
5. Muhasabah (Introspeksi Diri)
Gunakan keheningan malam untuk merenung. Tanyakan pada diri sendiri:
Apa saja kesalahan yang saya lakukan setahun terakhir?
Bagaimana hubungan saya dengan orang tua, pasangan, dan anak-anak?
Apakah harta yang saya peroleh sudah halal?Muhasabah yang dibarengi dengan air mata penyesalan seringkali lebih dicintai Allah daripada ibadah fisik yang dilakukan tanpa penghayatan.
6. Melayani Orang Lain dan Menjaga Silaturahmi
Bagi para ibu yang harus menyiapkan sahur untuk keluarga, atau perawat yang sedang berjaga di rumah sakit, ketahuilah bahwa melayani hamba Allah juga merupakan ibadah. Berbuat baik kepada sesama, memberi makan orang yang berpuasa, atau sekadar mengirim pesan permintaan maaf kepada teman lama bisa menjadi jalan datangnya keberkahan.
*Cara Membagi Waktu di 10 Malam Terakhir
Agar tidak kelelahan dan tetap produktif*
Waktu Amalan yang Bisa Dilakukan
1. Ba’da Isya/Tarawih Sedekah subuh/malam dan membaca Al-Qur’an (1-2 lembar).
2. Pukul 22.00 – 00.00 Istirahat sejenak agar fisik fit untuk bangun di sepertiga malam.
3. Pukul 01.00 – 03.00 Dzikir, Istighfar, Muhasabah, dan doa Lailatul Qadar.
4. Waktu Sahur Memperbanyak doa karena waktu sahur adalah waktu mustajab.
Tips Bagi Wanita Haid
Jangan berkecil hati jika Anda sedang dalam masa tidak suci. Anda tetap bisa meraih Lailatul Qadar dengan:
1.Mendengarkan murrotal Al-Qur’an dengan khusyuk.
2.Memperbanyak dzikir lisan dan hati.
3.Menyediakan hidangan berbuka atau sahur bagi orang lain.
4.Berdoa dengan bahasa Indonesia sekalipun untuk memohon hajat dunia dan akhirat.
Penutup
Lailatul Qadar adalah “booster” spiritual. Jika selama setahun kita merasa jauh dari Allah, inilah kesempatan untuk “pulang”. Tidak ada jaminan kita akan menemui Ramadhan tahun depan. Menganggap setiap malam di sepuluh hari terakhir sebagai malam terakhir kita di dunia akan menumbuhkan rasa khusyuk yang luar biasa.
Lailatul Qadar bukan hanya milik mereka yang berada di dalam masjid. Ia milik siapa saja yang hatinya terpaut pada Allah, yang lisannya sibuk memuji-Nya, dan yang tangannya ringan membantu sesama. Mulailah malam ini dengan niat yang tulus. Jika fisik tak kuat bersujud lama, biarkan hati dan lisanmu yang tak berhenti “mengetuk” pintu langit.
Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang dibebaskan dari api neraka dan mendapatkan predikat hamba yang diampuni di malam Lailatul Qadar.
Semoga bermanfaat🤲🤲🤲🙏

