PERJUANGAN NABI MUHAMMAD SAW (9)
Abdullah Hehamahua
Nabi Muhammad SAW sejak awal kenabiannya, memulai dari internal keluarga. Hal ini dibuktikan dengan keterlibatan langsung Khadijah, sang isteri yang menyelimuti Rasulullah SAW karena menggigil kedinginan ketika baru kembali dari gua Hira.
Dakwah Rasulullah SAW, dimulai dari Keluarga.
Artikel sebelumnya, dikomunikasi-kan masalah yang berkaitan dengan wahyu keempat di mana baginda diperintahkan Allah SWT agar bangkit dan menyampaikan dak’wah secara terbuka. Pakar sirah Rasulullah SAW mengisahkan, ketika selesai baginda menerima waktu keempat tersebut, beliau langsung menanyakan isteri tercinta: ”Wahai Khadijah, kepada siapa yang harus saya mulai menyam-paikan dakwah ini.” Khadijah secara spontan menjawab, ”saya orang perta-ma yang mengimani engkau sebagai Nabi dan Rasulullah.”
Keimanan Khadijah, bukan seka-dar karena hubungan emosional seba-gai suami isteri, tetapi jauh lebih hebat dari itu. Sebab, Khadijah telah menge-nal Muhammad sebagai orang jujur, tekun, disiplin, dan amanah ketika
baginda membawa barang dagangan-nya. Bahkan, setelah berumah tangga, Khadijah menyaksikan bagaimana cin-ta, kasih, dan tanggung jawab baginda terhadap keluarganya.
Khadijah juga menyaksikan beta-pa agungnya akhlak baginda terhadap tetangga, sahabat, handai tolan, bah-kan terhadap orang yang tidak dikenal sekalipun. Logis dan wajar jika kemu-dian Khadijah merupakan orang perta-ma yang mengimani kerasulan Muham-mad SAW.
Orang kedua yang beriman ke Nabi Muhmmad SAW adalah Ali bin Abi Thalib, sepupuh baginda sendiri (masih berusia 10 tahun) yang tinggal seru-mah. Orang ketiga yang masuk Islam adalah Zaid bin Haritsah, seorang budak hitam yang tadinya, pembantu Rasulullah SAW, kemudian dijadikan anak angkat baginda. Konsekwensi lo-gisnya, Zaid bin Haritsah adalah pem-bantu pertama yang masuk Islam.
Ketiga orang ini adalah mereka yang sehari-hari tinggal serumah dengan Rasulullah SAW. Sejarah mencatat, betapa luar-biasanya andil, peran, dan pengorbanan ketiga orang ini dalam perkembangan dakwah Rasulullah SAW sehingga Islam men-capai kejayaan dan kecemerlangan.
Pelajaran Bagi Pejuang Dakwah
Keislaman Khadijah, Ali bin Abi Thalib, dan Zaid bin Haritsah merupa-kan pelajaran utama bagi para pemim-pin, pejabat, dan pejuang dakwah. Se-bab, ada beberapa substansi yang bisa menjadi i’tibar (pelajaran) bagi kita, an-tara lain:
- Segala ide, konsep, dan program sehebat apa pun, tidak akan terlak-sana secara optimal tanpa dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Tak ubahnya seorang salesmanyang menawarkan obat merampingkan tubuh, tetapi dia sendiri gemuk. Itulah sebabnya, Rasulullah SAW bersabda, ”mulailah sesuatu dari diri sendiri.”
Sejarah mencatat, setiap wah-yu yang diterima, sebelum baginda memerintahkan umat Islam, beliau sendiri melaksanakannya lebih du-lu. Hal ini sesuai dengan ayat Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang ber-iman, mengapa kamu mengata-kan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah ke-murkaan di sisi Allah bahwa ka-mu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS As Shaaf: 2 -3 ).
- Suami, isteri, dan anak, harus menjadi pendukung pertama dan utama dalam pelaksanaan setiap kegiatan pemimpin, peja-bat, dan pejuang dakwah. Peja-bat, baik eksekutif, legislatif, yu-dikatif, maupun BUMN/BUMD, tidak optimal kinerjanya tanpa didukung anggota keluarga di rumah. Bahkan, hanya cemohan masyarakat yang diperoleh. Apalagi tetangga meyaksikan perilaku kehidupan anggota ke-luarga pejabat sehari-hari.
Begitu pula halnya di kantor. Konsekwensi logisnya, jika kebi-jakan teknis atasan tidak didu-kung oleh para pejabat struktural dan karyawan, maka selain tar-get tidak tercapai, tenaga, wak-tu, dan biaya juga hilang percu-ma. Konsekwensi logis lanjutan-nya, tak ubahnya kapal di laut yang tidak sampai tujuan karena tenggelam. Sebab, kapal terse-but kemasukan air karena dilo-bangi oleh anak buah sendiri.
- Nabi Muhammad SAW tidak meminta umat Islam melaksa-nakan suatu perintah Allah SWT, sebelum hal tersebut disa-mpaikan ke keluarga beliau. Hal ini sejalan dengan ayat Al-Qur’an:
Wahai orang-orang yang ber-iman, jagalah dirimu dan keluar-gamu dari api neraka yang ba-han bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS At Tahrim: 6).
Simpulan
- Umat Islam sejagat, khususnya Indonesia akan tetap terpuruk se-perti sekarang jika tidak menela-dani perjuangan Rasulullah SAW. Konsekwensi logisnya, keluarga pejabat eksekutif, legislatif, yudika-tif, BUMN/BUMD, elit politik, tokoh, bahkan ulama, harus memulai dengan membangun keluarga rumah tangga masing-masing menjadi Keluarga Sakinah.
- Keluarga Sakinah di setiap rumah tangga harus melahirkan RT, RW, Desa, Kecamatan, Kabupaten/ Kota, provinsi, dan negara sakinah. Itulah baldatun tayyibatuw warab-bun ghafur(negeri yang aman dan sejahtera dalam ampunan Allah SWT). In syaa Allaah !!! (Depok, 9 Ramadhan 1447H/24 Februari 2026).

