PERJUANGAN NABI MUHAMMAD SAW (6)
Abdullah Hehamahua
Nabi Muhammad SAW setelah berdakwah melalui program kaderisasi di rumah Arqam secara senyap selama tiga tahun, mendapat perintah agar melaksanakan dakwah secara terbuka. Allah SWT berfirman:
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya, Kami memelihara daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu)” (QS Al Hijr: 94-95).
Nabi Muhammad SAW setelah menerima wahyu tersebut, mengundang suku Quraisy di bukit Shafa. Rasulullah SAW menyampaikan bahwa, beliau adalah utusan Allah yang membawa kabar gembira dan peringatan mengenai kehidupan akhirat.
Abu Lahab, paman Rasulullah SAW yang hadir di bukit Shafa, justru menentang dan meremehkan dakwah tersebut. “Celaka engkau, apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?,” teriak Abu Lahab. Namun, dakwah secara terbuka pertama kali tersebut menjadikan ajaran Islam mulai dikenal luas dan menjadi bahan pembicaraan di seluruh penjuru Makah. Konsekwensi logisnya, muncul tantangan dari kaum Quraisy. Tantangan tersebut berupa olok-olok, intimidasi, sampai dengan penganiayaan Rasulullah SAW dan para sahabat.
Penganiayaan oleh kaum Quraisy
‘Uqbah bin Abi Mu’ith adalah seorang tokoh Quraisy yang menumpahkan kotoran unta ke punggung Nabi ketika beliau sujud di Ka’bah. Ada pula yang melempari rumah nabi dengan najis. Bahkan, ada yang memukul dan mencekik Rasulullah SAW.
Abu Lahab, tokoh Quraisy yang sering menghina Nabi Muhammad SAW. Bahkan, beliau pernah melempari Rasulullah SAW dengan batu ketika baginda menyampaikan ajaran Islam di pasar-pasar. Tragisnya, Abu Lahab dan isterinya, Ummu Jamil, menyebarkan fitnah dan memprovokasi penduduk Makah untuk memusuhi dan menyakiti baginda. Bahkan, Abu Lahab mendorong anaknya menyakiti Nabi dan merestui anaknya, Utaibah, untuk meludahi wajah Nabi Muhammad. Abu Lahab juga merestui anaknya menceraikan putri Nabi, Ummu Kultsum. Tindakan-tindakan keji tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak (neraka). (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal” (QS Al Lahab: 1 – 5 ).
Penganiayaan Nabi Muhammad SAW juga berupa teror mental dengan menuduh baginda sebagai tukang sihir, orang gila, atau penyair pembohong. Namun, Rasulullah SAW tetap konsisten dengan dak’wahnya karena didukung oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:
“Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Rabb-mu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) akan melihat. Siapa di antara kamu yang gila. Sesungguhnya Rabb-mu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dia-lah Yang Paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Al Qalam: 1 -7)
Pembelaan oleh Allah SWT
Nabi Muhammad SAW dituduh gila. Sebab, secara teologis, semua warga Quraisy, meyembah berhala dan patung-patung yang ada di Ka’bah dan tempat lain. Tetiba, Nabi Muhammad SAW datang dengan ajaran penyembahan Allah, Rabb Yang Esa dan menafikan sesembahan orang Quraisy. Konsekwensi logisnya, baginda dituduh sebagai orang gila. Namun, Allah SWT sendiri yang membela Rasulullah SAW melalui surah Al Qalam ayat 1 – 7 di atas yang intinya.
- Pengakuan Allah SWT atas Budi Pekerti Nabi Muhammad
Khadijah selama 15 tahun bersama Rasulullah SAW (sebelum turun wahyu), mengakui keagungan budi pekerti, tutur bahasa dan perilaku sehari-hari baginda. Bahkan, sebelum menikah, baginda sudah digelar masyarakat Makah sebagai al amin (orang yang dipercaya).
Pujian tulus Khajidjah dan gelar yang diberikan masyarakat Makah terhadap Rasulullah SAW, dibenarkan Allah SWT seperti bunyi ayat 4 di atas: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Dahsyatnya, setelah menjadi Nabi dan Rasul, berfungsi sebagai Kepala Negara serta Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, baginda bukan lupa diri dalam kesombongan dan kemewahan. Baginda justru tambah sederhana dan mencintai umatnya. Bahkan, baginda terkadang shaum sunat karena tiada makanan di rumah. Dahsyatnya, ucapan terakhir dari bibir beliau ketika sakratul-maut adalah “ummati, ummati, ummati” (ummatku, ummatku, ummatku).
- Allah Menjamin Kemenangan Rasulullah SAW
Perjuangan Rasulullah SAW yang penuh cubaan, intimidasi, teror, dan fitnah, berakhir dengan kejayaan. Bahkan, Allah SWT sendiri yang memproklamirkan hal tersebut. Allah SWT berfirman: “Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) akan melihat. Siapa di antara kamu yang gila.”
Simpulan
- Pendakwah, seperti amalan Rasulullah SAW, harus istiqamah, dimulai dari bisikan hati, pikiran, ucapan, tindakan, dan perilaku. Konsekwensi logisnya, selama seorang Pendakwah yakin benar, tidak usah peduli dengan cemohan orang lain. Sebab,di akhir perjalanan, Allah SWT akan menunjukkan, siapa pemenang sejati.
- Pendakwah yang istiqamah harus senantiasa mengokohkan aqidahnya dengan mencintai, memahami, menghayati, dan mengamalkan Al-Qur’an sepanjang hayat. (Depok, 6 Ramadhan 1447H/23 Februari 2026).

