Perjuangan Nabi Muhammad SAW (14)

March 4, 2026

PERJUANGAN NABI MUHAMMAD SAW (14)

Abdullah Hehamahua

 Nabi Muhammad SAW dan para sahabat baru lepas dari pemboikotan  petinggi Quraisy selama tiga tahun. Tetiba, datang ujian baru dalam  keluar-ga Rasulullah SAW yang sangat me-nyedihkan. Sebab, Abu Thalib dan is-teri tercinta, Khadijah, meninggal dunia dalam tahun yang sama. Konsekwensi, kedua peristiwa tersebut disebut seba-gai ‘Amul Huzni’ (tahun dukacita).

Wafatnya Khadijah binti Khuwailid

Khadijah, selain seorang bangsawan, beliau juga adalah konglomerat di Makkah. Beliau biasa mengirim barang dagangannya ke Syam. Khadijah meminta pemuda Mu-hammad mengurusi barang dagangannya. Dampak positifnya, bisnis Khadijah ber-kembang pesat. Dampak positif lanjut-annya, berdasarkan laporan kejujuran Mu-hammad dari pelayan Khadijah, Maisarah, menumbuhkan kekaguman Khadijah terha-dap Muhammad. Khadijah pun jatuh cinta. Khadijah mengutus sahabatnya, Nafisah, menyampaikan keinginannya untuk meni-kahi Muhammad.

Pemuda Muhammad bermusyawarah dengan paman-pamannya, Abu Thalib dan Hamzah. Mereka semua, termasuk pemuda Muhammad setuju atas lamaran Khadijah.

Mereka pun menikah dengan mahar 20 ekor unta. Pernikahan terjadi saat pemuda Mu-hammad berusia 25 tahun dan Khadijah berumur 40 tahun. Mereka dianugerahi enam anak: Abdullah, Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah. Namun, Abdullah dan Qasim meninggal ketika masih bayi.

Sejarah mencatat, Khadijah meru-pakan pendukung utama perjuangan Nabi Muhammad SAW. Beliau, orang pertama yang masuk Islam. Khadijah senantiasa memberi dukungan moral dan selalu menghibur baginda ketika datang pelbagai ujian, pelecehan, dan, penyiksaan yang dilakukan petinggi Quraisy. Bahkan, sebagai seorang har-tawan terkemuka di Makah, seluruh hartanya habis untuk menyukseskan dakwah Rasulullah SAW. Dahsyatnya, ketika meninggal, tidak ada pakaian layak yang dikenakan ke jenazah Kha-dijah. Bahkan, sebelum ajal menjelang, Khadijah meminta jenazahnya dibung-kus dengan selendang yang biasa di-kenakan Rasulullah SAW. Kini, pe-rempuan hebat itu sudah ”pergi” untuk selamanya.

Wafatnya Abu Thalib

Muhammad kecil (enam tahun), sepeninggal ibunda (Aminah), dipelihara kakek, Abdul Muthalib. Namun, dua tahun kemudian, Abdul Muthalib meninggal dunia. Konsekwensi logisnya, Muhammad , sesuai wasiat Abdul Muthalib, dipelihara Abu Thalib, sang paman. Abdul Muthalib mewasiatkan Abu Thalib sebagai pemeli-hara Muhammad kecil karena memiliki sifat pengasih dan penyayang.

Konsekwensi logisnya, Abu Thalib merawat Muhammad dengan penuh kasih sayang layaknya anak kandung sendiri. Abu Thalib, meskipun hidup dalam kondisi ekonomi yang terbatas, mendidik Muham-mad sehingga dewasa. Bahkan, Abu Thalib mengajak Muhammad remaja, berdagang ke Syam.  Namun, dalam perjalanan ter-sebut, seorang pendeta bernama Bahira mengenali tanda-tanda kenabian di diri Muhammad. Bahira menyarankan Abu Thalib untuk segera membawa Muhammad kembali ke Makkah demi keselamatannya.

Abu Thalib merupakan pelindung utama Nabi Muhammad SAW ketika baginda berdakwah sebagai seorang nabi dan rasul. Abu Thalib, meski tidak masuk Islam, tapi beliau sangat gigih membela Nabi Muhammad SAW dari tekanan, ancaman, dan intimidasi petinggi Quraisy. Bahkan, ketika petinggi Quraisy berjanji akan menghentikan pemboikotan, asalkan Abu Thalib menyerahkan Nabi Muhammad untuk dibunuh, beliau tetap menolak. Konsekwensi logisnya, Nabi Muhammad SAW secara manusiawi, sangat sedih atas meninggalnya paman yang memelihara dan melindunginya dari kejahatan Quraisy. Apalagi, Abu Thalib meninggal hanya tiga hari setelah berpulangnya Khadijah, sang isteri. Namun, cobaan terberat yang dihadapi Nabi Muhammad SAW adalah Abu Thalib meninggal dalam keadaan kafir. Ada pendapat yang mengatakan, Abu Thalib, muslim karena beliau me-rahasiakan keislamannya dari tokoh-tokoh Quraisy.   Namun, hadis yang di-riwayatkan Musayyab bin Hazn dalam Sahih Muslim menunjukkan, Abu Thalib meninggal dalam keadaan musyrik. Hadis itu berbunyi: Ketika Abu Thalib menjelang kematian, Rasulullah SAW datang menemuinya. Ternyata di sana sudah ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah bin Mughirah. Lalu Rasulullah saw. berkata: Wahai pa-manku, ucapkanlah: Laa ilaaha illallah, ucapan yang dapat kujadikan saksi terhadapmu di sisi Allah. Tetapi Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah berkata: Hai Abu Thalib, apakah eng-kau membenci agama Abdul Muthalib.? Rasulullah saw. Terus menerus mena-warkan kalimat tersebut dan meng-ulang-ulang ucapan itu ke Abu Thalib, sampai dia mengatakan ucapan ter-akhir ke mereka, bahwa dia tetap pada agama Abdul Muthalib dan tidak mau mengucapkan: Laa ilaaha illallah. Lalu Rasulullah saw. bersabda: Sungguh, demi Allah, aku pasti akan memintakan ampunan buatmu, selama aku tidak dilarang melakukan hal itu untukmu. Kemudian Allah Taala menurunkan firman-Nya: ‘Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) ba-gi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat mereka, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu penghuni neraka jahim.’ Dan mengenai Abu Thalib, Allah Taala menurunkan firman-Nya: ‘Sesungguh-nya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk ke orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk ke orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (HR Muslim No.35).

Simpulan:

  1. Isteri cantik, suami ganteng, peng-usaha kaya, dan raja yang perkasa sebagai pelindung, pasti mati. Hal itu terjadi atas siapa saja, termasuk NabiMuhammad SAW. Konsek-wensinya, setiap orang harus se-nantiasa siap sedia untuk ditinggal oleh orang yang paling dicintai dan dihormati.
    1. Hidayah, mutlak milik Allah SWT sehingga Rasulullah SAW sebagai kemenakan pun, tidak berhasil mengislamkan Abu Thalib. Sebab, beliau tidak ucapkan dua kalimah syahadah. Padahal, rukun Islam pertama, mengucapkan dua kali-mah syahadah. (Depok, 14 Rama-dhan 1447H/3 Maret 2026).