PERJUANGAN NABI MUHAMMAD SAW (13)
Abdullah Hehamahua
Musyrikin Makkah melakukan pel-bagai upaya untuk menghalangi dak-wah Nabi Muhammad SAW. Bahkan, mereka pernah bersekongkol untuk membunuhnya. Namun, upaya terse-but, gagal. Sebab, secara ikhtiari, ada Bani Hasyim dan Bani Muthalib yang membela baginda Rasulullah SAW.
Musyrikin Quraisy sampai ke puncak kejahatan di mana mereka me-lakukan pemboikotan terhadap Nabi Muhammad SAW dan para pengikut-nya. Bahkan, warga Bani Hasyim dan Bani Muthalib yang tidak bergama Islam pun terkena pemboikotan hanya karena melindungi Nabi Muhammad SAW.
Pemboikotan dan Ujian Keimanan
Tokoh-tokoh Quraisy akhirnya berkesimpulan, penghentian dakwah Muhammad harus dilakukan dengan cara blokade ekonomi, politik dan sosial budaya. Namun, jika ditelusuri, penyebab lahirnya kebencian tersebut karena dengki dan angkuh, tanpa argu-mentasi rasional. Sebab, Al-Walid bin Al-Mughirah, seorang tokoh Quraisy berkata: “Bagaimana mungkin diturun-kan kepada Muhammad, tidak ke sa-
ya, sedangkan aku yang menjadi pembesar dan pemimpin suku Quraisy. Tidak diberikan kepada Abu Mas’ud, sedang kami berdua yang menjadi pembesar dua negeri.”
Pernyataan Al Walid ini diabadi-kan Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Dan mereka berkata: “Mengapa Al Quran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?” (QS Az Zuhruf: 31).
Para tokoh Quraisy menempelkan hasil pertemuan mereka berupa peng-umuman di dinding Ka’bah. Peng-umuman itu berisi larangan bagi pen-duduk Makah berhubungan dengan umat Islam serta Bani Hasyim dan Bani Abdul Muttalib. Targetnya, Nabi Mu-hammad, pengikut, dan para pembela-nya, rugi, dan menderita. Kebijakan ‘curang’ itu berisi larangan: (1) Tidak boleh menikahi suku Bani Hasyim dan Bani Muthalib: (2) Tidak boleh bertran-saksi dengan mereka; (3) Tidak boleh membuka jalan nafkah bagi mereka; (4) Tidak boleh berdamai dengan mereka; (5) Tidak boleh membantu mereka dalam hal apa pun.
Pengumuman itu juga menetap-kan, “Barang siapa yang setuju dengan agama Muhammad, berbelas kasihan kepada salah seorang pengikutnya yang masuk Islam, atau memberi tem-pat singgah pada salah seorang dari mereka, maka dia dianggap sebagai kelompoknya dan diputuskan hubung-an dengannya.”
Konsekwensi logisnya, baik umat Islam maupun nonmuslim yang mem-bela Nabi Muhammad SAW terisolasi di celah bukit milik Abu Thalib pada bulan Muharram tahun ke-7 kenabian. Kon-sekwensi logis lanjutannya, seluruh anggota Bani Hasyim dan Bani Mutha-lib diboikot, kecuali hanya seorang, Abu Lahab. Pemboikotan itu berlangsung selama tiga tahun.
Rasulullah SAW Hanya Makan Daun
Nabi Muhammad SAW, para sa-habat, serta keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib tidak memiliki sesuatu yang bisa dimakan. Bahkan, mereka terpaksa memakan dedaunan dan kulit pohon. Tidak hanya itu. Jeritan kaum wanita dan bayi-bayi mengerang di balik kelaparan yang mencekam.
Tragisnya, jika ada sahabat Ra-sulullah SAW mau membeli makanan dari kafilah yang datang ke Makkah, Abu Lahab melarangnya. Bahkan, be-liau berseru ke kafilah itu agar melipat-gandakan harganya sehingga sahabat tadi tidak mampu membelinya.
Allah SWT di tengah penderitaan umat Islam tersebut, menundukkan hati beberapa orang Quraisy untuk mem-bantu baginda dan para sahabat yang terisolir. Hisyam bin Amr misalnya, tokoh yang dimuliakan kaumnya, pada malam hari, secara sembunyi menun-tun untanya yang membawa sembako ke pemukiman umat Islam. Hisyam, ketika tiba di dekat lembah, melepas-kan untanya dan ia berjalan sendiri ke pemukiman umat Islam. Hisyam, pada malam yang lain, membawa pakaian dan keperluan harian lainnya untuk para sahabat dan keluarganya.
Pertolongan Allah SWT
Boikot tersebut berlangsung 3 tahun, mengakibatkan penderitaan umat Islam yang luar biasa. Tindakan itu dikecam oleh beberapa orang dari kalangan Bani Qushay. Mereka berse-pakat untuk membatalkan perjanjian itu. Dahsyatnya, pada waktu Bersama-an, Allah SWT mengutus pasukan rayap untuk memakan lembar peng-umuman yang ada di dinding Ka’bah.
Allah SWT memberitahu Rasulul-lah SAW bahwa, kini lembaran berisi perjanjian itu telah dimakan rayap. Nabi Muhammad SAW lalu menginfor-masikan kabar itu ke pamannya, Abu Thalib. Konsekwensi logisnya, Abu Thalib menginformasikan orang Quraisy agar melepaskan pengumum-an pemboikotan tersebut. Lima tokoh Quraisy, yakni Hisyam bin Amr bin Harits, Zuhair bin Umayyah, Muth’im bin ‘Adi, Abul Bakhtari bin Hisyam, dan Zam’ah bin Aswad, melepaskan peng-umuman pemboikotan tersebut.
Dahsyatnya, sewaktu lembaran pengumuman tersebut dibuka, ternyata isinya sudah hilang dimakan rayap. Hanya lafal ‘Bismikallahumma’ (Allah) yang tertinggal. Mereka pun menemui Bani Hasyim, Bani Muthalib, dan orang-orang yang diboikot tersebut agar mereka bisa bebas dan kembali ke rumah masing-masing.
Simpulan
- Orang beriman dan memilih untuk membela Rasulullah SAW hingga merasakan penderitaan pemboi-kotan itu, sejatinya telah berhasil meneladani kepribadian baginda. Mereka tidak peduli mengalami penderitaan, asalkan tetap berada di jalan yang benar bersama Ra-sulullah SAW dan mendapat ridha Allah SWT. Semua proses kehi-dupan, individu, keluarga, masya-rakat, bangsa, dan negara harus mengikuti SOP yang ditentukan Allah SWT dan teladan Rasul-Nya. Penderitaan yang dialami oleh baginda dan para sahabat dalam blokade tersebut merupakan salah satu butir dari SOP yang harus dijalani. Sebab, untuk memeroleh hasil yang baik, seseorang harus berjuang sungguh-sungguh, ulet, dan tabah dalam menghadapi segala tantangan dan godaan.
- Semua tantangan dan cobaan, harus dihadapi secara akhlaki, yaitu bersyukur ke Allah SWT se-bagaimana dicontohkan Nabi Mu-hammad SAW. Kesusksesan yang diperoleh, pertanda Allah SWT menghargai perjuangan kita. Na-mun, jika ujian, godaan atau musi-bah yang menghampiri, pertanda, Allah SWT masih memasukkan kita dalam daftar absen-Nya. Konsek-wensi logisnya, segera membaiki diri sebelum Allah SWT menjatuh-kan putusan akhir ke kita sebagai seorang fasik, munafik atau bahkan kafir. (Depok, 13 Ramadhan 1447H /2 Februari 2026).
Per

