PERJUANGAN NABI MUHAMMAD SAW (12)
Abdullah Hehamahua
Muhammad SAW, selain sebagai nabi dan rasul, juga seorang pemimpin yang mencintai umatnya. Konsekwensi logisnya, sewaktu penganiyaan umat Islam oleh tokoh-tokoh Quraisy sema-kin meningkat, Rasulullah SAW memin-ta sebagian sahabat untuk hijrah ke Habsyah. Apalagi, setelah syahidnya Yasir dan isterinya, Sumayyah serta Khadib bin Adi. Baginda SAW juga sedih mengetahui penyiksaan yang dialami Bilal bin Rabbah, Ammar bin Yasir, dan Khabbab bin Arts.
Habsyah, Internasionalisasi Dakwah Islam
Nabi Muhammad SAW, ketika turun ayat 16 surah Al Kahfi dan surah Az Zumar ayat 10 pada tahun keempat kenabian, meminta sebagian sahabat untuk meninggalkan Makkah. Allah SWT berfirman:
“Karena kamu juga telah meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah
selain Allah, maka berlindunglah ke dalam gua itu. (Dengan demikian,) niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan bagimu sesuatu yang berguna bagi urusanmu.” (QS Al Kahfi: 16).
Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Ber-takwalah kepada Tuhanmu.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memeroleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersa-barlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS Az-Zumar: 10).
Dua ayat di atas mendorong Nabi Muhammad untuk meminta sebagian sahabat hijrah ke Habsyah (Abesinia) di Afrika Timur. Baginda bersabda: “Pergilah kamu ke merata tempat (ber-pecah-pecah) di muka bumi ini, nanti kelak Allah akan mengumpulkan kamu semula.” Bahkan, Rasulullah SAW menginformasikan: “Sesungguhnya di negeri Habasyah terdapat seorang raja yang tidak membiarkan seorang pun teraniaya di sisinya,”
Hijrah ini terjadi pada tahun ke-5 kenabian, diikuti 11 lelaki dan 4 perem-puan. Mereka dipimpin Usman bin Affan dan isterinya, Ruqayyah (putri Nabi). Hijrah ini merupakan salah satu bentuk ekspor ajaran Islam ke dunia internasional. Sebab, muncul kekhawa-tiran elit Quraisy ketika mengetahui hijrahnya umat Islam. Konsekwensi logisnya, penguasa Quraisy mengirim utusan, menghadap raja Najasyi, me-minta agar umat Islam dideportasi kem-bali ke Makah.
Dialog Jafar ibnu Abu Thalib dan Raja Najasyi
Amr bin ‘Ash dan ‘Abdullah bin Abi Rabi’ah, utusan Petinggi Quraisy, ber- sama banyak hadiah, menghadap Raja Najasyi agar mengenyahkan kaum Muslimin dari Habasyah. Mereka, sambil bersujud ke Raja Najasyi, lalu berkata: “Sesungguhnya ada sekelom-pok orang dari keturunan paman kami tinggal di negeri Tuan. Mereka tidak menyukai kami, juga agama kami.”
Jafar ibnu Abu Thalib sebagai jubir Muhajirin, sewaktu masuk ke tempat Raja Najasyi, hanya mengucapkan sa-lam tanpa bersujud. “Mengapa engkau tidak bersujud kepada Raja,?” tanya para pembantu Najasyi. Ja’far menja-wab,”Kami tidak bersujud, kecuali ke Allah semata.”
Ja’far ketika menjawab pertanyaan Najasyi, menjelaskan: ”Sesungguhnya Allah telah mengutus seorang rasul kepada kami. Dia menyuruh kami agar tidak bersujud kepada siapa pun, kecuali kepada Allah , melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Kami sebelumnya musyrik, menyembah berhala dan memakan bangkai, berbuat dzalim terhadap tetangga, menghalalkan yang haram. Kami saling membunuh dan menumpahkan darah. Tidak menghalalkan sesuatu yang dihalalkan dan tidak mengharamkan sesuatu yang diharamkan. Namun, setelah Allah mengutus seorang nabi dari jiwa kami sendiri, kami mengetahui kepribadian beliau yang selalu menepati janji, jujur dan amanah, lalu beliau menyeru kami untuk menyembah Allah semata dan tidak mengsyirikkan-Nya, menyambung tali silaturrahim, berbuat baik kepada tetangga, melakukan shalat dan puasa serta tidak menyembah kepada selain-Nya”.
“Namun, mereka bertentangan dengan Anda dalam masalah Isa ibnu Maryam,” kata Amr, duta Quraisy. Na-jasyi langsung menanyakan Jafar, ”Apa yang kalian katakan tentang Isa ibnu Maryam, dan juga tentang ibunya?” Ja’far menjawab dengan membacakan surah Maryam, ayat 19 – 21: “Dia (Jibril) berkata, “Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu untuk memberikan anugerah seorang anak laki-laki yang suci kepadamu. Dia (Jibril) berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu sangat mudah bagi-Ku dan agar Kami menjadikannya sebagai tanda (kebesaran-Ku) bagi manusia dan rahmat dari Kami. Hal itu adalah suatu urusan yang (sudah) diputuskan. Maka, dia (Maryam) mengandungnya, lalu mengasingkan diri bersamanya ke tempat yang jauh” (QS Maryam: 19 – 21)
Najasyi dan para pendeta pun menangis ketika mendengar ayat Qur’an tersebut ”Sungguh ucapan itu keluar dari lentera yang dibawa oleh nabi Isa. Wahai, orang-orang Haba-syah.! Wahai, para pendeta.! Demi Allah.! Mereka tidak menambahkan perkataan apapun pada keyakinan kita tentang Isa. Kami mengucapkan sela-mat kepada kalian dan kepada orang yang mengutus kalian. Aku bersaksi, bahwa dia adalah Rasulullah. Dialah orang yang kami temukan dalam Injil. Dialah rasul yang dikabarkan oleh Isa ibnu Maryam. Tinggallah kalian di ma-napun yang kalian inginkan! Demi Allah, kalau bukan karena kekuasaan yang ada padaku, maka sungguh aku datangi dia, sehingga aku menjadi orang yang membawakan sandalnya.”
Simpulan
- Islam berjaya karena selain didu-kung bangsa sendiri, juga diakui oleh dunia internasional.
- Jafar bin Abu Thalib dalam dialog-nya, sangat fasih menjawab perta-nyaan-pertanyaan Najasyi. Sebab, selain menguasai Al-Qur’an dan As-Sunnah, Jafar ikhlas, jujur, dan hanya mengharapkan ridha Allah sehingga tidak takut menghadapi seorang raja dengan disaksikan penguasa Quraisy. (Depok, 12 Ramadhan 1447H/1 Maret 2026).

