Paradigma Ketauhidan (7): Allah Sebagai Pelindung

October 30, 2026

PARADIGMA KETAUHIDAN (7): ALLAAH SEBAGAI PELINDUNG
(Kuliah Subuh di Masjid Al Ikhwan, Komplek Hankam, Depok)
Abdullah Hehamahua

Kita sudah komunikasikan enam paradigma ketauhidan, yakni Allaah sebagai Perencana, Pencipta, Pemilik, Penguasa, Pentadbir, dan Pengawas. Subuh ini, kita komunikasikan Allaah sebagai Pelindung.

Banyak peristiwa yang dapat dijadikan rujukan mengenai Allaah sebagai Pelindung. Namun, karena terbatasnya waktu, subuh ini hanya disebutkan dua peristiwa, yakni:
1. Allaah SWT sebagai Pelindung Rasulullah SAW

Rasulullah SAW, selesai perang Dzatur Riqa, beristiraht di bawah pohon kurma. Ghaurats bin Al-Harits dari Suku Muharib, tetiba menodongkan pedangnya ke leher Rasululullah SAW “Siapa yang dapat melindungimu dariku?,” kata Da’tsur. “Allaah.” jawab Rasulullah SAW dengan tegas.

Masyaa Allaah. Pedang Ghaurats jatuh ke tanah. Beliau gentar atas kuasa Allaah yang melindungi Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW langsung mengambil pedang tersebut dan mengacungkannya ke Ghaurats

 

sambil bertanya, “Sekarang siapa yang dapat melindungimu dariku?”

Ghaurats langsung memohon ampun. Baginda SAW memaafkan dan membebaskannya dengan syarat, beliau tidak akan memerangi Nabi atau membantu kelompok lain untuk memusuhi Rasulullah SAW.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, peristiwa ini merupakan asbabun nuzul turunya surah Al Maidah, ayat 11:
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakal.” (QS Al Maidah: 11).

2. Allaah Melindungi Nabi Musa AS
Nabi Musa AS bersama kaumnya lari meninggalkan Mesir. Fir’aun yang mencium rencana Nabi Musa tersebut, memerintahkan tentaranya untuk mengejar Musa dan kaum setelah mendengar kokok ayam. Kadarullah, pada subuh tersebut, dengan kuasa-Nya, tidak ada ayam jantan yang berkokok. Konsekwensinya, Musa dan kaumnya sudah jauh meninggalkan Mesir. Namun, mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan karena di hadapan mereka, Laut Merah sementara Fir’aun dan pasukannya sudah mendekat.

Ibnu Katsir dalam Tafsirnya mengatakan, Allaah SWT perintahkan Musa agar memukulkan tongkatnya ke laut. Subhanallah, dengan ijin-Nya, air laut terbelah dan membentuk jalan yang kering. Otomatis, pengikut Nabi Musa yang menurut Ibnu Katsir berjumlah di antara 600.000 hingga 670.000 orang, berhasil menyeberang.

Dahsyatnya, setelah Musa dan pengikutnya tiba di seberang laut, Allaah SWT menutup kembali laut tersebut. Konsekwensinya, Fir’aun dengan bala tenteranya mati tenggelam. Peristiwa ini diabadikan Allaah SWT dalam Al Qur’an:
Dan (ingatlah), ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami menyelamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir‘aun) dan pengikut-pengikutnya, sedangkan kamu sendiri menyaksikan. (QS Al Baqarah: 50).

Dahsyat lanjutannya, mayat Fir’aun diselamatkan Allaah SWT sebagai itibar bagi manusia kemudian hari. Allaah SWT berfirman:
“Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami.” (Surat Yunus: 92).

ALLAAH SWT SEBAGAI PELINDUNG
Allaah SWT sebagai Pengawas yang dibahas bulan lalu, membawa konsekwensi logis, Allaah SWT sebagai Pelindung. Sebab, dalam status sebagai Pengawas, kapan dan di mana saja, Allah SWT melindungi siapa saja yang menurut-Nya, patut dilindungi
Ayat Al- Qur’an yang menyebutkan Allaah SWT sebagai Pelindung, antara lain:

“Allah Pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman)…” (QS Al Baqarah: 257).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, Allaah memberi hidayah ke hamba-Nya yang mengikuti keridaan-Nya menuju jalan keselamatan, serta mengeluarkan mereka dari kegelapanm, kekufuran, dan keraguan menuju cahaya kebenaran yang terang dan mudah.
Ibnu Katsir juga menjelaskan, Pelindung orang-orang kafir adalah setan (serta segala bentuk Thaghut), yang menampakkan kebodohan dan kesesatan sebagai sesuatu yang indah. Konsekwensinya, mereka sesat dari jalan yang benar menuju kekufuran. Konsekwensi lanjutannya, orang-orang kafir yang berada dalam kesesatan tersebut adalah penghuni neraka dan mereka akan kekal di dalamnya. Sebaliknya, orang-orang mukmin, dalam kondisi apa pun mereka hanya berlindung ke Allaah SWT sebagaimana firman-Nya:
“…dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung.’” (QS Ali Imran: 173).

Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, menyebutkan, asbabun nuzul ayat ini berkaitan dengan sikap orang-orang mukmin yang menerima berita mengenai pasukan musuh yang akan menyerang mereka. Berita ancaman tersebut tidak membuat mereka takut. Bahkan, mereka merespons ancaman tersebut dengan ucapan penuh kepasrahan dan tawakal: “Hasbunallahu wa ni’mal wakil” (Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung).

Allaah SWT di ayat lain, berfirman:
“Atau apakah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Dia? Padahal, hanya Allaah-lah pelindung (yang sebenarnya). Dia menghidupkan orang-orang mati dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Asy Syura: 9).
Ibnu Katsir dalam Tafsirnya mengatakan, ayat ini menegaskan kecaman Allaah terhadap orang-orang musyrik yang bergantung ke sesembahan selain Allaah sebagai Pelindung. Konsekwensi logisnya, hanya Allaah SWT yang berhak menjadi Pelindung hakiki. Sebab, segala manfaat dan mudarat berada dalam genggaman-Nya. Olehnya, di lain ayat, Allaah SWT berfirman:

“…Dan bertawakallah kepada Allaah. Dan cukuplah Allaah sebagai Pelindung.” (QS Al Ahzab: 48).

Ibnu Katsie dalam Tafisrnya mengatakan, ayat ini merupakan bagian dari rangkaian ayat (ayat 45–48) yang menjelaskan tugas kenabian sekaligus instruksi agar Nabi Muhammad SAW:
(a) Tidak menuruti keinginan atau bujukan orang-orang kafir dan munafik; (b) Mengabaikan gangguan atau cemoohan mereka terhadap dakwah Islam; (c) Bertawakal terhadap Allaah karena Dia cukup sebagai Pelindung segala urusan.

(Masjid Al Ikhwan, Komplek Hankam, Kelapa Dua, 25 Oktober 202)