Memetik Pelajaran Dari Sejarah
JENDERAL A YANI PERNAH MAU MENANGKAP JENDERAL AH NASUTION.
Ketika jelang berhenti sebagai KSAD,Nasution setelah menjabat KSAD selama lk 10 tahun,Nasution mengajukan 4 nama ke Presiden Soekarno untk menjadi penggantinya :
1.Letjen Gatot Soebroto
2.Mayjen Soeharto
3.Mayjen A Yani
4.Mayjen R Soedirman( bapaknya Basofi Soedirman).
Soekarno memilih A Yani. Gatot Soebroto dianggap sdh terlalu senior.
Soeharto diduga kecewa karena merasa lbh senior dari A Yani. R.Soedirman tak terdengar reaksinya.
Sejak saat itu A Yani mentereng karirnya. KSAD disebut sebagai Menteri/ Panglima TNI AD. Menjadi Kastaf Komando Tertinggi( KOTI) dibawah Presiden Soekarno sebagai Panglima Tertinggi ABRI.
Sementara Nasution “terlempar keatas” sebagai Menko Hankam/ Kepala Staf Angkatan Bersenjata ( tak menguasai pasukan lagi, hanya urusan administrasi). “Terlempar keatasnya” Nasution diduga hasil lobby PKI yg saat itu sangat benci dg Nasution yg keras anti PKI. Sementara Soekarno sedang gencar mempromosi ide Nasakom( Nasional Agama Komunis) yg didukung kuat oleh PKI.
Diduga Nasution yg saat itu berusia lk 44 tahun kecewa. Mungkin berharap jd Panglima ABRI dlm struktur yg dia bayangkan atau minimal sbg Kas Koti mengingat jasa jasanya merebut Irian Barat, mengorganisir kembali ke UUD45, Nasionalisasi perusahaan Belanda, membangun fasilitas, struktur dan kultur TNI AD, memperkenalkan konsep JALAN TENGAH TNI sehingga TNI tak tergoda kudeta seperti trend militer di Asia, Afrika dan Amerika Latin waktu itu, ikut mendirikan Sekber Golkar, memimpin OPERASI BUDHI dan PARAN dlm rangka memberantas korupsi, memadamkan PRRI, DI/ TII dll.
Jendral A Yani mengganti Jen AH Nasution sbg KSAD sekitar Juni 1962. A Yani adalah Deputi AD yg dipercaya oleh Nasution.Prestasinya bagus seperti mengatasi PRRI.
Namun dlm hubungan mereka ada juga korsluitingnya misal nya :
1. Yani melakukkan penggantian beberapa Pangdam tanpa diskusi dg Nasution.
2.Gaya hidup A Yani yg parlente di eranya berbeda dg Nasution yg sederhana dan puritan. Nasution pernah menegur Yani soal kepemilikan villa di Puncak. Sesuatu yg tergolong mewah utk tentara di era itu.
3.Yani sbg orang Jawa menempatkan Soekarno sbg bapak, sementara Nasution yg tidak suka terhadap Soekarno karena memberi angin kepada PKI bersikap dingin dan zakelijk.Nasution mengorganisir perlawanan terhadap PKI seperti membentuk Hansip, Menwa, Pergururuan Tinggi Islam, Harian Angkatan Bersenjata, PAB, Harian Berita Yudha dll.
Saat itu Yani adalah Menteri/ Panglima AD yg menguasai pasukan, sementara Nasution adalah Menko Hankam /KASAB, jabatan mentereng tapi tanpa menguasai pasukan.
4.Suatu saat Nasution yg tak pegang komando memerintahkan Kol Hasan Basri yg panglima di Kalimantan melakukan operasi intelijen dlm kaitan dg Dwikora. Ini membuat A Yani marah ke Nasution. Karena Nasution tak berwewenang mengerahkan pasukan. Apa pertimbangan Nasution tentu kita hrs baca dalam memoarnya.
5.Suatu saat Nasution sbg Ketua Penertiban Aparatur Negara ( PARAN) memerintahkan utk menyelidiki Markas AD. Yani marah lagi ke Nasution. Membuat Bung Karno memberhentikan operasi PARAN.
6. Dua hal tsb pd 4 dan 5 diatas membuat Yani memerintahkan mencabut pengawalan Nasution dan menurut Prof Salim Said Yani akan menangkap Nasution dg memerintahkan Mayjen Suprapto. Namun senior senior AD seperti R Soedirman, Sarbini, Soeharto dll melarang Yani melakukan itu sehingga penangkapan di batalkan.
Pengawalan Nasution diambil alih oleh Kodam Siliwangi, Pangdam Ibrahim Adjie mengirim 1 peleton pengawal baru.
Mengutip ulasan Ulf Sundhaussen, Harold Crouch dll,
Konflik antara Ahmad Yani dan Abdul Haris Nasution memang nyata, tetapi sering disederhanakan hanya sebagai konflik pribadi. Padahal, jika ditarik lebih dalam, itu adalah konflik struktur kekuasaan, perbedaan strategi politik militer, dan perebutan pengaruh di sekitar Soekarno pada periode 1962–1965.
1. Latar belakang adalah “dualisme kekuasaan” di tubuh AD
Setelah 1962, terjadi konfigurasi unik:
A. Yani KSAD (penguasa pasukan nyata),
Nasution Menko Hankam / KASAB (otoritas formal, tapi tanpa komando langsung)
Ini menciptakan situasi yang oleh banyak analis disebut:
“dua matahari dalam Angkatan Darat”
Masalah utamanya:
Soekarno sengaja membagi kekuatan untuk mencegah kudeta militer.
AD jadi tidak solid secara komando strategis
Jadi konflik bukan sekadar pribadi, tapi desain politik Soekarno
2. Perbedaan karakter dan orientasi politik
Gaya hidup dan kultur militer
Nasution adalah
puritan, keras, intelektual.
Arsitek “Dwifungsi ABRI”
Anti gaya hidup mewah.
Sementara Yani
Lebih “field commander”,
lebih dekat dengan gaya elite Jakarta dan
dianggap sebagian perwira lebih pragmatis
Jadi Ini bukan sekadar gaya hidup, tapi mencerminkan
Nasution sebagai militer ideologis.
Yani sbgai militer operasional dan loyal ke Presiden
3.Sikap terhadap Soekarno & PKI.
Ini titik konflik paling krusial.
Yani loyal kepada Soekarno.
Menolak PKI, tapi tidak konfrontatif,
menjaga keseimbangan (tidak ingin bentrok langsung).
Sementara Nasution
curiga keras terhadap PKI.
Menganggap Soekarno terlalu memberi ruang PKI.
Lebih siap untuk langkah keras.
4. Kasus Hasan Basri dlm rangka Dwikora.
Nasution memerintahkan operasi intelijen ke wilayah Kalimantan
Dilakukan tanpa koordinasi penuh dengan KSAD (Yani)
Bagi Yani Ini pelanggaran rantai komando.
Bisa memicu konflik dengan Malaysia/Inggris tanpa kontrol
Sementara bagi Nasution
Ini bagian dari fungsi strategis Hankam. Ini menunjukkan konflik otoritas: “siapa sebenarnya pengendali militer?”
5.Kasus PARAN (Penertiban Aparatur Negara)
Nasution memerintahkan penyelidikan ke tubuh AD sendiri
Dampaknya Yani melihat ini sebagai “intervensi politik”
“ancaman terhadap stabilitas internal AD”
Soekarno akhirnya menghentikan operasi ini
Artinya Soekarno lebih percaya Yani untuk stabilitas AD
Nasution mulai “dipinggirkan secara halus”.
6.Strategi Soekarno: divide and balance.
Soekarno tidak ingin AD terlalu kuat
Tidak ingin satu jenderal dominan
Maka Yani diberi komando pasukan.
Nasution diberi posisi tinggi tapi “dikunci”
Ini menciptakan konflik struktural.
7. Persaingan generasi militer,
Nasution adalah generasi perintis (revolusi)
Yani adalah generasi berikutnya (profesionalisasi)
Ada ketegangan
senioritas vs efektivitas operasional.
8.Bayangan kudeta dan paranoid politik.
Periode 1963–1965 adalah periode ketegangan tinggi:
PKI vs AD.
Semua pihak saling curiga:
Nasution curiga PKI sementara Soekarno dan
Yani curiga manuver politik di luar kontrolnya.
9. Menjelang 1965, posisi akhir Yani dan Nasution.
Yani tetap KSAD,
Orang kepercayaan Soekarno.
Menjadi target utama dalam Gerakan 30 September 1965
Sementara Nasution
secara politik melemah namun
selamat dari penculikan G30S.
Kemudian bangkit kembali sbg Ketua MPRS pasca 1965.
Mungkin konflik internal AD ini dimanfaatkan oleh apa yg disebut Perwira Progresif Revolusioner merancang G30S binaan PKI. Seusai pemakaman para jendral korban, ibu Yani jatuh pingsan di depan Jen Nasution. Setelah tersadar berjanji akan menemui Jen Nasution di kediaman. Saat bertemu di kemudian hari Ibu Yani menyesalkan terjadi korsluiting hubungan Pak Yani dg Pak Nas. Mungkin kalau selalu kompak tak akan terjadi tragedi luar biasa itu.
Wallahu alam.
***MHT19042026***

