PIDATO KETUA UMUM PARTAI MASYUMI
Pada Pelantikan Pengurus DPD Partai Masyumi Kota Bogor
Dr. Ahmad Yani, S.H.,M.H
Tema:
“Membangun Indonesia dengan Keberkahan Melalui Peradaban Politik.”
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh, wa na’udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a’malina. Man yahdihillahu fala mudhilla lah, wa man yudhlil fala hadiya lah.
Ashhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah. Wa ashhadu anna Sayyidana Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.
Yang saya hormati para ulama, para habaib, para pimpinan pondok pesantren, para pimpinan ormas Islam, para akademisi, para tokoh masyarakat, para tamu undangan, serta seluruh keluarga besar Partai Masyumi Kabupaten Bogor dan Kota Bogor yang hari ini dilantik.
Mengawali pidato ini, izinkan saya menyampaikan sebuah pantun.
Gunung Salak berdiri perkasa,
Mengalir jernih air Cisadane.
Jika perjuangan dilandasi takwa,
Insya Allah bangsa mulia selamanya.
Hadirin yang saya muliakan,
Hari ini bukan sekadar hari pelantikan. Hari ini adalah hari ketika kita mengikat janji kepada Allah SWT. Hari ini adalah hari ketika kita mengikat janji kepada umat. Dan hari ini adalah hari ketika kita mengikat janji kepada bangsa Indonesia. Jabatan yang kita terima bukanlah kemuliaan yang harus dibanggakan.
Jabatan adalah amanah, Jabatan adalah pengorbanan, Jabatan adalah pertanggungjawaban. Allah SWT telah mengingatkan kita
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا
Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.“ (QS. An-Nisa’ : 58).
Ayat ini bukan hanya ditujukan kepada hakim atau pejabat negara. Ayat ini ditujukan kepada setiap orang yang menerima amanah kepemimpinan.
Rasulullah SAW bersabda :
كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi.”
Artinya : “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, saya ingin mengingatkan kepada seluruh pengurus yang hari ini dilantik.
Jangan pernah melihat jabatan sebagai fasilitas. Jangan pernah melihat jabatan sebagai kebanggaan. Tetapi lihatlah jabatan sebagai ibadah. Lihatlah jabatan sebagai ladang amal. Lihatlah jabatan sebagai amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Saudara-saudaraku,
Partai Masyumi tidak lahir karena ambisi kekuasaan. Partai Masyumi lahir dari rahim perjuangan umat. Masyumi lahir sebagai gerakan moral. Masyumi lahir sebagai gerakan dakwah. Masyumi lahir sebagai gerakan kebangsaan. Dan Masyumi lahir untuk membangun Indonesia yang adil, makmur, bermartabat, dan diridhai Allah SWT.
Mohammad Natsir pernah mengingatkan bahwa Islam bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga memberi pedoman bagaimana membangun masyarakat dan negara yang berkeadilan. Politik, dalam pandangan beliau, bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran dan kemaslahatan.
Zainal Abidin Ahmad juga mengajarkan bahwa kekuasaan tidak boleh menjadi tujuan. Kekuasaan hanyalah amanah untuk menegakkan hukum, mewujudkan keadilan, dan memelihara martabat manusia. Negara yang besar bukanlah negara yang hanya kuat secara militer atau ekonomi, melainkan negara yang menjadikan moral dan keadilan sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
Prawoto Mangkusasmito telah memberikan teladan bahwa integritas tidak boleh dikorbankan demi kepentingan politik sesaat. Mohammad Roem menunjukkan bahwa kecerdasan, dialog, dan akhlak dapat menjadi jalan perjuangan yang bermartabat. Buya Hamka mengingatkan bahwa apabila akhlak pemimpin runtuh, maka kerusakan bangsa tinggal menunggu waktu.
Hadirin yang saya hormati,
Di sinilah kita harus jujur melihat keadaan bangsa. Indonesia bukan negara miskin.
Indonesia adalah salah satu negara yang paling kaya di dunia. Allah SWT mengaruniakan kepada negeri ini tanah yang subur, laut yang luas, hutan tropis yang menjadi paru-paru dunia, cadangan nikel, timah, bauksit, emas, tembaga, gas alam, batu bara, panas bumi, serta keanekaragaman hayati yang luar biasa.
Allah juga menganugerahkan bonus demografi berupa jutaan anak muda yang cerdas, kreatif, dan penuh semangat. Lalu mengapa kemiskinan masih ada? Mengapa pengangguran masih tinggi? Mengapa ketimpangan sosial masih kita rasakan? Jawabannya bukan karena rakyat Indonesia malas. Jawabannya bukan karena Indonesia miskin.
Persoalan besar bangsa ini adalah bagaimana kita mengelola amanah tersebut dengan tata kelola yang baik, pemerintahan yang bersih, penegakan hukum yang adil, dan kepemimpinan yang berintegritas. Korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan lemahnya integritas masih menjadi tantangan besar. Berbagai perkara yang terungkap dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa persoalan tersebut dapat melibatkan oknum di berbagai sektor. Ini menjadi pengingat bagi kita bahwa pembenahan harus dilakukan secara menyeluruh, dengan menjunjung tinggi proses hukum yang adil dan tanpa pandang bulu.
Karena itu, perjuangan Partai Masyumi bukan sekadar memenangkan pemilu. Perjuangan kita adalah membangun sistem yang bersih. Membangun birokrasi yang melayani. Membangun penegakan hukum yang adil. Membangun ekonomi yang berkeadilan. Dan membangun manusia Indonesia yang berakhlak mulia.
Allah SWT telah mengingatkan
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum : 41).
Ayat ini adalah peringatan bahwa kerusakan tata kelola, penyalahgunaan amanah, dan lunturnya moral akan membawa dampak bagi kehidupan bangsa. Karena itu, solusi yang kita tawarkan bukan hanya pergantian pemimpin, tetapi pembaruan karakter, sistem, dan budaya politik.
Masyumi ingin menghadirkan politik yang beradab, yang memuliakan rakyat, menghormati hukum, dan menjadikan amanah sebagai dasar setiap kebijakan.
MELAKUKAN KONSOLIDASI DARI PENGURUS SAMPAI RANTING
Hadirin yang saya hormati,
Setelah ideologi kita kokoh, pekerjaan besar berikutnya adalah membangun organisasi yang hidup. Organisasi yang besar bukan diukur dari megahnya kantor atau banyaknya atribut. Organisasi yang besar adalah organisasi yang denyut nadinya terasa sampai ke desa, kelurahan, dusun, bahkan sampai ke lingkungan terkecil masyarakat.
Karena itu saya menginstruksikan kepada seluruh pengurus DPD Kota Bogor agar dalam waktu yang terukur melakukan konsolidasi organisasi secara menyeluruh. Pastikan DPC bergerak. Pastikan PAC hidup. Pastikan kepengurusan desa dan kelurahan terbentuk. Dan yang paling penting, bangunlah ranting-ranting yang aktif sebagai ujung tombak perjuangan.
Jangan pernah merasa puas hanya karena memiliki Surat Keputusan kepengurusan. Yang kita perlukan bukan organisasi yang hanya hidup di atas kertas. Yang kita perlukan adalah organisasi yang hidup di hati masyarakat.
Allah SWT berfirman :
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Artinya : Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali ‘Imran : 104).
Ayat ini mengajarkan bahwa organisasi bukan sekadar alat politik, tetapi juga sarana dakwah, pendidikan, dan pelayanan kepada umat.
MEMBANGUN JEJARING UMAT
Saudara-saudaraku,
Masyumi lahir dari persatuan umat. Karena itu, Masyumi tidak boleh membangun tembok pemisah. Masyumi harus membangun jembatan persaudaraan. Saya mengajak seluruh pengurus untuk menjalin silaturahmi dengan para ulama, para kiai, para habaib, pimpinan pesantren, para cendekiawan, dan tokoh masyarakat. Bangun komunikasi dengan Dewan Kemakmuran Masjid.
Hidupkan hubungan dengan majelis taklim. Perkuat sinergi dengan lembaga pendidikan Islam. Jalin ukhuwah dengan organisasi-organisasi Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persatuan Islam (Persis), Al-Irsyad, Mathla’ul Anwar, Dewan Dakwah, Dewan Masjid Indonesia, Badan Kontak Majelis Taklim, dan berbagai organisasi kemasyarakatan Islam lainnya.
Perbedaan organisasi tidak boleh menjadi alasan untuk memutus persaudaraan.
Allah SWT berfirman :
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَࣖ
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati”. (QS. Al-Hujurat : 10).
Masyumi harus menjadi perekat persatuan umat, bukan sumber perpecahan. MEMENANGKAN GENERASI MILENIAL, GENERASI Z, DAN GENERASI ALPHA
Hadirin yang saya muliakan,
Pemilu 2029 akan sangat ditentukan oleh generasi muda. Mereka bukan hanya pemilih terbesar. Mereka adalah pemimpin Indonesia pada masa depan. Karena itu saya meminta seluruh pengurus mengubah cara berkomunikasi. Jangan hanya berbicara kepada anak muda. Tetapi berbicaralah dengan bahasa yang dipahami anak muda.
Masuklah ke dunia mereka.
Masuklah ke ruang digital mereka. Masuklah ke media sosial mereka. Masuklah ke ruang-ruang kreativitas mereka. Masyumi harus hadir di TikTok, Instagram, Facebook, X, YouTube, podcast, dan berbagai platform digital, bukan untuk menyebarkan kebencian, tetapi menyebarkan ilmu, inspirasi, optimisme, dan solusi. Berikan ruang kepada anak-anak muda untuk memimpin. Percayakan mereka mengelola media sosial.
Libatkan mereka dalam riset, teknologi, kecerdasan buatan (AI), ekonomi kreatif, koperasi modern, dan kewirausahaan. Jangan jadikan mereka hanya pelengkap acara.Jadikan mereka bagian dari pengambil keputusan. Rasulullah SAW mempercayakan amanah kepada para sahabat muda yang memiliki kemampuan dan integritas. Itu menunjukkan bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk mengemban tanggung jawab besar apabila dibarengi ilmu, akhlak, dan amanah.
HADIR DI TENGAH RAKYAT
Saudara-saudaraku,
Saya ingin seluruh pengurus mengubah paradigma perjuangan. Jangan hanya datang kepada rakyat ketika musim kampanye. Datanglah ketika rakyat sedang kesulitan. Masuklah ke sawah bersama petani. Dengarkan keluhan nelayan. Bantu UMKM mendapatkan akses pembiayaan dan pemasaran.
Dampingi para guru, santri, buruh, pedagang kecil, penyandang disabilitas, dan masyarakat yang membutuhkan. Apabila terjadi banjir, longsor, atau bencana, Masyumi harus menjadi yang pertama hadir. Apabila ada rakyat yang kesulitan memperoleh pelayanan publik, Masyumi harus menjadi yang pertama membantu.
Rasulullah SAW bersabda :
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Artinya : “Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim).
Inilah politik yang diajarkan Islam. Politik pelayanan. Politik pengabdian. Politik yang menghadirkan manfaat bagi rakyat.
Saudara-saudaraku,
Saya ingin seluruh pengurus mengingat satu prinsip “Jangan bertanya apa yang rakyat bisa berikan kepada Masyumi. Tetapi bertanyalah, apa yang Masyumi dapat berikan kepada rakyat”.
Jika Masyumi dicintai rakyat, maka dukungan politik akan datang sebagai buah dari pengabdian, bukan sebagai hasil dari transaksi. Itulah jalan perjuangan yang diwariskan para pendiri Masyumi, dan itulah jalan yang harus kita teruskan menuju Indonesia yang adil, maju, bermartabat, dan penuh keberkahan.
MEMBANGUN INDONESIA DENGAN KEBERKAHAN MELALUI PERADABAN POLITIK
Hadirin yang saya muliakan,
Pada akhirnya, izinkan saya menyampaikan pertanyaan yang paling mendasar. Untuk apa Partai Masyumi berjuang? Apakah sekadar untuk memperoleh kursi DPR? Apakah sekadar memenangkan Pilkada? Apakah sekadar memperoleh jabatan? Jawabannya tidak.
Kekuasaan bukan tujuan. Kekuasaan hanyalah alat. Tujuan kita jauh lebih besar daripada sekadar pergantian penguasa. Yang ingin kita bangun adalah “peradaban”.
Peradaban yang meletakkan tauhid sebagai fondasi. Peradaban yang menjadikan keadilan sebagai hukum tertinggi. Peradaban yang menjunjung ilmu pengetahuan.
Peradaban yang memuliakan manusia. Peradaban yang menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Allah SWT mengingatkan kita dalam firman-Nya
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat”. (QS. An-Nahl : 90).
Inilah ayat tentang peradaban. Peradaban tidak dibangun oleh gedung-gedung pencakar langit. Peradaban tidak dibangun oleh jalan-jalan yang megah. Peradaban dibangun oleh manusia yang jujur. Peradaban dibangun oleh pemimpin yang amanah.
Peradaban dibangun oleh masyarakat yang mencintai ilmu, menghormati hukum, dan takut kepada Allah SWT.
Saudara-saudaraku,
Saya sering mengatakan bahwa “Indonesia bukan negara miskin”. Indonesia adalah negeri yang dikaruniai Allah segala sesuatu. Allah memberikan tanah yang subur. Allah memberikan laut yang luas. Allah memberikan hutan yang kaya. Allah memberikan tambang yang melimpah. Allah memberikan posisi geopolitik yang strategis. Allah memberikan bonus demografi yang tidak dimiliki banyak negara.
Maka apabila masih ada kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, dan ketidakadilan, kita harus berani melakukan muhasabah. Masalahnya bukan terletak pada ciptaan Allah. Masalahnya terletak pada bagaimana manusia mengelola amanah Allah.
Karena itu, agenda besar kita bukan hanya membangun ekonomi. Bukan hanya membangun infrastruktur. Tetapi membangun manusia Indonesia. Sebab apabila manusianya baik, sistem akan baik. Apabila manusianya amanah, kekuasaan akan menjadi berkah. Apabila manusianya jujur, hukum akan tegak. Apabila manusianya bertakwa, pembangunan akan menghadirkan keadilan.
Inilah yang dahulu diperjuangkan oleh Mohammad Natsir. Beliau berulang kali mengingatkan bahwa negara tidak cukup dibangun dengan kekuatan politik semata, tetapi harus ditopang oleh kekuatan moral, ilmu pengetahuan, dan keimanan. Zainal Abidin Ahmad juga mengajarkan bahwa negara yang kuat bukanlah negara yang menindas rakyatnya, tetapi negara yang menghadirkan keadilan dan menjadikan hukum sebagai panglima, bukan kekuasaan sebagai panglima. Buya Hamka mengingatkan bahwa apabila akhlak suatu bangsa runtuh, maka kemajuan lahiriah tidak akan mampu menyelamatkannya.
Saudara-saudaraku,
Inilah yang membedakan Masyumi dengan partai politik lainnya. Kita tidak sedang menawarkan sekadar program. Kita sedang menawarkan paradigma. Paradigma baru.
Paradigma keberkahan. Paradigma politik yang menghubungkan bumi dengan langit.
Paradigma yang menjadikan kekuasaan sebagai amanah, bukan sebagai kesempatan memperkaya diri.
Paradigma yang menjadikan jabatan sebagai ibadah. Paradigma yang menjadikan rakyat sebagai tujuan pelayanan. Allah SWT berfirman :
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Artinya : “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS. Al-A’raf : 96).
Perhatikan ayat ini. Allah tidak mengatakan bahwa keberkahan datang karena kekayaan alam. Allah tidak mengatakan keberkahan datang karena utang luar negeri.
Allah tidak mengatakan keberkahan datang karena investasi semata. Tetapi Allah mengaitkan keberkahan dengan iman, takwa, kejujuran, dan ketaatan kepada nilai-nilai-Nya.
Maka tema besar perjuangan kita adalah “Membangun Indonesia dengan Keberkahan Melalui Peradaban Politik.” Artinya, kita ingin menghadirkan politik yang melahirkan keberkahan dalam pendidikan. Keberkahan dalam ekonomi. Keberkahan dalam hukum. Keberkahan dalam pemerintahan. Keberkahan dalam keluarga. Keberkahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hadirin yang saya hormati,
Mulai hari ini saya mengajak seluruh pengurus Partai Masyumi Kota Bogor untuk menanamkan lima komitmen perjuangan.
Pertama, luruskan niat. Berjuanglah karena Allah SWT.
Kedua, kuatkan organisasi sampai ke tingkat ranting.
Ketiga, hadir di tengah rakyat sebagai pelayan, bukan sebagai penguasa.
Keempat, rangkul seluruh komponen umat dengan ukhuwah dan kerja sama.
Kelima, jadilah teladan dalam kejujuran, kesederhanaan, dan pengabdian.
Apabila lima komitmen ini kita pegang, saya yakin Masyumi akan kembali mendapatkan tempat di hati rakyat Indonesia.
Saudara-saudaraku,
Marilah kita bekerja keras. Bekerja cerdas. Bekerja ikhlas. Bekerja tuntas. Dan bekerja dengan niat ibadah. Jangan pernah lelah berjuang. Karena sejarah membuktikan bahwa perubahan besar selalu dimulai oleh sekelompok orang yang memiliki keyakinan besar.
Allah SWT berfirman :
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ
Artinya : Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah : 105).
Ayat ini adalah perintah untuk bekerja, berkarya, dan mengabdi. Maka marilah kita buktikan kepada bangsa Indonesia bahwa Masyumi hadir bukan untuk menambah persoalan bangsa. Tetapi Masyumi hadir membawa solusi. Masyumi hadir membawa harapan. Masyumi hadir membawa persatuan. Masyumi hadir membawa keberkahan.
Dan Masyumi hadir untuk ikut membangun “Indonesia yang adil, makmur, bermartabat, dan diridhai Allah SWT melalui Peradaban Politik”.
Sebelum saya mengakhiri pidato ini, izinkan saya menyampaikan sebuah pantun.
Pohon cendana tumbuh di taman,
Harumnya semerbak sepanjang hari.
Satukan langkah, kuatkan iman,
Bangun Indonesia dengan keberkahan melalui peradaban politik yang diridhai Ilahi.
Akhirnya, marilah kita bersama-sama berdoa :
“Ya Allah, jadikanlah kami pemimpin yang amanah, berikanlah kami hati yang ikhlas, lisan yang jujur, akal yang bijaksana, dan kekuatan untuk mengabdi kepada agama, bangsa, dan negara. Limpahkanlah keberkahan-Mu kepada Indonesia, jadikan negeri kami baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang baik, makmur, adil, dan berada dalam ampunan-Mu. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.”
Wabillahi taufiq wal hidayah.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

