Magiconomics Abracadabra dan Doping Rupiah: Sampai Kapan Bertahan?

May 7, 2026

*Magiconomics Abracadabra dan Doping Rupiah: Sampai Kapan Bertahan?*

Oleh: Anthony Budiawan – Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)

20 Agustus 2020

Neraca transaksi berjalan Indonesia mengalami defisit sejak 2012. Artinya, terjadi aliran dolar AS terbang ke luar negeri, membuat permintaan terhadap dolar AS meningkat, dan kurs dolar AS nmenguat. Artinya, kurs rupiah anjlok.

Kecuali ada aliran modal asing yang masuk ke dalam negeri dalam jumlah cukup besar untuk menutupi defisit tersebut. Aliran modal ini dinamakan investasi. Bisa dalam bentuk investasi langsung di sektor riil (produksi maupun jasa), maupun investasi di surat berharga (portfolio): saham dan surat utang (obligasi).

Selisih keduanya, defisit transaksi berjalan dan aliran masuk modal/investasi, akan menentukan perubahan cadangan devisa dan kurs rupiah. Kalau cadangan devisa turun, maka kurs rupiah anjlok. Sebaliknya, kalau cadangan devisa naik, kurs rupiah menguat.

Neraca transaksi berjalan Indonesia selama periode 2015-2019 mengalami defisit cukup dalam. Mencapai 111,71 miliar dolar AS. Meskipun demikian, cadangan devisa ternyata naik 17,32 miliar dolar AS untuk periode tersebut. Penunjang terbesarnya adalah peningkatan Utang Luar Negeri pemerintah yang mencapai 76,07 miliar dolar AS. Kalau menggunakan kurs rata-rata Rp 14.500 per dolar AS, jumlah ini setara Rp 1.103,02 triliun. Atau sekitar 63,8 persen dari total penambahan utang negara sebesar Rp 1.729,43 triliun selama 2015-2019.

Pertanyaannya, kenapa pemerintah harus menambah Utang Luar Negeri begitu besar? Kenapa tidak dari dalam negeri saja?

Utang Luar Negeri pemerintah digunakan untuk dua tujuan. Pertama, untuk menutupi defisit neraca transaksi berjalan dan kedua sekaligus untuk menambah cadangan devisa agar kurs rupiah menguat. Yang pada hakekatnya seperti doping. Karena penguatan kurs ini tidak berdasarkan fundamental ekonomi yang sehat. Tapi, karena disuntik Utang Luar Negeri. Ekonomi Abracadabra: magiconomics ala Indonesia.

Oleh karena itu, pemerintah senantiasa harus menambah utang lebih besar dari yang diperlukan (pada defisit anggaran). Sehingga selisihnya dapat digunakan untuk menambah cadangan devisa: untuk memperkuat kurs rupiah, untuk doping kurs rupiah.

Caranya, ketika arus investasi yang masuk tidak cukup memenuhi kebutuhan defisit transaksi berjalan, maka pemerintah akan meningkatkan Utang (Luar Negeri) untuk menutupi kekurangan tersebut. Meskipun secara kebutuhan untuk membiayai defisit anggaran sudah tercukupi.

Contohnya, total defisit anggaran periode 2015-2019 “hanya” Rp 1.570,25 triliun. Tetapi penarikan atau penambahan utangnya mencapai Rp 1.729,43 triliun. Sehingga ada kelebihan Pembiayaan Anggaran (SiLPA) Rp 159,18 triliun. Atau setara 10,98 miliar dolar AS (menggunakan kurs rata-rata Rp 14.500 per dolar AS selama 5 tahun), SiLPA ini bisa menjadi bagian dari cadangan devisa yang naik 17,32 miliar dolar AS pada periodfe tersebut.

Uraian di atasmenjelaskan bahwa nasib kurs rupiah tergantung dari asing. Atau lebih tepatnya, ditentukan asing. Artinya, ketika pemerintah memerlukan dolar AS tetapi asing tidak mau beli, maka kurs rupiah akan anjlok.

Ini terjadi pada tahun 2015, 2018, dan 2020.

Tahun 2015, pemerintah hanya mampu menarik Utang Luar Negeri 13,59 miliar dolar AS. Tidak cukup memenuhi kebutuhan pembiayaan defisit, sehingga cadangan devisa turun 5,9 miliar dolar AS. Akibatnya kurs rupiah anjlok dari sekitar Rp 12.400 pada awal tahun 2015 menjadi sekitar Rp 14.800 per dolar AS pada akhir september 2015.

Tahun 2016 dan 2017 kurs rupiah menguat tajam, bahkan sempat berada di bawah Rp 13.000 per dolar AS pada Oktober 2016. Karena pemerintah berhasil menarik Utang Luar Negeri masing-masing 17,48 miliar pada 2016 dan 22,44 miliar dolar AS pada 2017. Cadangan devisa meningkat 10,43 miliar pada 2016 dan 13,84 miliar dolar AS pada 2017. Penguatan ini bukan berasal dari kinerja ekonomi, tapi dari utang.

Tahun 2018, kurs rupiah mendapat tekanan. Pemerintah hanya mampu menarik Utang Luar Negeri 5,88 miliar dolar AS. Akibatnya, cadangan devisa tertekan. Berkurang 9,54 miliar dolar AS. Membuat kurs rupiah anjlok dari sekitar Rp 13.300 pada akhir Januari 2018 menjadi sekitar Rp 15.250 per dolar AS pada Oktober 2018.

Awal tahun ini pemerintah dibuat kalang kabut. Pandemi membuat investor global menjual surat utang negara senilai 18,9 miliar dolar AS pada triwulan I-2020. Cadangan devisa turun 8,21 miliar dolar AS. Kurs rupiah tembus 17.000 per dolar AS. Masih bisa selamat karena segera dibantu oleh institusi internasional. Yang pada hakekatnya mirip _bailout_.

Seperti air bah, akan ada saatnya kurs rupiah jebol kalau tidak diantisipasi dan diperbaiki secara fundamental. Faktanya sampai hari ini, ketergantungan ekonomi semakin mengkhawatirkan. SiLPA mencapai Rp 172,83 triliun per Juli 2020. Nasib rupiah, dan nasib bangsa Indonesia, tergantung dari Utang Luar Negeri, dan tergantung asing.

— 000 —