INDONESIAMU, INDONESIAKU, INDONESIA KITA (20)
Abdullah Hehamahua
Indonesia, negara kepulauan terbesar dan terluas di dunia. Luas lautnya, 5,9 juta km2. Panjang pantainya, 108.000 km. Ada 17.389 pulau, terdiri dari 6 pulau besar dan sisanya, pulau-pulau kecil.
Desa-desa di sepanjang pesisir pulau Papua, khususnya Papua Barat dan Papua Barat Daya, punya banyak pulau. Konsekwensinya, mereka hanya bisa didatangi melalui laut.
Kepulauan Lease, Seram, Banda dan Ambon dihubungkan dengan boat dan fery. Hal yang sama berlaku dengan 119 pulau kecil di Maluku Tenggara. Begitu pula provinsi Riau Kepulauan yang punya 2.408 pulau di mana mayoritasnya hanya bisa didatangi dengan feri.
Olehnya, seri ini dikomunikasikan Pelayaran Indonesia.
Pelayaran Indonesia Menurut Anda
Anda bangga dengan jargon, Indonesia negara maritim. Namun, kebijakan dan programnya, jauh dari harapan. Anda sebut, akan dibangun tol laut di seluruh Indonesia. Faktanya, selama 12 tahun, hanya beberapa pelabuhan baru yang dibangun dan renovasi yang sudah ada, yakni: Pelabuhan Tobelo dan Galela (Halmahera), Tutu Kembong (Maluku Tenggara Barat), Pulau Teor (Seram Timur), dan Wonreli (Maluku Barat Daya). Anda hanya renovasi pelabuhan Makassar menjadi New Port Makassar dan Pelabuhan Bitung (Sulut).
Trsgisnya, Papua yang merupakan pulau terluas di Indonesia, anda hanya bangun tiga pelabuhan, yakni di Wasior, Depapre, dan Nabire.
NTT, provinsi yang punya 1.192 pulau, anda hanya bangun 9 pelabuhan. Begitu pula halnya dengan NTB di mana anda hanya bangun dua pelabuhan di Lombok dan Sumbawa. Bahkan, di Sulawasi Tenggara, anda hanya bangun 4 pelabuhan baru di Kaledupa, Tomia, Binongko, dan Wanci. Padahal, ada 591 pulau di provinsi tersebut yang hanya bisa didatangi melalui laut.
Pelayaran Indonesia Menurutku
Hematku, sebagai negara kepulauan terbesar,
pelayaran merupakan urat nadi konektivitas dan ekonomi nasional. Namun, ada beberapa hal mengenai dinamika, tantangan, dan masa depan pelayaran di Indonesia, yakni:
1.Pelayaran, dalam konteks geografis, bukanlah sekadar moda transportasi alternatif. Justru, ia merupakan sarana utama yang menghubungkan seluruh sendi kehidupan berbangsa. Konsekwensinya, tanpa jaringan pelayaran yang kuat, distribusi logistik terhambat. Dampak negatifnya, terjadi disparitas harga kebutuhan pokok antarwilayah.
Tradisi bahari Nusantara, secara historis, mengakar sejak zaman kerajaan kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit. Kini, sebagai negara yang berada di jalur silang perdagangan dunia, posisi Indonesia sangat strategis. Selat Malaka, misalnya, adalah salah satu jalur pelayaran terpadat di dunia yang memfasilitasi lebih dari seperlima perdagangan laut global
2.Hematku, pada era digital sekarang, industri pelayaran nasional tidak lepas dari transformasi teknologi. Berbagai entitas pelayaran seperti PT Pelni hingga operator swasta, harus terapkan digitalisasi layanan mulai dari pemesanan tiket hingga manajemen logistik pelabuhan.
Bahkan, perlu penerapan AI. Sebab, AI dapat digunakan untuk merencanakan optimasi rute, manajemen kontainer di pelabuhan hingga efisiensi kecepatan kapal guna menurunkan emisi karbon.
Inovasi seperti ini sangat penting guna wujudkan visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia yang kompetitif secara global.
Pelayaran Indonesia Kita
Anda, saya, kita semua, sepakat bahwa, sebagai negara maritim, salah satu program untuk memajukan pelayaran Indonesia adalah memperbanyak tol laut. Namun, ia tidak hanya merupakan program pencitraan, apalagi sebagai lahan korupsi, tapi tidak lain adalah aplikasi pasal 29 dan 33 UUD 45.
Tol laut, sejatinya dirancang
untuk menciptakan kelancaran distribusi barang ke daerah-daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Konsekwensinya, dengan melayani rute-rute pelayaran tetap dan terjadwal, kapal perintis hingga kapal kargo besar secara konsisten membawa muatan bahan pokok dan material konstruksi.
Anda, saya, kita semua berharap, kehadiran Tol Laut dapat menekan biaya logistik yang sebelumnya menjadi beban berat bagi perekonomian masyarakat di wilayah kepulauan, khususnya Indonesia Timur. Maknanya, transportasi laut adalah sarana paling efektif dan relatif lebih murah untuk mengangkut barang dalam jumlah besar untuk jarak jauh.
Anda, saya, kita semua sepaham bahwa, kendati punya potensi besar, pelayaran Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan struktural dan operasional, antara lain:
1. Belum semua pelabuhan di daerah punya fasilitas bongkar muat modern. Dampaknya, waktu tunggu kapal yang lama.
2 Integrasi di antara pelabuhan laut dengan jalur darat masih belum optimal. Dampaknya, arus keluar masuknya barang, lambat.
3 Tekanan biaya operasional, terutama harga bahan bakar kapal, terkadang menjadi beban bagi perusahaan pelayaran swasta nasional.
4.Anda, saya, kita semua juga ingin, masa depan dan prospek pelayaran nasional menjadikan industri pelayaran Indonesia lebih tangguh pada masa depan. Konsekwensinya, fokus utama pemerintah dan pelaku usaha harus tertuju ke peningkatan kualitas armada kapal, standardisasi keselamatan, dan penerapan teknologi hijau.
Simpulan
1.Perlu digitalisasi operasional pelabuhan dan armada untuk menekan biaya logistik.
2.Modernisasi dan peremajaan kapal nasional.
3.Penguatan industri galangan kapal dalam negeri.
4.Pembangunan tol laut jangan merupakan progran pencitraan dan ladang KKN seperti MBG. Semoga !!! (Lubuklinggau, 12 Juli 2026).

