Indonesiamu, Indonesiaku, Indonesia Kita (12)

May 22, 2026

INDONESIAMU, INDONESIAKU, INDONESIA KITA (12)

Abdullah Hehamahua

Manusia normal, setelah berpakaian, harus makan dan minum. Bahkan, gelandangan yang compang camping pakaiannya, tetap makan. Itulah sebabnya, zakat fitrah, diberikan dalam bentuk makanan pokok. Targetnya, tidak ada yang kelaparan pada 1 Syawal setelah sebulan shaum.

Bahkan, Maltus mengusulkan pembatasan kelahiran melalui Kekuarga Berencana (KB). Sebab, menurutnya, pertambahan penduduk bumi, tidak berbanding lurus dengan persediaan pangan. Olehnya, seri ini, dikomunikasikan masalah pangan Indonesia.

Pangan Menurut Anda

Anda bilang, Indonesia swasembada pangan. Mungkin yang anda maksud, swasembada beras. Sebab, ibu-ibu mengeluh, hampir semua kebutuhan dapur, naik harganya.

Mereka mengeluh, cabe rawit menembus Rp75.000 – Rp100.000 per kg. Daging ayam, berkisar Rp37.000 – Rp.40.000 per kg.
Ibu-ibu juga mengeluh harga minyak goreng. Sebab, minyak goreng jenis premium, Rp 21.000 – Rp 22.000 per liter. Bahkan, di tingkat pengecer atau daerah tertentu, harganya menembus Rp 25.000 – Rp 26.000 per liter.
Minyak goreng curah dibanderol di atas Rp 19.000 per liter. Namun, di beberapa pasar tradisional, harganya antara Rp 23.000 – Rp 27.000 per kg.
Minyakita (subsidi), sekalipun pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET), Rp 15.700 per liter, tapi di pasaran, sering dijual dengan Rp 20.000 – Rp 22.500.

Para penjual kaki lima mengeluh karena harga terigu curah rata-rata Rp10.000 – Rp17.000 per kg, Tepung kemasan premium, Rp13.000 – Rp16.000 per kg.

Ibu-ibu juga mengeluh karena harga telur di pasar tradisional cenderung naik. Sebab,
telur ayam negeri, Rp27.000 – Rp30.000 per kg. Di minimarket atau supermarket, harganya dari Rp28.000 – Rp40.000 per kg. Tragisnya, harga di kandang seringkali jatuh di antara Rp21.000 – Rp24.000 per kg.

Pangan Menurut Saya

Kuapresiasi prestasi anda yang menciptakan swasembada beras. Sebab, produksi beras nasional periode Januari – Juni 2026 mencapai 19,31 juta ton. Namun, perlu diketahui, tidak semua penduduk yang makanan pokoknya, nasi. Penduduk Papua dan Maluku misalnya, makanan pokok mereka, sagu.

NTT, sebagian besar penduduk, khususnya daerah beriklim kering, makanan pokok mereka, jagung.
Konsekwensnya, anda harus petakan jenis makanan pokok penduduk. Ada tiga jenis: beras, sagu dan jagung. Apalagi, jika ditinjau dari kalori yang dikandung.

Setiap 100 gram sagu mengandung 84 – 94 gram karbohidrat. Beras mengandung 28 – 79 gram karbohidrat. Jagung punya 20 – 79 gram karbohidrat.

Hilirisasi Industri Sagu dan Jagung

Pulau Papua memiliki 4,2 – 5,2 juta hektar pohon sagu, terbanyak di dunia. Maluku punya luas lahan sagu kedua terluas, yakni 36.462 hektar

Pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan penduduk pulau Papua dan Maluku, perlu kembangkan lndustri hilirisasi sagu. Sebab, selain karbohidratnya terbesar dari nasi dan jagung, sagu dapat diolah menjadi pelbagai makanan, yakni: Papeda dan sagu lempeng (nasinya orang Maluku dan Papua); Kue Bagea; Sagu Tumbu, Kue Bangket; Sagu Gula; Camilan & Gorengan (seperti kerupuk sagu, bakwan sagu); Mi sagu; Kudapan (seperti sagu keju, kue lapis sagu); serta bahan pengenyal bakso dan siomay.

Tidak kalah penting, daun pohon sagu dijadikan atap rumah. Pelepah dan kulit batang pohon sagu untuk dinding dan loteng rumah.
Hal yang sama dilakukan terhadap industri hilirisasi jagung di NTT.

Pangan Kita
UUD 45 pasal 33 menetapkan, “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”
Hal ini berulang kali disebut Prabowo dalam sidang pleno DPR, 21 Mei 2026. Prabowo, meski secara eksplesit sebut kelapa sawit dan batubara, tapi dalam kontek swasembada pangan, pemerintah perlu perhatikan industri hilirisasi sagu dan jagung. Hanya saja, harapan kita, pidato Prabowo tersebut tidak sekedar omon2. Sebab, Prabowo harus melawan dominasi 9 naga yang berkuasa selama ini, termasuk mereka yang memenangkan beliau dalam Pilpres 2024.

Simpulan:
1. Pemerintah harus memetakan sumber makanan pokok rakyat Indonesia, baik berupa beras, sagu, maupun jagung.
2. Pemerintah dalam rangka swasembada pangan, perlu mengsejajarkan industri hilirisasi sagu dan jagung dengan beras. Dampak positifnya, kesejahteraan petani, dapat meningkat. Semoga !!! (Depok, 21 Mei 2026)

Mengapa Negara Menjadi Kuat

*MENGAPA NEGARA MENJADI KUAT* Oleh: Radhar Tribaskoro Seorang sahabat yang memiliki otoritas akademik kokoh bertanya