INDONESIAMU, INDONESIAKU, INDONESIA KITA (11)
Abdullah Hehamahua
Keperluan asasi manusia adalah: sandang, pangan, papan, pendidikan, dan lapangan kerja. Tragisnya, banyak pabrik tekstil Indonesia mengalami krisis eksistensi. Olehnya, seri ke-11 ini dikomunikasikan salah satu bahan baku pakaian, yakni: RAMI.
Sandang Menurut Anda
Anda pura-pura tidak tahu bahwa, industri tekstil Indonesia sedang
sekarat.
Padahal, anda tahu, penyebabnya antara lain:
1. Banjir produk impor sebesar 70%, terutama dari Tiongkok, baik secara legal maupun ilegal. Dampak negatifnya, pabrik Indonesia hanya mampu beroperasi 40% dari kapasitasnya. Padahal, hutan Indonesia memiliki pelbagai bahan baku tekstil. Anehnya, yang diimpor antara lain: serat buatan; kapas dan serat alam; wol dan sutra; serta benang. Tragisnya, Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto memudahkan impor tekstil dari AS secara besar-besaran yang dilola perusahaan milik anak-anaknya.
2. Pelonggaran aturan impor melalui revisi Permendag No: 36/2023 ke Permendag No: 8/2024 yang memicu kejatuhan industri lokal.
3. Kenaikan biaya produksi, termasuk energi, upah, dan bahan baku (khusus tahun 2025), serta tingginya suku bunga.
4. Lesunya pasar global akibat krisis geopolitik dan ekonomi global sehingga memengaruhi ekspor.
Industri Sandang Menurut Saya
Saya paling tidak suka impor sesuatu di mana ia bisa diperoleh dalam negeri. Rami misalnya, tanaman yang sangat bermanfaat dalam industri tekstil. Sebab, kulit batang rami merupakan bahan baku tekstil yang selain murah, juga mudah pemeliharaannya. Beberapa kelebihan serat rami dibanding kapas dan lain-lain, antara lain:
1. Indonesia sangat cocok untuk rami karena iklim basah dan kemampuan panen hingga 5 kali setahun, lebih unggul dari negara subtropis yang hanya 2 kali panen.
2. Tanaman rami tahan terhadap
hama dan ramah lingkungan dibanding kapas.
3. Batang rami merupakan salah satu bahan baku terbaik untuk pembuatan kertas uang.
4. Daun rami dapat dijadikan sayur. Bahkan, ia dapat dijadikan pakan ternak.
Industrialisasi Rami
Setiap orang perlu pakaian, apalagi umat Islam. Sebab, mereka wajib shalat dengan menutup aurat. Itu sebabnya, khalifah Umar ibnu Khattab membagikan bahan pakaian bagi sekuruh penduduk Madinah.
Hal serupa dilakukan Burhanuddin Harahap, PM dari partai Masyumi yang membagikan kain belacu bagi rakyat Indonesia. Pak Bur, ketika menjawab pertanyaanku (1982), mengatakan, beliau terinspirasi kebijakan Umar ibnu Khattab yang membagikan bahan pakaian ke penduduk Madinah. Sebab, menurut beliau, ekonomi Indonesia waktu itu, sangat terpuruk.
Jika 280 juta rakyat Indonesia, setiap tahun perlu.dua pasang pakaian baru, maka diperlukan 840 juta meter kain. Fakta di lapangan menunjukkan, 1 hektar rami dapat menghasilkan 10.000 – 15.000 meter kain. Konsekwensinya, diperlukan 840 ribu hektar lahan untuk menghasilkan 10.000 meter kain setiap tahun. Padahal, data-data menunjukkan, ada 7,2 juta hektar lahan tidur di seluruh indonesia. Maknanya, selain kelapa sawit dan karet, rami dapat dijadikan sebagai sumber APBN/APBD dengan memfungsikan lahan tidur tersebut.
Rami dan Home Industry
Penduduk kampung, lazimnya menjadikan pohon singkong sebagai pagar rumah atau kebun. Namun, dalam pengembangan industri tekstil tanpa impor, maka rami dapat dijadikan salah satu home industry. Caranya, pagar rumah atau kebun penduduk ditanami rami.
Setiap dua bulan, penduduk dapat memanen serat benang dengan cara merendam kulit batang rami selama tiga hari. Penduduk dapat menjual serat benang yang sudah kering ke Koperasi Petani Desa dengan harga Rp.150.000/kg.
Petani tembakau yang selama ini membesarkan 9 naga, khususnya perusahaan rokok, bisa menggantikan tanamannya dengan rami.
Tanaman Rami Kita
Anda, saya, kita semua maklum bahwa, tanaman rami dikembangkan di beberapa daerah, antara lain: Wonosobo, Lahat, Pagar Alam, Muara Enim, Lampung Utara, Lampung Barat, Tanggamus, dan Toba Samosir.
Namun, proses dekortikasi (pemisahan serat) dan perendaman kulit batang rami untuk meluruhkan getah, menurut pemerintah, masih perlu pengembangan teknologi untuk menghasilkan serat kualitas tinggi secara efisien.
Pemerintah juga menginformasikan, produksinya mulai dikembangkan dari pemenuhan home decor hingga ke industri benang tekstil.
Namun Pemerintah juga menginformasikan, pengembangan industri rami mengalami beberapa kendala, antara lain: koordinasi antarinstansi yang belum baik dan kurangnya dukungan kebijakan untuk mengoptimalkan rami sebagai bahan baku tekstil dalam negeri.
Simpulan:
1. Sandang adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Olehnya, PM Burhanuddin Harahap meneladani kebijakan khalifah Umar ibnu Khattab mengenai distribusi sandang ke rakyat. PM Burhanuddin Harahap, dalam konteks ini (1955) membagikan kain belacu ke rakyat.
2. Pemerintah perlu menjadikan rami, seperti sawit dan karet sebagai industri hilirisasi dalam menunjang APBN/APBD. Konsekwensinya, pemerintah perlu mengembangkan perkebunan rami dengan memfungsikan 7,2 juta hektar lahan tidur yang ada di seluruh Indonesia.
3. Penduduk di kampung-kampung seluruh Indonesia, menggantikan tanaman singkong dengan rami sebagai pagar rumah atau kebun. Dampak positifnya, penduduk kampung bisa memeroleh penghasilan tambahan secara rutin.
4. Petani tembakau sebaiknya menggantikan tanamannya dengan pohon rami. Dampak positifnya, selain tetap memeroleh penghasilan rutin, petani juga membantu pemerintah dalam mengurangi jumlah pasien, korban racun rokok. (Depok, 15 Mei 2026)

