Bagaimana Demokrasi Mati

April 12, 2026

BAGAIMANA DEMOKRASI MATI

Irawan Santoso Shiddiq, SH

Bagaimana memahami demokrasi? Jangan tanya ini pada orang di Senayan. Mereka cuma latah. Tak usah juga merujuk kaum jahil ‘modernis Islam’ yang cocokologi dalil. Karena demokrasi bukan kosakata nusantara. Mpu Gandring, Mpu Sendok dan lainnya, tak punya kitabnya.

Demokrasi juga bukan Amerika Serikat. Kebesaran USA, bukan terletak pada ‘demokrasi’-nya. Melainkan terletak pada ordo oligarkhinya. Mereka bertahta di sana. Harold Laski, politisi Inggris kecewa. Abad 20, tahta ‘oligarkhi’ masih berada di Britania Raya. Tapi kemudian Inggris menjadi dibawah Amerika. Mereka membungkusnya dengan ‘demokrasi.’

Padahal ini kosakata Yunani kuno. Romawi pernah menerapkannya. Maka rujuklah pada Romawi. Al Quran, memberikan titah. Sebuah surat, satu-satunya Surat, yang menabalkan nama sebuah ‘peradaban’ secara langsung, itulah: AR RUM. Romawi. Kalamullah telah memberikan kalimat Romawi.

Dr. Ian Dallas (Syekh Abdalqadir as sufi), memberikan gambaran. Pemahaman terhadap Romawi, menjadi penting bagi umat manusia untuk memahami jalannya peradaban. Beliau mengutip dramawan Perancis, Henri de Montherlant. Dia berkata, “Peradaban Romawi menampilkan berbagai macam kehidupan, mulai dari seni hingga cara menghadapi kematian, dengan keberanian, gravitasi, keburukan, dan kesedihan. Inilah sebabnya mengapa sejarah mereka merupakan mikrokosmos dari seluruh Sejarah (dunia): jika Anda mengetahui Sejarah Romawi dengan baik, tidaklah penting untuk mengetahui sejarah dunia; segala sesuatu yang merupakan epos Romawi adalah epos manusia, segala sesuatu yang merupakan karya Romawi adalah karya manusia” (The Engine of The Broken World, Ian Dallas, 2003).

Memahami Romawi, tentu sangat penting. Karena pesan Al Quran juga. Inilah peradaban terpanjang sepanjang jaman. Dari didirikan Romus dan Romulus, yang menolak menjadi majusi, mereka menyembah pada Ilahiah. Romus & Romulus memadukan bangsa melawan penyembah api. Yang memisahkan dua kehendak. “Pencipta perbuatan baik” dan ‘pencipta perbuatan buruk.’ Menyembah api, dianggap simbolisasi upacara tolak bala. Karena api simbol ‘satanic.’ Inilah majusi. Kepercayaan yang juga hidup sepanjang jaman. Antitesanya adalah Tauhid.

Tauhid, penyatuan ‘pencipta perbuatan baik dan buruk.’ Itu semua sumbernya dari Allah Subhanahuwataala. Tak dipisah. Majusi modern juga serupa. Rene Descartes, mengeliminasi adanya ‘kehendak Tuhan.’ Yang ada hanya ‘kehendak manusia.’ Voltaire juga serupa. Demikian pula Einstein sampai Marx. Mereka penganut ‘being’ adalah murni ‘kehendak manusia.’ Termasuk pula kepercayaan yang disebarkan Machiavelli, Montesquei sampai Rosseau. Mereka mengeliminasi adanya ‘Kehendak Tuhan.’ Tuhan, kata mereka, seolah hanya pembuat jam. Kala jam selesai dibuat, berjalan dengan sendirinya. Tuhan seolah telah memberikan kewenangan manusia untuk mengatur alam dunia. Maka tak diperlukan lagi Wahyu. Ini ideologi yang muncul sejak renaissance hingga ‘enlightenmen.’ Ujungnya modernisme itulah ateisme. Neo majusi.

Klimaksnya pada Revolusi Perancis. Tatanan modern state tercipta. Robiespierre memimpin perang melawan penganut jabariyyah-nya Roma. Tentu kaum revolusioner mengatasnamakan ‘kehendak manusia.’ Ini pula yang diteriakkan Mustafa Kemal, kala memberontak pada Daulah Utsmaniyya. “Sekarang siapa yang berkehendak, saya atau Tuhan?” katanya seolah bangga, didepan penganut neo qadariyya ‘young turk.’ Ujungnya, mayatnya ditolak bumi. Naudzubillah.

Robiespierre juga serupa. Dia piker ‘kehendak manusia’ itu mutlak. Ujungnya dia dikudeta. Padahal selepas menggantung Raja Louis XVI di depan Bastille, dia berteriak lantang, “Viva le nation!! Vive demokratie!” Dua tahun kemudian dia dikudeta. Karena ‘kehendak rakyat’ berujung pada ‘kehendak bankir.’ Ini kaum rentenir. Mereka yang berkepentingan pada kosakata ‘demokrasi.’ Karena dari dongeng ‘demokrasi,’ bisnis riba mereka bisa berjalan.

Melongoklah era Romawi. Kala demokrasi mereka amalkan. Julius Caesar menjadi symbol kebesarannya. Gelarnya jadi kebanggaan: Kaisar/Tsar. Demokrasi, tatanan yang dibangun kaum alim ulama. Romawi dijaga oleh 300 Senator. Kelas rakyat Romawi, bukan dipisahkan oleh ‘kekayaan harta’ seperti era kini. Patricians dan plebian, ini dibedakan berdasarkan keilmuan atau keturunan. Era modern, kelas masyarakat, dipisahkan berdasarkan ‘harta kekayaan.’ Titanic memberikan gambaran. Masyarakat atas, mereka para pebisnis yang memiliki banyak harta. Kelas bawah, mereka kaum ‘proletar’ tak berharta. Ini tatanan ‘kelas masyarakat’ yang berwujud pasca merebaknya modernisme.

Dr. Ian Dallas menggambarkan, pra Revolusi Perancis, tatanan rakyat terbagi tiga: atas diduduki bangsawan dan agamawan. Para penguasaha dikelas kedua. Dan rakyat di kelas ketiga. Pasca modern state, tatanan terbagi dua: Kelas atas diduduki pebisnis. Kelas kedua: kosong. Kelas ketiga: rakyat. Revolusi ‘aqidah’ hanya menyingkirkan kelas agamawan/bangsawan. Kaum pebisnis menggantikan mereka. Rakyat tetap diposisi rakyat. Nasibnya tak berubah.

Era Romawi, Senator ini sebenarnya mewakili ‘lidah rakyat.’ Mereka menasehati Magistrate. Isinya ada Consul (2 orang), praetor (pembela), Queasitor (pengatur keuangan) dan Tribune (perwakilan plebian). Seorang Kaisar hanya bertindak atas titah Senator. Kaisar tak bertindak sendiri.

Ingat peristiwa pembunuhan Julius Caesar. Mayoritas Senator menganggap Caesar menuju tirani. Karena seolah dia menjadi ‘pemilik Romawi.’ Alhasil Senator bergerak. 21 orang Senat menikamnya dalam ruang persidangan Senator. Ini yang dikenal model ‘impeachment’ Monarkhomach. Seorang tiran boleh dan legal jika langsung dibunuh. Karena telah membahayakan demokrasi. Walau peristiwa itu kemudian dikutuk Cicero. Tapi begitulah Romawi menjalankan demokrasi.
Ian Dallas menyebutkan, tapi tatanan finansial Romawi, tak lepas dari peranan Senat. Pencetakan uang, emas dan perak, sepenuhnya hak dan kewenangan Senat. Kaisar hanya berhak mencetak yang perunggu.

Sementara ‘dongeng’ demokrasi era modern state, sebaliknya. Negara modern tak satupun punya kewenangan mencetak uang. Pencetakan uang, yang sudah diubah jadi kertas dan sihir byte komputer, malah diatur dan dikendalikan entitas diluar ‘government.’ Ini hanya terjadi di era modern state. Walhasil, tak ada satupun kini negara modern yang bisa mengatur dan menentukan uangnya sendiri. Ini yang disebut Syekh Abdalqadir as sufi, ulama besar asal Skotlandia, “Tak ada satupun negara modern layak disebut republik.” Karena pola demikian, bukanlah model republik atau demokrasi, seperti yang diterapkan Romawi. Beliau menyebutnya sebagai ‘fiction telling.’ Kosakata fiksi. Dongeng.

Jadi bisa dikatakan, demokrasi era Romawi, memang menjadi alat untuk penyembahan Ilahi. Sementara ‘demokrasi palsu’ era modern, ini hanya alat untuk penyembahan kepada ordo bankir. Rentenir. Karena senat tak lagi melindungi ‘pleibean.’ Senator bukan bekerja untuk rakyat, melainkan untuk partai. Sementara partai bekerja untuk pemodal. Pemodal itulah kaum oligarkhi, rentenir busuk. Mereka berkuasa, tanpa perlu ikut ‘election.’ Sesiapa yang dipilih, mereka hanya petugas ‘bankir’ yang menjadi pion terbaik untuk pembayar utang. Karena negara dalam posisi berutang. Maurizio Lazarato’s menyebutnya, ‘Governing by debt.’ Karena tatanan ‘modern state’ dipenuhi sebagai nasabah debitor bagi bankir. Ini otoritas pengganti ‘bangsawan dan agamawan.’

Merujuklah pada Polybios, sejarawan Romawi. Beliau memiliki teori siklus peradaban. Tatanan kekuasaan kerap akan berganti. Dari monarkhi, menuju tirani. Tirani akan beralih ke aristokrasi. Kemudian akan berganti menjadi oligarkhi. Dari oligarkhi, akan berubah menjadi demokrasi. Kemudian berganti lagi jadi okhlokrasi. Selepas itu akan balik lagi ke monarkhi.

Maka, fase kini, kata Ian Dallas, tak lagi disebut sebagai ‘demokrasi.’ Melainkan okhlokrasi. Karena ‘kekuasaan’ bukan diatur oleh ‘kehendak rakyat.’ Melainka kekuasan ditangan ordo bankir. Rentenir. Negara modern menjadi budak riba. “Yang berkuasa bukanlah yang tengah memerintah,” kata Syekh Abdalqadir as sufi. Maka kini masuk ke fase okhlokrasi. Ketika kekuasaan dikendalikan oleh kaum perusak. “Selepas itu akan beralih Kembali pada monarkhi,” tukas Dallas.

Monarkhi, tentu bukan sebagaimana fitnah Jean Bodin. Mereka mendengungkan seolah monarkhi adalah ‘the king can do no wrong.’ Melainkan tatanan monarkhi terbaik adalah Madinah al Munawarah. Ketika kepemimpinan dikendalikan oleh ahlu Tauhid. Amr (pemimpin) dikawal oleh alim ulama. Ahlu Halli wal aqdi. Merekalah para Sahabat. Kekuasaan (pwer) dan kekayaan (wealth) berada dalam satu kesatuan. Bukan terpisah sebagaimana modern state kini. Penyatuan itu diwujudkan dalam kembalinya rukun Zakat mal.

Ini yang digambarkan Arnold Toynbee, sejarawan Amerika. “Model republic ala Plato’s yang terbaik adalah yang pernah dijalankan oleh Daulah Utsmaniyya,” tegasnya. Nah, tatanan Utsmaniyya itulah yang dikenal sebagai ‘sultaniyya.’ Kala Sultan, sebagai pemimpin, dikendalikan oleh Syakhul Islam. Mereka terdiri dari para Mursyid, pembimbing dzahir walbathin, yang telah tertundukkan nafsu syahwatinya. Itulah para Senat. Bak era Romawi dulu. Kaum Senator adalah para alim ulama. Bukan diisi penghamba sekuler, yang doyan berjoget-joget ria.

Sayidinna Umar ibn Khattab telah menegaskan. “Tiada Islam tanpa jamaah. Tiada jamaah kepemimpinan (Amr). Tiada Amr (pemimpin) tanpa baiat.” Inilah tatanan Madinah al Munawarah.

Karena demokrasi telah mati. Yang ada hanya okhlokrasi. Kemudian akan beralih ke fase monarkhi. Tatanan new monarkhi, ini dibentuk sebagaimana Romus dan Romulus mendirikan Romawi. Sebagaimana Wali Songo mendirikan Kesultanan Demak. Juga seperti Orhan Ghazi mendirikan Utsmaniyya. Mereka terdiri dari kaum Ahlu Tauhid. Yang memiliki kesamaan terhadap penyembahan Ilahiah. Menolak pemisahan antara ‘kehendak manusia’ dan ‘kehendak Tuhan.’ Karena Qudrah wal Iradah adalah mutlak domain Allah Subhanahuwataala.

Carl Schmit menyebutnya inilah fase new nomos. Masyarakat baru. Ian Dallas memesankan, new nomos itulah masyarakat muslim yang beriman. Yang menegakkan Kembali aqidah Ahlu Sunnah. Yang bukan fatalism (jabariyya) ataupun ateisme (qadariyya). Karena mayoritas kini terjebak pada paham neo qadariyya. Ini ideologi yang digodok Descartes, Kant, Einstein sampai Marx. Mereka mengingkari adanya ‘Kehendak Tuhan.’

Para ordo bankir, oligarkhi, mereka berjaya diatas kaum yang meyakini dan menyembang ‘being’ adalah ‘kehendak manusia.’ Karena inilah tatanan kaum jahil yang mudah diberikan dongeng. Termasuk dongeng demokrasi. Padahal telah mati. Innallillahi wainnaillaihi rajiun.

Paradoks Fiskal Indonesia

*Paradoks Fiskal Indonesia* Oleh: Anthony Budiawan — Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies)