Peringatan G.30 S PKI: Masyumi Benteng Paling Keras Melawan Komunis di Indonesia
Oleh: Samsudin Dayan
Hari ini, 30 September 2026, bangsa Indonesia kembali menundukkan kepala. Kita memperingati salah satu malam paling kelam dalam sejarah republik ini, peristiwa G30S/PKI. Ini bukan sekadar tanggal dalam kalender sejarah, ini adalah pengingat abadi bahwa Pancasila pernah hendak diganti dengan paham yang anti-Tuhan, anti-agama, dan anti-kemanusiaan.
Jika kita jujur membuka lembaran sejarah, ada satu kekuatan politik yang sejak awal paling konsisten, paling keras, dan paling berani menolak komunisme di Indonesia: Partai Masyumi.
Masyumi bukan hanya menolak komunis karena alasan politik. Penolakan itu bersifat ideologis dan fundamental. Paham komunis dengan doktrin materialisme dan ateismenya secara langsung bertentangan dengan Sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa.
Bagi Masyumi yang berasaskan Islam, komunisme bukan sekadar lawan politik, melainkan paham yang bertentangan dengan fitrah bangsa Indonesia yang beragama.
Sejarah mencatatnya dengan jelas.
Pada pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, saat banyak kekuatan masih ragu, Masyumilah yang berdiri paling depan mendukung pemerintah Republik dan mengerahkan santri, ulama, dan laskar-laskarnya untuk mempertahankan negara.
Korban berjatuhan dari kalangan ulama dan para kiyai di berbagai daerah karena kekejaman PKI.
Di parlemen pada era Demokrasi Liberal 1950-1959, Masyumilah yang menjadi benteng utama. Ketika PKI mencoba menyusup melalui politik adu domba dan front-front persatuan, para tokoh Masyumi seperti Mohammad Natsir, Syafruddin Prawiranegara, dan Isa Anshary dengan lantang membongkar bahaya laten komunisme di mimbar parlemen. Mereka menolak setiap upaya PKI untuk mengaburkan Pancasila menjadi Nasakom yang menempatkan komunisme sejajar dengan nasionalisme dan agama.
Puncaknya adalah pada tahun 1960. Karena ketegasannya menolak komunisme dan menolak gagasan Nasakom Soekarno yang merangkul PKI, Masyumi dimusuhi oleh kekuasaan ketika itu.
Untuk menjaga harkat dan martabatnya sebagai sebuah partai besar, pemenang kedua Pemilu 1955, Pimpinan Masyumi mengambil inisiatif membubarkan diri sebagai partai politik, karena sudah mencium gelagat Bungkarno yang akan membubarkan Partai Masyumi.
Harus menjadi ingatan kolektif kita bahwa Soekarno ingin membuabarkan Partai Masyumi bukan karena Partai Masyumi korupsi atau makar terhadap negara, tetapi karena terlalu keras menjaga Pancasila dari infiltrasi komunisme. Inilah harga yang dibayar Masyumi.
Namun bubarnya Masyumi sebagai partai politik i tidak mematikan spiritnya. Ketika peristiwa G30S/PKI meletus pada 30 September 1965, umat dan tokoh-tokoh eks-Masyumi-lah yang berada di barisan terdepan bersama TNI menyelamatkan bangsa dari percobaan kudeta. Mereka yang dulu dibungkam, justru menjadi yang pertama mengingatkan bahaya kebangkitan kembali paham tersebut.
Hari ini, peringatan 30 S PKI harus kita maknai lebih dari sekadar seremoni. Ancaman terhadap Pancasila tidak selalu datang dengan palu arit dan seragam. Ia datang dalam bentuk paham-paham baru yang menolak Ketuhanan, menolak moralitas agama, mengadu domba antar anak bangsa, dan ingin mengganti kepribadian Indonesia dengan ideologi impor yang bertentangan dengan Pancasila.
Di sinilah warisan Masyumi menjadi relevan kembali. Masyumi mengajarkan kita tiga hal:
Pertama, Pancasila harus dijaga dari hulu ideologinya. Tidak cukup menjaga fisik, tetapi menjaga jiwa bangsa, yaitu Ketuhanan.
Kedua, toleransi tidak berarti membuka pintu bagi paham yang ingin menghancurkan toleransi itu sendiri. Masyumi sangat toleran terhadap perbedaan agama dan suku, tetapi nol toleransi terhadap komunisme yang ingin menghapus agama.
Ketiga, keberanian bersikap. Masyumi memilih membubarkan diri daripada berkompromi dengan paham yang anti-Pancasila.
Maka peringatan 30 S PKI tahun ini adalah momentum untuk bertanya pada diri kita: masihkah kita memiliki ketegasan seperti Masyumi dalam mengawal Aqidah, mengawal Panca Sila dan mengawal Negara?
Tokoh-tokoh dan pendiri Masyumi telah tiada secara phisik, tetapi jiwa dan semangatnya sebagai benteng Aqidah dan penjaga bangsa ini harus terus hidup di setiap jiwa para kader Masyumi hari ini aktivis masjid, pesantren, sekolah, dan di hati setiap pemuda Indonesia.
Jangan biarkan pengorbanan para pahlawan dan ketegasan para ulama Masyumi dilupakan. Wallahu’alam

