Menegakkan Roh Pancasila: Misi Masyumi untuk Indonesia Berkah

September 14, 2026

Menegakkan Roh Pancasila: Misi Masyumi untuk Indonesia Berkah

Oleh: Samsudin Dayan

Indonesia kini berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Krisis moral, korupsi yang mengakar hampir disemua lini kehidupan, eksploitasi sumber daya alam dan kerusakan lingkungan hidup, disintegrasi yang kian tajam, dan melemahnya kohesi sosial menjadi persoalan besar bangsa hari ini.

Di balik semua ini, ada satu akar persoalan yang sering diabaikan: bangsa Indonesia semakin jauh dari nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa—sila pertama Pancasila yang seharusnya menjadi fondasi spiritual dan etik kehidupan berbangsa dan bernegara.

Fondasi yang Ditinggalkan

Ketuhanan Yang Maha Esa–yang dalam bahasa agama disebut Tauhid bukan sekadar simbol religius. Ia adalah “roh” yang menjiwai keempat sila lainnya, yang menjadi dasar negara. Tanpa kesadaran ketuhanan, nilai kemanusiaan kehilangan arah, persatuan menjadi rapuh, demokrasi berubah menjadi arena perebutan kekuasaan yang menghalalkan segala cara
dan keadilan sosial hanya menjadi slogan kosong.

Secara konstitusional, prinsip ini tertuang dalam Pasal 29 UUD 1945: negara menjamin kebebasan beragama sekaligus menegaskan bahwa Indonesia berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, Indonesia bukan negara sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan publik, melainkan negara yang mengakui peran sentral nilai-nilai ketuhanan dalam membangun tatanan sosial yang adil dan beradab.

Namun, realitas hari ini menunjukkan sebaliknya. Nilai-nilai Tauhid semakin ditinggalkan dalam praktik kehidupan berbangsa.

Wajah Keterpurukan Bangsa

Beberapa gejala nyata yang mencerminkan kondisi ini:
Korupsi dan ketidakadilan hukum, perusakan alam dan lingkungan merajalela karena hilangnya rasa takut kepada Tuhan sebagai sumber moral tertinggi.

Disintegrasi dan konflik justru tumbuh di tengah teriakan para pemimpin bangsa memgenai persatuan.

Solidaritas sosial melemah; individualisme, hedonisme, dan budaya instan menggerus gotong royong dan kepedulian terhadap sesama.

Generasi muda kehilangan arah, terjebak dalam gaya hidup konsumtif, kurang literasi agama yang substantif, dan rentan terhadap radikalisme atau sekularisme ekstrem.

Dampaknya bukan hanya moral, tetapi juga sosial, ekonomi, dan politik.

Korupsi sistemik, konflik horizontal, dan kebijakan publik yang pragmatis tanpa landasan etik adalah buah dari bangsa yang meninggalkan fondasi spiritualnya.

Masyumi Hadir Kembali: Mengajak Bangsa Kembali ke Akar Filosofi Pancasila

Di tengah kegelisahan ini, Partai Masyumi—partai Islam legendaris yang pernah menjadi mercusuar politik Islam di Indonesia pada era Demokrasi Liberal—kini hadir kembali.

Partai yang telah resmi kembali memperoleh badan hukum dan mendaftar sebagai peserta pemilu pada tahun 2024 yang lalu dan kini sudah melakukan pembaharuan data di SIPOL KPU RI membawa misi besar: meneguhkan dan menegakkan kembali prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa dalam berbangsa dan bernegara, sekaligus mengajak seluruh komponen bangsa untuk kembali kepada akar filosofi bangsa: Pancasila.

Partai Masyumi

Partai Masyumi didirikan pada 7 November 1945, dalam Anggaran Dasarnya, Masyumi menetapkan tujuan: “terlaksananya ajaran dan hukum Islam di dalam kehidupan orang seorang, masyarakat, dan negara Republik Indonesia, menuju keridhaan Ilahi.”

Meski mengusung Islam sebagai dasar perjuangan, Masyumi dikenal sebagai partai yang moderat, inklusif, dan mendukung demokrasi serta perlindungan hak-hak minoritas non-Muslim.

Ideologinya mencakup demokrasi Islam, modernisme Islam, dan nasionalisme yang dilandasi nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa.

Masyumi dan Pancasila: Sinergi Historis

Sejarah mencatat bahwa Masyumi—yang didirikan ormas-ormas Islam terbesar seperti NU dan Muhammadiyah—adalah salah satu kekuatan paling getol dalam mengisi tafsir Pancasila berdasarkan ajaran Islam.

Tokoh Masyumi seperti Ki Bagus Hadikusuma berperan penting dalam perumusan akhir sila pertama Pancasila. Ia bersedia berkompromi dengan syarat bahwa redaksi “Ketuhanan” dilengkapi menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan ditempatkan sebagai sila pertama.

Bagi Masyumi, rumusan ini tiada lain adalah bentuk afirmasi konsep tauhid dalam bentuk yang lebih mudah diterima kelompok nasionalis.

Dengan demikian, sejak awal keberdirinya, Masyumi tidak pernah mempertentangkan Islam dan Pancasila. Justru, partai ini melihat keduanya sebagai dua sisi mata uang yang saling menguatkan: Islam sebagai sumber nilai, Pancasila sebagai konsensus kebangsaan.

Misi Masyumi di Era Kontemporer

Kehadiran kembali Masyumi bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan respons atas kebutuhan bangsa akan kekuatan politik yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan publik.

Di tengah degradasi moral dan krisis identitas, Masyumi hadir dengan misi:

1. Mengajak seluruh komponen bangsa kembali kepada akar filosofi Pancasila, khususnya sila Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai fondasi etik kehidupan berbangsa.
2. Mengembalikan marwah nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dalam kebijakan publik dan kehidupan bernegara.
3. Memperjuangkan implementasi ajaran Islam yang mengedepankan misi rahmatan lil ‘alamin—Islam yang membawa kasih sayang bagi seluruh alam.
4. Mendorong tegaknya keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat sebagai manifestasi dari keimanan yang substantif, bukan sekadar simbolik.
5. Menjadi kekuatan utama melawan arus sekularisme, kapitalisme di satu sisi, dan radikalisme agama yang sesat di sisi lain.

Pancasila sebagai Rumah Bersama

Masyumi menegaskan bahwa Pancasila adalah rumah bersama seluruh elemen bangsa. Sila pertama—Ketuhanan Yang Maha Esa—adalah titik temu antara nilai-nilai Islam dan cita-cita kebangsaan Indonesia.

Sebagaimana ditegaskan dalam berbagai kajian, Pancasila merupakan kompromi luhur antara kelompok Islam yang menginginkan Islam sebagai dasar negara dan kelompok nasionalis yang menginginkan negara sekuler.

Hasil kompromi itu adalah Pancasila: negara yang secara institusional modern, tetapi secara filosofis berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dalam konteks ini, Masyumi bukan partai yang ingin mendirikan negara Islam secara formalistik melainkan partai yang ingin meng “islamkan” kehidupan—artinya, menjadikan nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai panduan etik dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk dalam kebijakan politik, sosial, ekonomi, hukum, pendidikan, dan lain sebagainya. Dan semua itu dilakukan dalam bingkai Pancasila dan NKRI bukan di luar atau melawannya.

Jalan Keluar: Menuju Indonesia Berkah

Untuk keluar dari keterpurukan dan mewujudkan Indonesia yang berkah, Partai Masyumi mengajukan beberapa langkah strategis untuk ditempuh:

1. Pendidikan karakter berbasis nilai Tauhid: Mengintegrasikan nilai-nilai universal agama (kejujuran, empati, tanggung jawab, tolong menolong, dll) dalam kurikulum pendidikan sejak dini.
2. Keteladanan elite politik: Pemimpin harus menjadi contoh dalam mengamalkan nilai Ketuhanan melalui integritas, transparansi, anti korupsi dalam tindakan–bukan slogan– dan kepedulian sosial.
3. Dialog kebangsaan yang substantif: Mendorong pemahaman bersama bagaimana membangun bangsa yang demokratis namun harus tetap dilandasi oleh nilai-nilai moral dan etis dalam berbagai keragaman suku, ras, agama dan keyakinan.
4. Penguatan institusi berbasis nilai moral: Membangun sistem politik, hukum, ekonomi, dan sosial yang berkeadilan dan bermoral.
5. Dukungan terhadap kekuatan politik yang konsisten: Partai-partai yang memiliki komitment seperti Masyumi yang berkomitmen pada penegakan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dan kembali kepada akar Pancasila perlu diberi ruang untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa.Proses pemilu jangan hanya sibuk mempersoalkan administratif tapi kehilangan subtantif dari tujuan pemilu.

Penutup

Indonesia tidak akan bangkit hanya dengan pertumbuhan ekonomi atau kemajuan teknologi.

Bangsa ini membutuhkan kebangkitan moral dan spiritual yang bersumber dari kembali kepada nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa.

Jika Indonesia terus mengabaikan fondasi ini, keterpurukan akan semakin dalam dan Indonesia diambang kehancuran akan semakin nyata.

Kehadiran kembali Partai Masyumi membawa harapan baru: bahwa masih ada kekuatan politik yang konsisten memperjuangkan tegaknya nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dalam kehidupan berbangsa, sekaligus mengajak seluruh komponen bangsa untuk kembali kepada akar filosofi bangsa: Pancasila.

Dengan misi ini, Masyumi tidak hanya ingin menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan, tetapi lebih jauh: mewujudkan Indonesia Berkah—negeri yang adil, bermartabat, dan diridhai Allah SWT.

Namun, harapan ini hanya akan bermakna jika seluruh elemen bangsa bersatu menghidupkan kembali roh Ketuhanan Yang Maha Esa dalam setiap denyut nadi kehidupan Indonesia.

Hanya dengan cara inilah Indonesia dapat keluar dari keterpurukan dan kembali menjadi bangsa yang adil, beradab, dan bermartabat di mata dunia.Inysa Allah