Perjuangan Nabi Muhammad SAW (30)

March 20, 2026

PERJUANGAN NABI MUHAMMAD SAW (30)

Abdullah Hehamahua

Manusia  meninggal dunia bukan karena sakit. Sebab, jika demikian, para dokter tidak meninggal. Ini karena mereka yang paling tau tentang kese-hatan manusia.  Sejatinya, orang me-ninggal karena waktunya sudah tiba. Konsekwensi logisnya, seseorang yang berumur 100 tahun misalnya, bukan karena dia sehat, tapi karena waktunya belum tiba. Allah SWT berfirman:

Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penun-daan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.” (QS Al A’raf: 34).

 Rasulullah SAW, berbeda dengan manusia lain di mana wafatnya tidak berkaitan dengan kesehatan. Baginda meninggal karena tugasnya sebagai nabi dan rasul, selesai. Hal ini diinfor-masikan melalui wahyu terakhir ketika Rasulullah SAW melakukan haji wada’.

 

Rasulullah SAW Menderita Sakit

Imam Bukhari meriwayatkan, Nabi Muhammad SAW sakit berupa demam

tinggi selama dua pekan, sekembalinya dari berziarah ke Baqi.  Aisyah RA me-riwayatkan, beliau belum pernah meli-hat seseorang menanggung rasa sakit lebih berat daripada Rasulullah SAW. Menurutya, Rasulullah SAW yang tinggal di rumahnya, bersiwak, lalu me-masukkan tangan ke air, dan meng-usap wajah seraya berkata, “La ilaha illallah, sesungguhnya kematian itu ada sekaratnya“.

 

Pidato Terakhir

Rasulullah SAW sekalipun sakit, tetap ke masjid untuk mengimami jamaah.   Lima hari sebelum wafat, su-hu badan baginda semakin tinggi. Ba-ginda pun bersabda, “Guyurkan air dari manapun ke tubuhku, agar dapat me-nemui orang-orang dan memberikan nasihat ke mereka.”

Rasulullah SAW setelah merasa agak ringan, masuk ke dalam masjid dengan kondisi kepala yang terikat. Baginda dipapah Ali bin Abu Thalib dan  Abbas bin Abdul Muthalib. Rasulullah SAW sambil duduk di atas mimbar, lalu menyampaikan tausiyah:

Baginda memulai dengan ber-shalawat, memuji Allah, dan menyam-paikan nasihat-nasihat terakhir yang substansinya adalah: (1) “Ash-shalaah, ash-shalaah, wamaa malakat aimaanu-kum” (Shalat, shalatlah kalian, dan peliharalah budak-budak/kaum lemah di antara kalian; (2) Perhatikan hak-hak istri dan perlakukan mereka dengan baik karena mereka adalah amanah Allah; (3) Jangan menyembah kubur-annya atau menjadikannya sebagai berhala yang disembah.; (4) Esa-kan Allah dan berlepas diri dari syirik; (5)  Bertakwa ke Allah dalam memper-lakukan manusia.

 

Rasulullah SAW didatangi Izrail

Al-Husain RA menceritakan bahwa, suatu ketika Jibril menemui Nabi SAW pada hari wafatnya dan bertanya, “Apa yang kau rasakan?” Baginda menja-wab, “Wahai Jibril, aku merasa sedih dan berduka.” Tidak lama berselang, Malaikat Maut, Izrail minta izin masuk. Jibril pun berkata, “Wahai Muhammad, itu Malaikat Maut. Dia meminta izin masuk menemuimu. Dia tidak pernah meminta izin masuk ke manusia sebe-lumnya. Dan, dia tidak akan meminta izin masuk ke seorang manusia pun setelah ini.” “Izinkanlah dia masuk,” jawab baginda.

Malaikat Maut pun masuk dan duduk di hadapan Nabi Muhammad SAW, lalu berkata, “Sesungguhnya, Allah mengutusku untuk menemuimu dan memerintahkanku untuk mematu-himu. Jika engkau memerintahkanku mencabut nyawamu maka akan kuca-but. Jika engkau tidak suka maka akan kutinggalkan.”
Rasulullah SAW bertanya, “Eng-kau akan melakukannya, wahai Malai-kat Maut.?” “Ya, itulah yang diperintah-kan kepadaku,” jawab Izrail. Jibril lalu menambahkan, “Sesungguhnya, Allah telah rindu bertemu denganmu.” Ra-sulullah SAW mendengar ucapan Jibril tersebut lengsung memberitahu Izrail agar segera laksanakan tugasnya.

Rasulullah SAW Menghadapi Sakratul Maut

Rasulullah SAW merasakan pedih-nya sakaratul maut untuk menunjukkan kemanusiaan beliau dan memberi contoh umatnya. Rasulullah SAW ber-sabda:

“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Sesungguhnya kematian ada masa sekaratnya. (HR.-Bukhari).

 

Aisyah mengisahkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat se-dangkan beliau berada di antara dagu dan leherku. Maka setelah wafat beliau, selamanya aku tidak pernah takut dengan pedihnya kematian siapa pun.”  [HR. Tirmidzi & Bukhari].

 

Rasulullah SAW kelihatan kesakitan luar biasa menghadapi sakratul maut. Namun,, saking cintanya terhadap umatnya, Baginda memohon agar sakratul maut umatnya dibebankan ke beliau saja. Baginda lalu bersabda:

“Sesungguhnya manusia yang paling berat musibahnya adalah para Nabi kemudian yang semisalnya,” (HR Tirm-idzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). Bahkan, pada akhir hayatnya, baginda berbi-sik “Ummatii, ummatii” (umatku, umat-ku).

 

Menghembuskan Nafas Terakhir

Hari itu, Senin, 12 Rabiul Awal, 11H, waktu dhuhah, makhluk mulia itu menghembuskan nafas terakhir, sambil mengucapkan “Allahumma ar-Rafiqul A’la” (Ya Allah, kekasih tertinggi) tiga kali. (HR Bukhari).

Langit Madinah diselimuti kege-lapan.. “Lautan air mata” membasahi seluruh penduduk Madinah..Beliau, nabi dan rasul terakhir yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Beliau adalah penghulu para nabi dan rasul. Beliau adalah kepala negara, negarawan, panglima perang, dan dip-lomat ulung. Beliau adalah pemimpin yang mencintai dan dicintai umatnya. Beliau, suami teladan, ayah penya-yang, tetangga budiman. Beliau adalah Nabi dan Rasul, Muhammad SAW.

 

Simpulan

  1. Manusia meninggal dunia bukan karena sakit, tetapi karena waktunya sudah tiba.
  2. Nabi Muhammad SAW meninggal, tidak ada hubungannya dengan ke-sehata. Baginda meninggal karena tugasnya sebagai nabi dan rasul sudah selesai dengan turunnya su-rah Al Maidah ayat 3 yang menye-butkan kesempurnaan agama Islam.
  3. Nabi Muhammad SAW sebagai ma-nusia biasa, tetap menjalan proses sakratusl maut. Namun, saking cin-tanya terhadap umatnya, beliau minta agar sekarat cukup dilim-pahkan ke dirinya, tidak ke umatnya. Bahkan, ucapan terakhir dari mu-lutnya: ummati, ummati. (Depok, 30 Ramadhan 1447H/19 Maret 2026M). TAMAT !!!