Perjuangan Nabi Muhammad SAW (15)

March 4, 2026

PERJUANGAN NABI MUHAMMAD SAW (15)

Abdullah Hehamahua

 Nabi Muhammad SAW, pasca meninggalnya, pamannya, Abu Thalib dan isteri tercinta Khadijah, menghibur diri dengan keluar dari kota Makkah. Sasarannya, kota Thaif, bandar kedua terbesar sesudah Makkah. Baginda mau menyebarkan Islam di kota ini. Namun, penolakan yang diterima, tidak beda dengan sikap petinggi Quraisy.

 Rasulullah SAW luka di Thaif

Nabi Muhammad SAW,  secara manusiawi, sedih ditinggal isteri dan pamannya dalam pekan yang sama. Namun, beliau lebih sedih karena umat Islam masih mengalami intimidasi mes-ki mereka telah bebas dari boikot eko-nomi dan sosial budaya dari golongan Quraisy.

Nabi Muhammad lalu melakukan terobosan dengan cara berdakwah ke Thaif. Harapannya, baginda memer-oleh dukungan di sana. Nabi Muham-mad SAW dalam perjalanan ke Thaif, seperti diceriterakan di “Sirah Nabawi” karangan Dr. Muhammad Sa’id Rama-dhan Al Buthy, menemui pemuka Bani Tsaqif. Mereka adalah penguasa da-erah tersebut.

Baginda berbicara tentang Islam dan mengajak mereka beriman ke Allah SWT. Namun, ajakan beliau ditolak. Bahkan, dilayani dengan kasar. Bagin-da  ketika meninggalkan tempat itu, berharap agar mereka merahasiakan kedatangannya ke kaum Quraisy. Itu pun ditolak. Tragisnya, mereka kerah-kan penjahat dan anak-anak untuk mencerca serta melempari baginda dengan batu. Dampak negatifnya, kedua kaki baginda luka.

Zaid bin Haritsah (sekretaris baginda) yang berusaha keras melin-dungi baginda pun kewalahan. Bahkan, beliau pun mendapat luka di kepala. Para pengerjar tersebut, berhenti dan kembali ke Thaif setelah Nabi Muham-mad tiba di kebun milik Utbah bin Rabi’ah.

Curhat  Rasulullah SAW

Baginda, setelah merasa tenang di bawah naungan pohon kurma, beliau curhat ke Rabb-nya: “Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan keren-dahan diriku berhadapan dengan ma-nusia. Wahai Dzat Yang Maha Peng-asih lagi Maha Penyayang. Engkaulah Pelindung bagi silemah dan Engkau jualah pelindungku. Kepada siapa diri-ku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram ter-hadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku ? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi ke-gelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan diriku. Engkau ber-kenan. Sungguh tiada daya dan ke-kuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.“

Dua anak Rabi’ah, pemilik kebun yang secara sembunyi-sembunyi me-merhatikan tingkah laku dan doa Ra-sulullah SAW,  menjadi iba. Mereka menyuruh  pelayannya, Addas, mem-berikan kurma ke Nabi Muhammad SAW. “Bismillah,“ ucap baginda ketika hendak memakan kurma yang disu-guhkan Addas.

“Demi Allah, kata-kata itu tidak pernah diucapkan penduduk daerah ini,“  ucap Addas keheranan. “Kamu dari daerah mana dan apa agamamu,?“ tanya baginda.  “Saya seorang Nasrani dari daerah Ninawa,“ jawab Addas. “Apakah kamu dari negeri seorang saleh yang bernama Yunus anak Matius,?“ tanya Rasulullah SAW lagi. Tanpa menunggu jawaban, baginda lalu menerangkan: “Yunus bin Matius adalah saudaraku. Beliau  seorang Na-bi dan aku pun seorang Nabi.“  Addas, seketika itu juga berlutut di hadapan Rasulullah SAW, lalu mencium kepala, kedua tangan, dan kaki baginda.

Jibril muncul dan memanggil baginda seraya berkata, “Sesungguh-nya Allah telah mendengar perkataan dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus Malaikat penjaga gunung untuk engkau perin-tahkan sesukamu.“

Malaikat penjaga gunung kemu-dian memanggil baginda dan meng-ucapkan salam, lalu berkata, “Wahai Muhammad.! Sesungguhnya Allah te-lah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah Malaikat pen-jaga gunung, dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.”

“Bahkan aku menginginkan se-moga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, dengan sesuatu pun,“ jawab baginda.

 

Simpulan

  1. Penderitaan Nabi Muhammad SAWdi Thaif, tidak lain merupakan asam garam perjuangan, dakwah, dan sosialisasi ajaran Islam. An-daikan masakan yang dihidangkan isteri, tiada rasa pedas, asin atau asam, tentulah selera makan kita berkurang. Tentu saja, bumbu ma-sakan itu tidak boleh melebihi dosis yang proporsional karena bisa mendatangkan beberapa penyakit.
  2. Nabi Muhammad SAW dalam mendakwakan Islam, tidak hanya untuk mentauhidkan Dia melalui ibadah ubudiyah dan muamalah, tetapi juga untuk diterima, dilak-sanakan serta diperjuangkan dengan kualitas sabar yang optimal. Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga dan bertawakalah kepada Allah, supaya kamu ber-untung.“ (QS Ali Imran : 200).

  1. Dakwah, dalam keadaan apa pun, dan terhadap siapa pun,dilaksana-kan hanya karena diperintahkan Allah dan Rasul-Nya sebagaimana Nabi Muhammad SAW yang menolak tawaran Malaikat untuk menghancurkan penduduk Thaif. Beliau justru mengharapkan anak cucu mereka yang akan masuk Islam. Inilah keagungan akhlak Rasulullah SAW. (Depok, 15 Ramadhan 1447H/4 Maret 2026).

 

Sains Tidak Berpikir (2)

SAINS TIDAK BERPIKIR (2) Irawan Santoso Shiddiq, SH Martin Heidegger (1889-1976), menerbitkan artikel “Science does