Perjuangan Nabi Muhammad SAW (23)

March 12, 2026

PERJUANGAN NABI MUHAMMAD SAW (23)

Abdullah Hehamahua

 

 

 

Nabi Muhammad SAW sebagai seorang psikolog, memotivasi para sa-habat agar mengutamakan akhirat dari kehidupan dunia. Rasulullah SAW ber-sabda:

 

“Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan tidak pernah berperang (di jalan Allah), dan tidak pernah berniat untuk berperang, maka dia mati di atas salah satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim).

Konsekwensinya, tingkatkan ke-mampuan di bidang tugas masing-masing individu. Namun, jika situasi menghendaki kita harus turun ke me-dan perang fisik (qital) tiada pilihan lain, kecuali harus siap berjuang dalam menegakkan aqidah Islam. Allah SWT berfirman:

“Berangkatlah kamu baik dalam ke-adaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demi-kian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”  (QS At Taubah: 41).

Penyebab Perang Bad’r

Para sahabat ketika berhijrah ke Madinah, meninggalkan rumah dan hartanya di Makkah. Tragisnya, harta tersebut dikuasai orang kafir Quraisy. Konsekwensi logisnya, ketika men-dengar ada kafilah  pedagang Quraiys kembali dari Syam menuju Makah, sebagian umat Islam di Madinah bermaksud menghadang kafilah ini. Maksudnya, mereka mahu menuntut pengembalian harta mereka yang diambil orang Quraisy. Namun, Abu Sofyan  sebagai pemimpin Quraisy me-ngetahui rencana Muhajirin tersebut.

Abu Sofyan pun memerintahkan orang Quraisy agar mengerahkan pasukan yang besar guna meng-hancurkan umat Islam. Berangkatlah pasukan Quraisy yang terdiri dari 1000 perajurit di mana 600 di antaranya berpakaian perang dengan 100 tentara kuda dan 700 ekor unta.

Nabi Muhammad SAW menge-tahui adanya serangan pasukan Qura-isy tersebut, memimpin umat Islam untuk menghadapinya. Inilah pepe-rangan pertama dalam Islam setelah ada ijin perang dari Allah SWT:

Telah diijinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesung-guhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Ma-ha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang – orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alas-an yang benar..(Q.S Al Hajj: 39).

 Pasukan Islam hanya 313 orang dengan 3 entara berkuda dan 70 ekor unta. Maknainya, lebih dua ratus tentara harus berjalan kaki.

Penyatuan Hati, Pangkal Kemenang-an

Rasulullah SAW sebelum ber-kemah di lembah Badr, bermusya-warah dengan para sahabat. Setiap wakil dari masing-masing golongan menyampaikan pernyataan kebulatan tekad. Miqad bin Aswad yang mewakili Muhajirin dalam pernyataannya, me-ngatakan: ”Ya Rasulullah, kami tidak akan mengatakan kepadamu sebagai-mana bangsa Yahudi mengatakan ke-pada nabi Musa – pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan kami duduk menanti di sini -. Namun, kami menga-takan kepadamu, pergilah bersama dengan keberkahan Allah dan kami akan bersama denganmu.”

Sa’ad bin Muaz yang mewakili golongan Anshar, setelah selesai pida-to Miqad, menyampaikan: ”Wahai utus-an Allah, kami telah percaya bahwa engkau selalu berkata benar. Kami te-lah memberi kepadamu kesetiaan kami untuk mendengar dan taat kepadamu. Demi Allah, Dia yang telah meng-utusmu dengan kebenaran, jika engkau memasuki laut, kami juga akan mema-sukinya bersamamu, dan tidak ada seorang pun di antara kami yang tertinggal di belakang. Mudah-mudah-an Allah akan menunjukkan kepadamu yang mana tindakan kami yang me-nyukakanmu. Maka majulah bersama kami, letakan kepercayaan kami dalam keberkahan Allah.”

Pernyataan kebulatan tekad para sahabat tersebut menyatu dalam ko-mando Rasulullah SAW, demi mene-gakkan kalimatullah.

 

Bantuan Malaikat dari Langit

Peperangan di Arab waktu itu, secara tradisional, selalu dimulai de-ngan perang tanding, satu lawan satu Umat Islam diwakili oleh sahabat utama: Hamzah (paman Rasulullah), Ubaidah al Harits dan sepupuh Rasulullah sendiri yang masih remaja, Ali bin Abu Thalib.

Golongan Quraisy diwakili oleh Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, dan Walid bin Utbah. Perang tanding ini dimenangkan oleh ketiga perwakilan Islam. Sebab, ketiga tokoh Quraisy berhasil dibunuh. Konsekwensinya, mulailah perang umum di antara 313 prajurit muslim melawan 1000 tentara kafir Quraiys.

Rasulullah SAW pada malam sebelumnya, bermunajah melalui sha-lat malam, memohon bantuan dari Allah SWT. Dampak positifnya, Allah SWT memenuhi janji-Nya dengan mengirim-kan para malaikat yang menebas leher-leher kafir Quraisy. Allah SWT ber-firman:

 

 Sungguh, Allah benar-benar telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu (pada saat itu) adalah orang-orang lemah. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah agar kamu bersyukur. (Ingatlah) ketika engkau (Nabi Muhammad) mengatakan kepa-da orang-orang mukmin, “Apakah tidak cukup bagimu bahwa Tuhanmu mem-bantumu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)? Ya (cukup).” Jika kamu bersabar dan bertakwa, lalu mereka datang me-nyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.(Q.S Al Imran: 123 – 125).

 

Ayat Al-Qur’an ini menginfor-masikan bahwa, Allah SWT meng-irimkan lima ribu malaikat yang meno-long umat Islam. Sebab, secara teoritis, mustahil bagi ummat Islam yang hanya 313 orang, tanpa baju perang, meng-alahkan 1000 prajurit Quraisy. Apalagi mereka memiliki baju perang dan ratusan ekor kuda.

 

Perang Badr, Kemenangan Penuh Makna.

Sejarah Islam mencatat, 70 tokoh Quraisy meninggal, termasuk pemim-pin mereka (Abu Jahal dan Umayyah). Rasulullah SAW juga menawan 70 orang musuh, dan ratusan yang luka-luka. Pampasan perang yang diperoleh umat Islam sangat banyak. Inilah kemenangan penuh makna, sekalipun 14 sahabat menjadi syuhada. Allah SWT berfirman:

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS Ali Imran: 54).

Simpulan

  1. Setiap muslim hendaknya berniat syahid agar tidak mati dalam ke-adaan fasik. Konsekwensinya, setiap muslim mesti berjihad di jalan Allah dengan harta dan dirinya. Jihad dimulai dengan kerja keras, berintegritas, dan profesio-nal di bidang kerja masing-masing. Namun, jika keadaan menuntut setiap muslim harus terjun ke me-dan perang secara pisik (qital), tidak ada pilihan kecuali ikut ber-sama.
  2. Kemenangan suatu perjuangan dimulai dengan penyatuan hati, organisasi dan program yang strategis dan komprehensif kemu-dian diserahkan ke Allah SWT.
  3. Kemenangan perang Bad’r karena Allah SWT mengirim ribuan ma-laikat untuk membantu umat Islam sebagai jawaban atas keinginan para sahabat yang, berniat menjadi syuhada. (Depok, 20 Ramadhan 1447H/10 Maret 2026).