Tuntutan Partai Masyumi:Bersihkan Kabinet Dari Antek-Antek Oligarkis Dan Luruskan Kiblat Pembangunan

January 5, 2026

TUNTUTAN PARTAI MASYUMI:

BERSIHKAN KABINET DARI ANTEK-ANTEK OLIGARKIS

DAN LURUSKAN KIBLAT PEMBANGUNAN

Bismillahirrahmanirrahim

Prabowo Subianto sebelum 2019 adalah penulis buku Paradox Indonesia, sebuah kapal

negara yang bocor di sana-sini karena aset SDA-nya dirampas oleh asing dan dicuri

oleh oligarki lokal. Ia berjuang untuk melawan dan mengejar koruptor-koruptor itu,

bahkan sampai ke Antartika. Jelas sekali, Prabowo saat itu adalah antitesa rezim antek

asing, antitesa rezim boneka oligarki. Prabowo adalah sang pendekar dambaan rakyat

Indonesia. Tahun 2019 adalah titik balik ketika Prabowo masuk ke kapal bocor itu untuk

bisa menambalnya dari dalam. Siapa sangka, ia kemudian melebur menjadi satu. Sang

pendekar menjadi bagian dari tim kapal yang bocor itu. Mungkin seperti judul film jadul:

“Sang Pendekar di Sarang Penyamun”.

Satu tahun berjalan di 2025, Prabowo adalah nakhoda bagi kapal yang masih bocor itu.

Memang masih lantang akan melawan perampasan SDA dan memburu koruptor,

bahkan meyakini “menjadi suatu kehormatan” apabila harus mati membela rakyat.

Sungguh, Prabowo seorang patriot. Tetapi, apakah kebocoran sudah berhasil ditambal?

Apakah koruptor berhasil dikejar sampai ke Antartika? Apakah perampasan SDA

berhasil dihentikan? Apakah pelaku kejahatan ekologis berhasil ditangkap? Apakah

pertumbuhan ekonomi meroket 8% dan mafia-mafia berhasil diberantas? Tahun 2026

adalah kegelisahan dan ketidakpastian; apakah benar Prabowo masih sang patriot

penulis Paradox Indonesia, atau ia sendiri telah menjadi paradoks bagi dirinya sendiri?

PANDANGAN DAN KEYAKINAN PARTAI MASYUMI

Partai Masyumi memandang jalan pembangunan Indonesia ke depan adalah krusial

untuk kita tentukan arahnya:

  1. Paradoks Pertumbuhan

Visi Prabowo sangat jelas dan menantang: pertumbuhan 8% menuju Indonesia Emas

2045; crystal clear. Tetapi saat ini, lebih dari 50% tim kabinetnya adalah warisan

lama, yang sebelumnya stagnan di angka 5% dan tidak berkualitas (low quality

growth). Bagaimana mungkin hasil yang berbeda dicapai dengan metode yang sama;

sapu yang kotor dipergunakan untuk membersihkan? Partai Masyumi melihat bahwa

yang sesungguhnya terjadi adalah “the wrong man on the strategic place”. Adalah

berbahaya sekali memberikan kekuasaan kepada mereka yang tidak memiliki

kredibilitas (tidak kompeten dan tidak berintegritas).

  1. Paradoks Sumber Daya Alam

Patriotisme Prabowo jelas: SDA harus untuk kesejahteraan rakyat, pencuri dan

perampas harus dihukum berat. Tetapi saat pelaku kejahatan ekologis (seperti

bencana di Sumatera) tidak segera diusut, insentif fiskal (tax holiday) bagi investasi

asing tidak tajam dievaluasi, pengaturan tata ruang tanah berlangsung tidak adil, dan

pajak rakyat dipaksa tidak berkeadilan, maka SDA menjadi kutukan (resource curse)

dan bencana alam menyengsarakan rakyat. Terbukti bahwa PNBP (Penerimaan

Negara Bukan Pajak) dari SDA semakin menurun dan alokasi keuntungan bagi

negara (government take) sangat kecil.

  1. Paradoks Pemberantasan Korupsi

Garangnya Prabowo jelas: “Saya tidak takut, saya akan kejar koruptor-koruptor itu,

bila perlu sampai ke Antartika”. Tetapi ketika inefisiensi pembiayaan IKN ditanggung

negara, kerugian Whoosh diambil alih oleh negara, kemelut ijazah palsu hanya

didiamkan, indikasi korupsi oknum-oknum di tubuh rezim Joko Widodo dibiarkan, dan penyerobotan tanah-tanah rakyat oleh oligark terus berlangsung, hal itu menyiratkan

bahwa “Sang Macan sudah ompong”. Alih-alih mengusut dugaan korupsi, yang

terjadi malah mengambil alih kekisruhan inefisiensi itu menjadi beban negara.

  1. Paradoks Kenegarawanan

Inilah paradoks yang paling melukai rasa keadilan rakyat. Teriakan Prabowo “Hidup

Jokowi…”, sungguh paradoks nyata antara Prabowo sebagai Presiden Indonesia

atau sebagai Presiden pendukung Pilpres. Paradoks antara memburu koruptor dan

pencuri SDA dengan adagium yang diyakininya, bahwa “1000 kawan kurang, 1

musuh terlalu banyak”. Bagaimana jika musuh itu masuk dalam selimutnya, seperti

yang disebutkan oleh Menhannya sendiri: “Kita menghadapi musuh dalam selimut,

kita menghadapi negara di dalam negara”? Negarawan bukan berpihak pada

pendukung atau yang membiayainya. Negara berpihak pada kebenaran dan

keadilan. Energinya bukan dari pendukung, tapi dari idealisme publik (kepentingan

publik).

TUNTUTAN TEGAS PARTAI MASYUMI

Berdasarkan pandangan dan keyakinan di atas, Partai Masyumi mendesak Presiden

Prabowo Subianto untuk mengambil langkah penyelamatan bangsa melalui 4 (empat)

tuntutan berikut:

  1. Luruskan Kiblat Bernegara pada Konstitusi

Mendesak Presiden Prabowo untuk meluruskan kiblat pemerintahan, bahwa ia

adalah Presiden Republik Indonesia yang mengayomi seluruh rakyat, bukan

presiden bagi kelompok pendukung Pilpres semata. Pemilu sudah selesai, maka

kembalikan idealisme penyelenggaraan negara secara murni berdasarkan Pancasila

dan UUD 1945 dan berdiri sebagai negarawan.

  1. Bersihkan Kabinet dari Oligarki dan Residu Masa Lalu

Menuntut Presiden untuk segera melakukan “bersih-bersih” total di tubuh kabinet.

Keluarkan anasir oligarki dan warisan rezim lama yang terbukti tidak berkinerja (non

performing), tidak memiliki kredibilitas, serta membebani negara dengan rekam jejak

(track record) yang buruk. Ganti mereka dengan figur-figur yang memiliki integritas

moral (akhlak) dan kompetensi profesional demi tercapainya target pembangunan.

  1. Penegakan Hukum Radikal dan Keadilan Ekologis

Mendesak Presiden Prabowo membuktikan janjinya, mengejar koruptor hingga ke

antartika. Lakukan pemberantasan korupsi dan mafia—baik mafia hukum, tanah,

maupun tambang—secara masif dan tanpa pandang bulu. Segera usut tuntas pelaku

kejahatan ekologis yang telah memicu bencana kemanusiaan, serta lakukan

penyusunan ulang tata ruang nasional yang berkeadilan secara sosial dan ekologis,

bukan tata ruang pesanan pemodal.

  1. Kedaulatan Sumber Daya Alam untuk Kemakmuran Rakyat

Kembalikan mandat konstitusi bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung

di dalamnya adalah untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Hentikan praktik

ekonomi yang menghamba pada oligarki dan investor asing yang merugikan negara.

Pastikan setiap jengkal pemanfaatan SDA memberikan nilai tambah nyata bagi

kesejahteraan rakyat Indonesia, bukan sekadar angka statistik pertumbuhan yang

semu.

Partai Masyumi menegaskan bahwa tuntutan ini adalah wujud cinta kami kepada

Indonesia. Tanpa integritas, keadilan hanyalah ilusi, dan tanpa keadilan, persatuan akan

runtuh. Mari kita selamatkan Indonesia sebelum terlambat.

Jakarta, 5 Januari 2026

Dewan Pimpinan Pusat Partai Masyumi

Dr. Ahmad Yani, SH., MH Samsudin Dayan, SH., M.Si

Ketua Umum Sekretaris Jendera

8 Pernyataan Sikap Bersihkan Antek Oligarkis