Perjuangan Nabi Muhammad SAW (18)

March 7, 2026

PERJUANGAN NABI MUHAMMAD SAW (18)

Abdullah Hehamahua

Rasulullah SAW, pasca Bai’ah Aqabah 1, mengirim Mush’ab bin Umair sebagai  guru bagi  penduduk Yatrib, baik yang Muslim, maupun kafir. Mush’ab diutus karena keteguhan imannya sehingga rela meninggalkan kehidupan mewah. Bahkan, demi men-jaga keimanannya, Mush’af ikut hijrah ke Habsyah.

Keteguhan iman, istiqamah, dan komitmen perjuangannya, Mush’ab di-percayakan Rasulullah SAW memba-wa bendera perang Uhud.

Mush’ab Berpisah dengan Ibunya

Mush’ab adalah seorang remaja yang ganteng, penuh dengan jiwa kemudaan. Beliau dilahirkan dan dibe-sarkan dalam keluarga terpandang. Konsekwensinya, kesehariannya, se-bagaimana layaknya anak-anak keluar-ga bangsawan yang selalu bergeli-mang kemewahan dengan hidup hura-hura karena dimanja orang tua.

Mush’ab, suatu hari, mendengar berita tentang ajaran yang dibawah Nabi Muhammad SAW.  Beliau berhasil menemukan rumah Arqam, markas umat Islam.

Mush’ab pun terpesona ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan Rasulullah SAW di mana ia menghunjam ke dalam kalbunya.

Mush’ab sebagai remaja yang cerdas, dalam waktu singkat, perilaku-nya berubah total. Sebab, dari anak bangsawan yang suka hura-hura, tam-pil sebagai pejuang tauhid dan pengikut setia Rasulullah SAW. Namun, beliau mengalami tantangan besar dari ibunya,

Khunas binti Malik, ibunda Mush’ab, seorang yang berwatak keras dan sangat benci ajaran Rasulullah SAW. Konsekwensinya,  Mush’ab me-rahasiakan keislamannya dari ibunya. Namun, Mush’ab tetap mengikuti pe-ngajian di rumah Al Arqam sampai Utsman bin Thalhah mengetahui hal tersebut dan melaporkan ke ibunya. Sang ibu murka. Mush’ab diminta meninggalkan ajaran Islam.

Mush’ab yang cerdas sudah siap sebagai pejuang Islam dengan segala risikonya. Konsekwensinya, sang ibu memenjarakan Mush’ab di kamar khu-sus dan tidak boleh berhubungan dengan umat Islam.

Mush’ab Hijrah ke Habsyi

Mush’ab ketika merdapat informasi, bahwa, para sahabat akan hijrah ke Habsyi, bertekad untuk ikut bersama. Mush’ab, didorong ketauhidan yang kuat, berhasil mengelabui ibunda dan pengawalnya sehingga bisa ikut hijrah ke Habsyi. Namun, rindunya terhadap Rasulullah SAW, Mush’ab kembali ke Makah,  Ternyata, sikap ibunya tidak berubah. Bahkan, lebih bengis. ”Jika engkau tidak kembali ke agama nenek moyang kita, aku bukan lagi ibumu,” demikian ancaman sang ibu.

Mush’ab dengan penuh ta’zim berkata, ”wahai bunda, aku menya-yangimu karena itu ucapkanlah ”tiada ilah yang disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah Nabi dan Rasul-Nya.”  Ibunya tetap tegar dengan kekafirannya.

Mush’ab Jadi Orang Papa

Mush’ab, dengan linangan air mata ketauhidan, meninggalkan orang tuanya. Jadilah Mush’ab, orang yang sehari makan dan beberapa hari lapar. Sebab, beliau tidak memiliki apa pun. Pakain yang tadinya cantik, bertukar menjadi jubah penuh tambal sulam sehingga keluar ucapan Rasulullah SAW:

Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada mengimbanginya dalam memer-oleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

 

Mush’ab Menjadi Duta Rasulullah SAW

Rasulullah SAW, dengan menge-tahui kecerdasan, istiqamah,  dan ke-zuhudan perilaku  Mush’ab, menugas-kannya menjadi duta ke Yatrib. Pa-dahal, banyak sahabat lain yang lebih tua dan berpengalaman dari Mush’ab.

Tugas Mush’ab, mengajarkan Islam ke 12 orang yang sudah masuk Islam ketika berbai’ah di bukit Aqabah. Mush’ab juga mengajak penduduk Yatrib yang lain untuk masuk Islam. Mush’ab, berbekal kurnia Allah SWT  ke atas dirinya  berupa pikiran cerdas, keluhuran budi, perilaku zuhud, jujur, dan kesungguhan hati, berhasil mena-wan hati penduduk Yatrib. Dampak positifnya, berduyun-duyun penduduk masuk Islam. Dampak positif lanjut-annya, hanya beberapa bulan, hampir seluruh penduduk Yatrib masuk Islam, kecuali golongan Yahudi.

Kecerdasan dan keluhuran jiwa Mush’ab sebagai duta Rasulullah SAW dapat dilihat dalam suatu peristiwa ketika dakwah Mush’ab mendapat perlawanan dari Usaid bin Hudlair. Usaid ini, kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Yatrib.

”Apa maksud anda datang ke kampung kami ini.? Apakah anda hendak membodohi rakyat kecil kami.? Tinggalkan segera tempat ini jika tidak ingin segera nyawa anda melayang,” hardik ketua suku. ”Mengapa anda tidak duduk dan mendengar dahulu.? Jika nanti anda suka, anda dapat menerimanya. Jika tidak, saya akan menghentikan apa yang anda tidak sukai,” jawab Mush’ab

”Sekarang saya insyaf,” kata Usaid setelah merasakan ketulusan ajakan Mush’ab. Usaid menjatuhkan lembing-nya. Beliau lalu duduk mendengar ayat-ayat  Al-Qur’an yang dibaca-kan  Mush’ab disertai penjelasannya. Belum selesai uraian Mush’ab, Usaid berujar, ”alangkah indahnya ucapan itu..” Usaid pun mengucapkan dua kalimah syahadah. Islamnya Usaid, disusul oleh Sa’ad bin Muadz dan Sa’ad bin Ubadah. Dampak positifnya, Islamnya mereka bertiga, maka sele-sailah persoalan dengan pelbagai suku yang ada di Yatrib.

Simpulan:

  1. Hidayah Allah SWT mendatangi siapa saja, baik bangsawan, rakyat jelata, orang kaya, mau-pun fakir miskin. Syaratnya, fungsikan pancaindera, cerah-kan pemikiran, dan lapangkan dada untuk menerima kebenar-an dari Allah SWT. Itulah yang berlaku terhadap Mush’ab bin Umair.
  2. Harta kekayaan, pangkat, jabat-an, status sosial, bahkan keluar-ga, bisa ditinggalkan jika sese-orang berada di antara dua pilihan: Allah SWT atau makh-luk, dunia atau akhirat. Mush’ab memilih Allah SWT dan Rasul-Nya. (Depok, 18 Ramadhan 1447H/10 Maret 2026).