PERJUANGAN NABI MUHAMMAD SAW (16)
Abdullah Hehamahua
Nabi Muhammad SAW mengalami pelbagai tantangan, bahkan upaya pembunuhan. Klimaksnya, dua orang yang dikasihi dan penyokong kuat be-liau, Siti Khajar (isteri tercinta) dan Abu Thalib (sang paman), meninggal dunia. Semua penderitaan yang dilalui Nabi Muhammad SAW dengan penuh ke-sabaran itu akhirnya mencapai klimaks. Anti klimaksnya berupa undangan khusus dari Allah SWT agar Nabi Mu-hammad SAW menghadap-Nya lang-sung di Sidratul Muntaha.
Isra’ Mi’raj, Undangan Allah SWT
Peristiwa isra’ mi’raj diinformasikan langsung oleh ayat Al-Qur’an berikut:
Maha Suci Allah yang memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang Kami berkahi sekitarnya agar Kami per-lihatkan sebagian ayat-ayat Kami. Se-sungguhnya Dia (Yang menjalankan hambaNya), Maha Mendengar dan Ma-ha Melihat.” (Q.Surah Al Isra’ : 1).
Ayat Qur’an ini menginformasikan beberapa substansi, antara lain:
- Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari bumi ke Sidratul
Muntaha, bukanlah pergerakan ruh
atau mimpi, tetapi perjalanan fisik. Sebab, perkataan abdihi (hamba-Ku) dalam ayat itu, menunjukkan bahwa, baginda isra’ mi’raj dengan fisiknya secara utuh, bukan mimpi atau per-jalanan ruh. Ini karena, jika peristiwa itu adalah mimpi atau perjalanan ruh, maka ayat tersebut tidak menggu-nakan kata abdihi, tetapi ruh.
- Perjalanan Nabi MuhammadSAW dimulai dari Masjidil Haram. Baginda transit di Masjidil Aqsa, kemudian menjumpai Allah SWT (dengan diba-tasi oleh tabir) di Sidratul Muntaha. Perjalanan Rasulullah SAW berakhir di Masjidil Haram pula. Hal ini menun-jukkan, manusia akan memeroleh status khusus dari Allah SWT jika per-jalanan hidupnya berdasarkan se-mangat masjid. Sebab, masjid pada masa Rasulullah SAW, bukan hanya tempat shalat.
Masjid merupakan pusat kegi-atan dan kebudayaan Islam. Ra-sulullah SAW berkantor di masjid. Beliau juga mengajar umat di dalam masjid. Persengketaan antar umat (pidana maupun perdata) juga dise-lesaikan di dalam masjid. Pekarangan masjid menjadi tempat latihan militer. Terasnya menjadi perpustakaan. Pe-karangan masjid, ada rumah sakit dan penginapan.
Konsekwensi logisnya, dalam ja-man modern, kalau kita berkantor, berolahraga, bersekolah, berobat, berdagang dan beristirahat, di mana saja, hendaklah dijiwai semangat masjid. Konsekwensi logis lanjutan-nya, kita selalu bersama Allah SWT karena kita berada di dalam rumah-Nya, kapan saja.
- Daerah di antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa adalah kawasan yang diberkahi. Faktanya, Palestina selama puluhan tahun berada dalam suasana perang, penganiayaan, dan penindasan. Barangkali, pemimpin dan tokoh umat di Timur Tengah, sering bermaksiat sehinggakeber-kahan tidak dinikmati
Isra’ Mi’raj, Sains, dan Teknologi
Nabi Muhammad SAW meng-isahkan: “Aku didatangi Malaikat Jib-ril. Dia membelah dadaku, mencuci-nya dengan air zam-zam, kemudian didatangkan kepadaku sejenis hewan tunggangan (buraq) yang putih, lebih besar dari keledai namun lebih kecil dari bighal. Langkah kakinya sejauh pandangan mata. Aku pun dinaikkan ke atasnya.” (HR. Bukhari dan Mus-lim).
Hadis ini menjelaskan penting-nya sains dan teknologi dalam peng-embangan Islam. Sebab, jika buraq itu adalah jenis hewan yang ada di bumi ini pada jaman itu, bagaimana mung-kin ia bisa membawa baginda secepat Jibril. Padahal, Jibril adalah makhluk Allah yang terbuat dari cahaya di mana kecepatannya, 300.000 km/ detik. Konsekwensi logisnya, buraq ini juga harus mempunyai kecepatan mi-nimal sama dengan yang dimiliki Jibril sehingga mereka bisa terbang ber-dampingan. Sebab, buraq berasal dari perkataan al barqun yang berarti kilat. Maknanya, buraq adalah hewan langit yang kecepatannya sama dengan Jibril, yaitu kecepatan cahaya. Kon-sekwensi logisnya, umat Islam masa kini harus menguasai sains dan teknologi.
Abbas ibnu Firnas, saintis Muslim, pada tahun 852M, sewaktu mentandaburi Al-Qur’an, khususnya surah Al Isra’ ayat 1, berpikir, bagai-mana Rasulullah SAW bisa terbang. Sebab, perjalanan konvensional dari Makah ke Baitul Maqdis dengan unta adalah satu bulan. Maknanya, per-jalanan pulang pergi, perlu waktu dua bulan. Padahal, Rasulullah SAW me-ninggalkan Masjidil Haram, ba’da isyak, dan pulang sebelum subuh.
. Abbas ibnu Firnas ketika men-taddaburi ayat Al-Qur’an tentang bu-rung, maka beliau terinspirasi untuk menciptakan kenderaan seperti yang dikendarai Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman: “Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa langit.? Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang ber-iman.” (QS. An-Nahl: 79).
Ayat Al-Qur’an di atas meng-inspirasi Abbas ibnu Firnas, ilmuwan Muslim dari Cordoba, yang pada ta-hun 852 M, menciptakan kapal ter-bang dengan meniru burung. Beliau menguji alat terbangnya di Jabal Al-‘Arus dekat Cordoba. Abbas berhasil melayang selama 10 menit. Konsek-wensi logisnya, semua buku digantara di dunia, Abbas Ibnu Firnas disebut-kan sebagai pelopor aeronautika. Na-manya diabadikan di bandara Bagh-dad, jembatan Cordoba, dan kawah di bulan.
Simpulan:
- Setiap penderitaan yang dijalani dengan sabar, diikuti usaha dan tawakal mutlak terhadap-Nya, akan berakhir dengan kegembiraan. Itu-lah yang dialami Nabi MuhammadSAW dengan peristiwa Isra’ Mi’raj.
- Isra’ Mi’raj adalah undangan khu-sus dari Allah SWT ke Nabi Mu-hammadSAW untuk menerima langsung pe-rintah shalat. Maknanya, perjuangan aqidah selama 13 tahun di Makah diakhiri dengan perintah shalat. Itu-lah sebabnya, Rasulullah SAW ber-sabda: “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah sha-latnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh dia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh dia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah Ta’ala ber-firman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka di-sempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian be-gitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i).
- Perjuangan akan lebih efisien dan efektif jika ditopang oleh sains dan teknologi mutakhir. (Depok, 16 Ra-madhan 1447H/5 Maret 2026).

