″META WAR″:
JEBOLNYA LANGIT VENEZUELA
Oleh:
Dr. Mulyadi (Opu Andi Tadampali)
Dosen Ilmu Politik
Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia
(SPPB UI)
Perang telah berkembang dari waktu ke waktu, dari perang tradisional hingga
“meta perang” (meta war). Perkembangan teknologi yang sangat pesat dan strategi
non-kinetik (propaganda, agitasi, sabotase, disinformasi, boikot, dan serangan siber)
telah memicu evolusi perang ke berbagai tingkatan melampaui perang modern,
berupa perang postmodern, transperang hingga “meta perang” (meta war).
Konsep-konsep yang berkaitan dengan arah tujuan perkembangan teknologi modern,
seperti teoteknologi (teknologi ke arah teologi), metoteknologi (teknologi ke arah
metodologi), dan teknomitologi (teknologi ke arah mitologi) juga telah menjadi
kerangka kerja baru untuk memahami kompleksitas “Meta Perang” di era
kontemporer.
Artikel ini membahas konsep “meta perang” (meta war) dengan contoh kasus
serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela pada 3 Januari 2026. Kami
menunjukkan bagaimana ″Meta Perang″ telah berkembang ke tingkat yang lebih
abstrak dan kompleks melalui implementasi konsepsi teoteknologi, metoteknologi,
dan teknomitologi. Penggunaan teknologi canggih dan strategi non-kinetik dalam
″Meta Perang″ untukmerusak dan mengganggu sistem senjata, sistem pertahanan
obyek vital, dan menghancurkan infrastruktur kritis, serta untuk mempengaruhi opini
publik memiliki tujuan politik, ekonomi, dan sosial.
″Meta War″
Kegagalan diplomasi dan hubungan internasional telah mengantarkan dunia
ke dalam berbagai medan perang mematikan. Dari perang tradisional, perang
modern, perang post-modern hingga ″Meta Perang″ dengan berbgai ciri, karakter
hingga konsekuensi dan implikasinya masing-masing.
Dimulai dari perang tradisional, dimana dua atau lebih negara terlibat dalam konflik
politik menggunakan kekuatan militer konvensional untuk mencapai tujuan politik
berupa menguasai wilayah, seperti Perang Dunia I dan II.
Disusul perang modern, dimana dua atau lebih negara terlibat dalam konflik politik
menggunakan kekuatan militer dengan teknologi canggih dan senjata modern untuk
mencapai tujuan politik berupa menghancurkan kekuatan lawan, seperti Perang
Teluk.
Lalu perang post-modern, dimana dua atau lebih negara terlibat dalam konflik
politik menggunakan kekuatan taktik asimetris, seperti terorisme, sabotase, dan
propaganda untuk mempengaruhi opini publik dalam mencapai tujuan politiknya.
Dr. Mulyadi, Dosen SPPB Universitas Indonesia2
Kemudian, “Meta Perang”, dimana dua atau lebih negara atau kelompok negara dan
non-negara terlibat dalam konflik politik menggunakan kekuatan militer canggih,
teknologi informasi, dan siber, serta strategi non-kinetik untuk menghancurkan
infrastruktur kritis dan mempengaruhi opini publik dalam mencapai tujuan
politiknya, seperti konflik Ukraina-Rusia, Iran-Israel, dan AS- Venezuela
Dari segi kecenderungan tujuan, perang tradisional dan modern bertujuan untuk
menguasai wilayah atau menghancurkan kekuatan lawan, sedangkan perang post
modern dan “Meta Perang” bertujuan untuk mempengaruhi opini publik dalam
mencapai tujuan politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Taktik perang tradisional dan
modern menggunakan kekuatan militer konvensional, sedangkan perang post modern
dan “Meta Perang” menggunakan taktik asimetris dan teknologi informasi. Lokasi
perang tradisional dan modern terjadi di lapangan perang, sedangkan perang post
modern dan “Meta Perang” dapat terjadi di mana saja, termasuk di ruang siber.
“Meta Perang” adalah konsep perang yang melibatkan penggunaan teknologi
canggih dan strategi non-kinetik untuk mengganggu atau menghancurkan
infrastruktur kritis, serta melibatkan perubahan fundamental dalam struktur sosial,
politik, dan ekonomi. Konsep ini melibatkan penggunaan teknologi informasi,
komunikasi, dan siber untuk mempengaruhi opini publik, mengganggu sistem
keuangan, dan menghancurkan infrastruktur kritis.
“Meta Perang” juga melibatkan penggunaan strategi psikologis, propaganda, agitasi,
dan disinformasi untuk mempengaruhi pikiran dan perilaku lawan, serta sikap
mayarakat melalui implementasi konsep pengembangan teknologi, seperti
teoteknologi (teologi), metoteknologi (metodologi), dan teknomitologi (mitologi).
Tujuan dari Meta War adalah untuk mencapai tujuan politik, ekonomi dan sosial
tanpa harus menghabiskan banyak waktu untuk melakukan perang penaklukan.
“Meta Perang” dapat dikenali lewat gabungan keempat ciri berikut, yaitu:
(1) Penggunaan teknologi canggih: “Meta Perang” melibatkan penggunaan teknologi
canggih seperti internet, siber, dan kecerdasan buatan untuk tujuan penaklukan.
Serangan siber terhadap Estonia pada 2007 adalah salah satu contoh serangan
siber yang paling terkenal dan berdampak besar. Website-website pemerintah,
bank, dan media Estonia diserang oleh gelombang DDoS (Distributed Denial
of Service). Serangan ini diduga terkait dengan ketegangan antara Estonia dan
Rusia, setelah pemerintah Estonia memindahkan patung Soviet “Monumen
Pembebasan Tallinn” dari pusat kota Tallinn ke sebuah pemakaman militer
di pinggiran kota. Rusia menganggap tindakan ini sebagai penghinaan terhadap
sejarah Soviet dan memicu kerusuhan di Tallinn.
Serangan siber ini berlangsung selama beberapa minggu dan menyebabkan
gangguan besar pada infrastruktur Estonia, termasuk shutdown situs web
pemerintah dan bank. Meskipun tidak ada bukti langsung yang menghubungkan
serangan ini dengan pemerintah Rusia, banyak yang percaya bahwa Rusia terlibat
dalam serangan ini.
Serangan ini menjadi titik balik dalam kesadaran keamanan siber global dan
memicu pembentukan NATO Cooperative Cyber Defence Centre of Excellence
(CCDCOE) di Tallinn, Estonia, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan
pertahanan siber NATO dan mempromosikan kerja sama internasional dalam
menghadapi ancaman siber.
Dr. Mulyadi, Dosen SPPB Universitas Indonesia3
(2) Strategi non-kinetik: “Meta Perang” melibatkan penggunaan strategi non-kinetik
seperti propaganda, agitasi, infiltrasi, sabotase, dan disinformasi untuk tujuan
penaklukan. ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) dikenal menggunakan
propaganda media sosial untuk mempengaruhi opini publik dan merekrut
anggota baru. Mereka memanfaatkan platform seperti Twitter, Facebook, dan
Instagram untuk menyebarkan gambar dan video, hashtag dan trending topic,
akun palsu dan bot yang berisi pesan-pesan radikal dan mempromosikan
kekuatan dan aksi-aksi mereka untuk tujuan rekrutmen anggota baru,
mempengaruhi opini publik, dan untuk menciptakan polarisasi dan meningkatkan
ketegangan antara kelompok-kelompok yang berbeda.
(3) Pengaruh opini publik: “Meta Perang” melibatkan penggunaan media sosial dan
propaganda untuk mempengaruhi opini publik untuk mencapai tujuan
penaklukan. Penggunaan media sosial dan propaganda dapat mempengaruhi
opini publik dengan beberapa cara, seperti penyebaran iInformasi cepat; tokoh
atau figur publik dan influencer menyuarakan pandangan pro-kontra; algoritma
media sosial memperkuat perpecahan dengan menyajikan konten yang
mendukung pandangan tertentu; dan menyajikan informasi yang manipulatif.
(4) Kerusakan infrastruktur kritis: “Meta Perang” melibatkan penggunaan teknologi
untuk menghancurkan infrastruktur kritis seperti sistem keuangan, listrik, dan air
untuk tujuan penaklukan. Pada serangan militer 12 hari Iran ke Israel di bulan
Agustus 2025, misalnya, yang menngunakan rudal dan drone ke infrastruktur
kritis Israel (fasilitas nuklir, pembangkit listrik, dan sistem pertahanan udara)
telah menyebabkan kerusakan pada pembangkit listrik di Israel, memutus aliran
listrik di beberapa wilayah, serta kerusakan infrastruktur sipil, termasuk gedung
gedung, jalan, dan fasilitas umum.
Penggunaan teknologi canggih untuk mempengaruhi opini publik, mengganggu
sistem keuangan, dan menghancurkan infrastruktur kritis menunjukkan bagaimana
meta perang memiliki kekuatan yang tak terduga. Serangan terhadap Venezuela dan
menangkapan Presiden Nicolas Maduro dapat menjadi titik balik dalam sejarah
perang, menandai dimulainya era “Meta Perang” yang lebih kompleks dan
menantang. Bagaimana negara-negara akan merespons tantangan ini akan
menentukan masa depan perang dan perdamaian di dunia.
Perkembangan teknologi yang pesat telah memicu evolusi perang ke berbagai
tingkatan, dari perang tradisional, modern, postmodern, hingga transperang dan meta
perang. Konsep-konsep seperti teoteknologi (teologi), metoteknologi (metodologi),
dan teknomitologi (mitologi) telah menjadi kerangka kerja untuk memahami
kompleksitas perang di era kontemporer.
Teoteknologi, misalnya, dapat merujuk pada penggunaan teknologi untuk
mempengaruhi keyakinan dan nilai-nilai agama, seperti penggunaan media sosial
untuk menyebarkan propaganda agama atau mempengaruhi opini publik tentang
isu-isu agama.
Metoteknologi, di sisi lain, dapat merujuk pada penggunaan teknologi untuk
mempengaruhi metodologi dan strategi perang, seperti: (1) penggunaan drone dan
sistem pertahanan udara untuk mengubah taktik perang berupa serangan udara tanpa
risiko kehilangan nyawa pilot, atau penggunaan sistem pertahanan udara untuk
Dr. Mulyadi, Dosen SPPB Universitas Indonesia4
melindungi wilayah dari serangan rudal; (2) penggunaan sistem pengawasan udara
untuk memantau pergerakan pesawat musuh.
Metoteknologi juga dapat merujuk pada penggunaan teknologi untuk meningkatkan
kemampuan perang siber, seperti penggunaan malware dan serangan DDoS untuk
mengganggu sistem komputer musuh. Metoteknologi juga dapat merujuk pada
penggunaan teknologi untuk meningkatkan kemampuan intelijen dan pengawasan,
seperti penggunaan satelit dan sensor untuk memantau pergerakan musuh. Juga dapat
merujuk pada penggunaan teknologi untuk meningkatkan kemampuan komunikasi
dan koordinasi antara pasukan, seperti penggunaan jaringan komunikasi satelit dan
sistem komando dan kontrol.
Sedangkan mitoteknologi dapat merujuk pada penggunaan mitologi untuk
mempengaruhi perang, seperti penggunaan penggunaan simbol-simbol dan narasi
mitologis untuk memotivasi “kebangkitan” atau “kemenangan” pasukan atau
mempengaruhi opini publik, seperti penggunaan mitologi tentang “El Libertador”
(Simón Bolívar) di Venezuela untuk memotivasi pasukan dan mempengaruhi opini
publik tentang perjuangan kemerdekaan.
Dalam konteks ini, metoteknologi dapat membantu meningkatkan efektivitas dan
efisiensi perang, serta mengurangi risiko kerugian dan kerusakan. Namun,
metoteknologi juga dapat meningkatkan risiko eskalasi konflik dan meningkatkan
kemungkinan penggunaan kekerasan.
Jebolnya Langit Venezuela
Operasi militer Amerika Serikat melalui sandi operasi perang “Operation Absolute
Resolve” yang didukung oleh intelijen dan teknologi canggih, termasuk penggunaan
drone dan sistem pertahanan udara tidak membutuhkan waktu lama untuk menjebol
langit Venezuela. Ini adalah contoh kasus operasi “Meta Perang” paling vulgar yang
melibatkan penggunaan kekuatan militer konvensional, teknologi canggih, dan
strategi non-kinetik untuk tujuan politik, ekonomi, dan sosial.
Operasi militer kilat yang dilakukan oleh AS terhadap Presiden Venezuela, Nicolás
Maduro, pada tanggal 3 Januari 2026, telah menyoroti kelemahan militer Venezuela
dalam menghadapi ancaman eksternal. Militer Venezuela yang didukung oleh
bantuan senjata modern dari sekutunya yang diharapkan dapat menjadi kekuatan
pertahanan yang kuat di kawasan Amerika Latin tampak tak berdaya menghadapi
operasi militer kilat AS.
Beberapa faktor lain yang mungkin menyebabkan kelemahan ini, antara lain:
(1) Kurangnya kapasitas intelijen Venezuela untuk mendeteksi dan menghadapi
ancaman eksternalnya.
(2) Ketergantungan militer Venezuela pada senjata modern, yang berbalik menjadi
menjadi kelemahan yang mungkin disebabkan oleh suku cadang dan perawatan,
keterbatasan interoperabilitas, keterbatasan pelatihan dan pengalaman,
vulnerabilitas terhadap serangan siber, dukungan logistik yang kompleks,
keterbatasan kemampuan anti-akses/area denial (A2/AD) dibanding militer
Amerika yang memiliki kemampuan A2/AD yang lebih maju.
(3) Kurangnya Latihan dan Pengalaman: Militer Venezuela tidak memiliki latihan
dan pengalaman yang memadai untuk menghadapi operasi militer kilat Meta
″Perang″.
Dr. Mulyadi, Dosen SPPB Universitas Indonesia5
(4) Presiden Nicolás Maduro yang dituduh melakukan penindasan politik dan
korupsi, serta memiliki hubungan dengan kelompok kriminal dan terorisme
(konspirasi narkoterorisme, impor kokain, dan kepemilikan senjata ilegal)
sebagai bagian dari strategi non-kinetik telah mempermudah alasan AS untuk
melakukan operasi militer kilat “Meta Perang”.
Namun konsekuensi dan implikasi dari “jebolnya langit Venezuela” adalah
Venezuela tidak membuat kehilangan simpati. Sebaliknya, Venezuela justru menjadi
fokus perhatian internasional sejak AS memberlakukan sanksi ekonomi hingga motif
untuk menggantikan Maduro dengan pemerintahan yang lebih pro-Amerika.
Konsekuensi dan Implikasi
Operasi menjebol langit Venezuela merupakan sebuah contoh telanjang operasi
militer kilat “Meta Perang” yang bertujuan untuk mencapai tujuan politik, ekonomi
dan sosial. Operasi ini melanggar prinsip-prinsip hukum internasional dan
menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan internasional. Oleh karena itu, perlu
dilakukan analisis lebih lanjut tentang implikasi operasi ini terhadap hubungan
internasional dan hukum internasional.
Kelemahan militer Venezuela memiliki implikasi yang signifikan terhadap
keamanan regional. Pertama, operasi militer kilat yang dilakukan oleh Amerika
Serikat dapat menjadi preseden bagi negara-negara lain untuk melakukan intervensi
militer di kawasan. Kedua, kelemahan militer Venezuela dapat membuat negara
negara tetangga merasa tidak aman dan meningkatkan risiko konflik regional.
Kelemahan militer Venezuela dalam menghadapi operasi militer kilat AS menyoroti
pentingnya memiliki kapasitas pertahanan yang kuat dan mandiri. Militer Venezuela
perlu melakukan reformasi dan modernisasi untuk meningkatkan kemampuan
pertahanan negara dan kontra-strategi non-kinetiknya dalam menghadapi ancaman
eksternal. Selain itu, negara-negara regional perlu bekerja sama untuk meningkatkan
keamanan dan stabilitas di kawasan.
Reaksi internasional terhadap serangan Amerika Serikat di Venezuela beragam. Iran
mengecam serangan AS sebagai “pelanggaran nyata terhadap kedaulatan nasional
dan integritas teritorial Venezuela”. Rusia menuduh AS melakukan “tindakan agresi
bersenjata terhadap Venezuela”. Korea Utara mengecam penangkapan Maduro
sebagai “perampasan kedaulatan yang serius”. Cuba mengecam serangan AS sebagai
“serangan kriminal”. Belanda memantau situasi di Venezuela dan menjalin
komunikasi dengan perwakilan diplomatiknya. Spanyol menyerukan langkah
langkah deeskalasi dan menghormati hukum internasional. Sekretaris Jenderal PBB
António Guterres memperingatkan bahwa penangkapan Maduro dapat menciptakan
preseden berbahaya bagi tatanan dunia. Uni Eropa segera menyerukan dialog dan
solusi damai untuk Venezuela, serta menghormati kedaulatan dan integritas teritorial
negara tersebut.
Beberapa dampak global serangan Amerika Serikat ke Venezuela antara lain:
(1) Gangguan pasokan minyak global: Venezuela adalah salah satu produsen minyak
terbesar di dunia, dan penangkapan Maduro menimbulkan kekhawatiran tentang
kemungkinan gangguan pasokan minyak. Hal ini dapat berdampak pada ekonomi
negara-negara non-produsen minyak.
Dr. Mulyadi, Dosen SPPB Universitas Indonesia6
(2) Kritik atas Imperialisme Amerika: Amerika Serikat menghadapi kritik atas
tindakannya, dengan beberapa negara menganggapnya sebagai contoh
imperialisme Amerika. Penangkapan Maduro dianggap sebagai campur tangan
AS dalam urusan internal Venezuela, dan beberapa negara menganggapnya
sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara. Hal ini dapat memperburuk
hubungan AS dengan negara-negara lain, terutama di Amerika Latin.
(3) Ketegangan Regional: Beberapa negara di kawasan Amerika Latin telah
mengecam tindakan Amerika Serikat, dan ada kemungkinan bahwa mereka akan
meningkatkan kerja sama mereka dengan negara-negara lain untuk melawan
pengaruh Amerika Serikat.
(4) Dampak pada Pasar Keuangan: Serangan Amerika Serikat ke Venezuela dapat
menyebabkan volatilitas pada harga saham dan obligasi, serta meningkatkan
biaya pinjaman untuk negara-negara yang dianggap berisiko.
(5) Kekhawatiran tentang Kedaulatan Negara: Penangkapan Presiden Nicolas
Maduro dapat menyebabkan negara-negara lain untuk meningkatkan keamanan
mereka dan mengambil langkah-langkah untuk melindungi kedaulatan mereka.
Dalam jangka panjang, serangan Amerika Serikat ke Venezuela dapat memiliki
dampak yang signifikan pada geopolitik global, terutama di Amerika Latin. Hal ini
dapat menyebabkan perubahan dalam hubungan antara negara-negara di kawasan ini,
serta meningkatkan ketegangan antara Amerika Serikat dan negara-negara lain.
Menutup artikel ini beberapa pelajaran penting dari operasi militer kilat “Meta
Perang” AS, yaitu evolusi perang di era kontemporer memerlukan pemahaman yang
lebih mendalam tentang kompleksitas teknologi, politik, ekonomi, dan sosial yang
terlibat. Serangan terhadap Venezuela dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain
tentang bagaimana ″Meta Perang″ dapat digunakan sebagai strategi untuk mencapai
tujuan politik, ekonomi, dan sosial.
Konsepsi arah perkembangan teknologi, seperti teoteknologi (teknologi ke arah
teologi), metoteknologi (teknologi ke arah metodologi), dan teknomitologi
(teknologi ke arah mitologi) telah menjadi kerangka kerja untuk memahami
kompleksitas “Meta Perang” di era kontemporer. Konsep-konsep ini menjadi relevan
dalam memahami kompleksitas serangan militer AS di Venezuela. Penggunaan
teknologi canggih untuk mempengaruhi opini publik, mengganggu sistem keuangan,
dan menghancurkan infrastruktur kritis menunjukkan bagaimana ″Meta Perang″
telah berkembang ke tingkat yang lebih abstrak dan kompleks.
Dalam era digital, implementasi konsep ″Meta Perang″ menjadi semakin relevan
dalam memahami kompleksitas perang. Serangan terhadap Venezuela menunjukkan
bagaimana teknologi canggih dan strategi non-kinetik dalam dapat digunakan untuk
mencapai tujuan politik, ekonomi, sosial tanpa perlu perang konvensional berlarut.
Negara-negara bekembang tampaknya harus lebih waspada dan siap menghadapi
tantangan ″Meta Perang″ yang semakin kompleks. Mereka harus mengembangkan
strategi yang lebih efektif untuk menghadapi ancaman gabungan teknologi canggih
dan strategi non-kinetik dalam ″Meta Perang″ untuk melindungi kepentingan
nasional mereka. Selain itu, komunitas internasional harus bekerja sama untuk
mencegah kampanye ″Meta Perang″ dan mempromosikan perdamaian dan stabilitas
global.
Dr. Mulyadi, Dosen SPPB Universitas Indonesia

