Meta War : Jebolnya Langit Venezuela

January 11, 2026

″META WAR″:

JEBOLNYA LANGIT VENEZUELA

Oleh:

Dr. Mulyadi (Opu Andi Tadampali)

Dosen Ilmu Politik

Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia

(SPPB UI)

Perang telah berkembang dari waktu ke waktu, dari perang tradisional hingga

“meta perang” (meta war). Perkembangan teknologi yang sangat pesat dan strategi

non-kinetik (propaganda, agitasi, sabotase, disinformasi, boikot, dan serangan siber)

telah memicu evolusi perang ke berbagai tingkatan melampaui perang modern,

berupa perang postmodern, transperang hingga “meta perang” (meta war).

Konsep-konsep yang berkaitan dengan arah tujuan perkembangan teknologi modern,

seperti teoteknologi (teknologi ke arah teologi), metoteknologi (teknologi ke arah

metodologi), dan teknomitologi (teknologi ke arah mitologi) juga telah menjadi

kerangka kerja baru untuk memahami kompleksitas “Meta Perang” di era

kontemporer.

Artikel ini membahas konsep “meta perang” (meta war) dengan contoh kasus

serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela pada 3 Januari 2026. Kami

menunjukkan bagaimana ″Meta Perang″ telah berkembang ke tingkat yang lebih

abstrak dan kompleks melalui implementasi konsepsi teoteknologi, metoteknologi,

dan teknomitologi. Penggunaan teknologi canggih dan strategi non-kinetik dalam

″Meta Perang″ untukmerusak dan mengganggu sistem senjata, sistem pertahanan

obyek vital, dan menghancurkan infrastruktur kritis, serta untuk mempengaruhi opini

publik memiliki tujuan politik, ekonomi, dan sosial.

″Meta War″

Kegagalan diplomasi dan hubungan internasional telah mengantarkan dunia

ke dalam berbagai medan perang mematikan. Dari perang tradisional, perang

modern, perang post-modern hingga ″Meta Perang″ dengan berbgai ciri, karakter

hingga konsekuensi dan implikasinya masing-masing.

Dimulai dari perang tradisional, dimana dua atau lebih negara terlibat dalam konflik

politik menggunakan kekuatan militer konvensional untuk mencapai tujuan politik

berupa menguasai wilayah, seperti Perang Dunia I dan II.

Disusul perang modern, dimana dua atau lebih negara terlibat dalam konflik politik

menggunakan kekuatan militer dengan teknologi canggih dan senjata modern untuk

mencapai tujuan politik berupa menghancurkan kekuatan lawan, seperti Perang

Teluk.

Lalu perang post-modern, dimana dua atau lebih negara terlibat dalam konflik

politik menggunakan kekuatan taktik asimetris, seperti terorisme, sabotase, dan

propaganda untuk mempengaruhi opini publik dalam mencapai tujuan politiknya.

Dr. Mulyadi, Dosen SPPB Universitas Indonesia2

Kemudian, “Meta Perang”, dimana dua atau lebih negara atau kelompok negara dan

non-negara terlibat dalam konflik politik menggunakan kekuatan militer canggih,

teknologi informasi, dan siber, serta strategi non-kinetik untuk menghancurkan

infrastruktur kritis dan mempengaruhi opini publik dalam mencapai tujuan

politiknya, seperti konflik Ukraina-Rusia, Iran-Israel, dan AS- Venezuela

Dari segi kecenderungan tujuan, perang tradisional dan modern bertujuan untuk

menguasai wilayah atau menghancurkan kekuatan lawan, sedangkan perang post

modern dan “Meta Perang” bertujuan untuk mempengaruhi opini publik dalam

mencapai tujuan politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Taktik perang tradisional dan

modern menggunakan kekuatan militer konvensional, sedangkan perang post modern

dan “Meta Perang” menggunakan taktik asimetris dan teknologi informasi. Lokasi

perang tradisional dan modern terjadi di lapangan perang, sedangkan perang post

modern dan “Meta Perang” dapat terjadi di mana saja, termasuk di ruang siber.

“Meta Perang” adalah konsep perang yang melibatkan penggunaan teknologi

canggih dan strategi non-kinetik untuk mengganggu atau menghancurkan

infrastruktur kritis, serta melibatkan perubahan fundamental dalam struktur sosial,

politik, dan ekonomi. Konsep ini melibatkan penggunaan teknologi informasi,

komunikasi, dan siber untuk mempengaruhi opini publik, mengganggu sistem

keuangan, dan menghancurkan infrastruktur kritis.

“Meta Perang” juga melibatkan penggunaan strategi psikologis, propaganda, agitasi,

dan disinformasi untuk mempengaruhi pikiran dan perilaku lawan, serta sikap

mayarakat melalui implementasi konsep pengembangan teknologi, seperti

teoteknologi (teologi), metoteknologi (metodologi), dan teknomitologi (mitologi).

Tujuan dari Meta War adalah untuk mencapai tujuan politik, ekonomi dan sosial

tanpa harus menghabiskan banyak waktu untuk melakukan perang penaklukan.

“Meta Perang” dapat dikenali lewat gabungan keempat ciri berikut, yaitu:

(1) Penggunaan teknologi canggih: “Meta Perang” melibatkan penggunaan teknologi

canggih seperti internet, siber, dan kecerdasan buatan untuk tujuan penaklukan.

Serangan siber terhadap Estonia pada 2007 adalah salah satu contoh serangan

siber yang paling terkenal dan berdampak besar. Website-website pemerintah,

bank, dan media Estonia diserang oleh gelombang DDoS (Distributed Denial

of Service). Serangan ini diduga terkait dengan ketegangan antara Estonia dan

Rusia, setelah pemerintah Estonia memindahkan patung Soviet “Monumen

Pembebasan Tallinn” dari pusat kota Tallinn ke sebuah pemakaman militer

di pinggiran kota. Rusia menganggap tindakan ini sebagai penghinaan terhadap

sejarah Soviet dan memicu kerusuhan di Tallinn.

Serangan siber ini berlangsung selama beberapa minggu dan menyebabkan

gangguan besar pada infrastruktur Estonia, termasuk shutdown situs web

pemerintah dan bank. Meskipun tidak ada bukti langsung yang menghubungkan

serangan ini dengan pemerintah Rusia, banyak yang percaya bahwa Rusia terlibat

dalam serangan ini.

Serangan ini menjadi titik balik dalam kesadaran keamanan siber global dan

memicu pembentukan NATO Cooperative Cyber Defence Centre of Excellence

(CCDCOE) di Tallinn, Estonia, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan

pertahanan siber NATO dan mempromosikan kerja sama internasional dalam

menghadapi ancaman siber.

Dr. Mulyadi, Dosen SPPB Universitas Indonesia3

(2) Strategi non-kinetik: “Meta Perang” melibatkan penggunaan strategi non-kinetik

seperti propaganda, agitasi, infiltrasi, sabotase, dan disinformasi untuk tujuan

penaklukan. ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) dikenal menggunakan

propaganda media sosial untuk mempengaruhi opini publik dan merekrut

anggota baru. Mereka memanfaatkan platform seperti Twitter, Facebook, dan

Instagram untuk menyebarkan gambar dan video, hashtag dan trending topic,

akun palsu dan bot yang berisi pesan-pesan radikal dan mempromosikan

kekuatan dan aksi-aksi mereka untuk tujuan rekrutmen anggota baru,

mempengaruhi opini publik, dan untuk menciptakan polarisasi dan meningkatkan

ketegangan antara kelompok-kelompok yang berbeda.

(3) Pengaruh opini publik: “Meta Perang” melibatkan penggunaan media sosial dan

propaganda untuk mempengaruhi opini publik untuk mencapai tujuan

penaklukan. Penggunaan media sosial dan propaganda dapat mempengaruhi

opini publik dengan beberapa cara, seperti penyebaran iInformasi cepat; tokoh

atau figur publik dan influencer menyuarakan pandangan pro-kontra; algoritma

media sosial memperkuat perpecahan dengan menyajikan konten yang

mendukung pandangan tertentu; dan menyajikan informasi yang manipulatif.

(4) Kerusakan infrastruktur kritis: “Meta Perang” melibatkan penggunaan teknologi

untuk menghancurkan infrastruktur kritis seperti sistem keuangan, listrik, dan air

untuk tujuan penaklukan. Pada serangan militer 12 hari Iran ke Israel di bulan

Agustus 2025, misalnya, yang menngunakan rudal dan drone ke infrastruktur

kritis Israel (fasilitas nuklir, pembangkit listrik, dan sistem pertahanan udara)

telah menyebabkan kerusakan pada pembangkit listrik di Israel, memutus aliran

listrik di beberapa wilayah, serta kerusakan infrastruktur sipil, termasuk gedung

gedung, jalan, dan fasilitas umum.

Penggunaan teknologi canggih untuk mempengaruhi opini publik, mengganggu

sistem keuangan, dan menghancurkan infrastruktur kritis menunjukkan bagaimana

meta perang memiliki kekuatan yang tak terduga. Serangan terhadap Venezuela dan

menangkapan Presiden Nicolas Maduro dapat menjadi titik balik dalam sejarah

perang, menandai dimulainya era “Meta Perang” yang lebih kompleks dan

menantang. Bagaimana negara-negara akan merespons tantangan ini akan

menentukan masa depan perang dan perdamaian di dunia.

Perkembangan teknologi yang pesat telah memicu evolusi perang ke berbagai

tingkatan, dari perang tradisional, modern, postmodern, hingga transperang dan meta

perang. Konsep-konsep seperti teoteknologi (teologi), metoteknologi (metodologi),

dan teknomitologi (mitologi) telah menjadi kerangka kerja untuk memahami

kompleksitas perang di era kontemporer.

Teoteknologi, misalnya, dapat merujuk pada penggunaan teknologi untuk

mempengaruhi keyakinan dan nilai-nilai agama, seperti penggunaan media sosial

untuk menyebarkan propaganda agama atau mempengaruhi opini publik tentang

isu-isu agama.

Metoteknologi, di sisi lain, dapat merujuk pada penggunaan teknologi untuk

mempengaruhi metodologi dan strategi perang, seperti: (1) penggunaan drone dan

sistem pertahanan udara untuk mengubah taktik perang berupa serangan udara tanpa

risiko kehilangan nyawa pilot, atau penggunaan sistem pertahanan udara untuk

Dr. Mulyadi, Dosen SPPB Universitas Indonesia4

melindungi wilayah dari serangan rudal; (2) penggunaan sistem pengawasan udara

untuk memantau pergerakan pesawat musuh.

Metoteknologi juga dapat merujuk pada penggunaan teknologi untuk meningkatkan

kemampuan perang siber, seperti penggunaan malware dan serangan DDoS untuk

mengganggu sistem komputer musuh. Metoteknologi juga dapat merujuk pada

penggunaan teknologi untuk meningkatkan kemampuan intelijen dan pengawasan,

seperti penggunaan satelit dan sensor untuk memantau pergerakan musuh. Juga dapat

merujuk pada penggunaan teknologi untuk meningkatkan kemampuan komunikasi

dan koordinasi antara pasukan, seperti penggunaan jaringan komunikasi satelit dan

sistem komando dan kontrol.

Sedangkan mitoteknologi dapat merujuk pada penggunaan mitologi untuk

mempengaruhi perang, seperti penggunaan penggunaan simbol-simbol dan narasi

mitologis untuk memotivasi “kebangkitan” atau “kemenangan” pasukan atau

mempengaruhi opini publik, seperti penggunaan mitologi tentang “El Libertador”

(Simón Bolívar) di Venezuela untuk memotivasi pasukan dan mempengaruhi opini

publik tentang perjuangan kemerdekaan.

Dalam konteks ini, metoteknologi dapat membantu meningkatkan efektivitas dan

efisiensi perang, serta mengurangi risiko kerugian dan kerusakan. Namun,

metoteknologi juga dapat meningkatkan risiko eskalasi konflik dan meningkatkan

kemungkinan penggunaan kekerasan.

Jebolnya Langit Venezuela

Operasi militer Amerika Serikat melalui sandi operasi perang “Operation Absolute

Resolve” yang didukung oleh intelijen dan teknologi canggih, termasuk penggunaan

drone dan sistem pertahanan udara tidak membutuhkan waktu lama untuk menjebol

langit Venezuela. Ini adalah contoh kasus operasi “Meta Perang” paling vulgar yang

melibatkan penggunaan kekuatan militer konvensional, teknologi canggih, dan

strategi non-kinetik untuk tujuan politik, ekonomi, dan sosial.

Operasi militer kilat yang dilakukan oleh AS terhadap Presiden Venezuela, Nicolás

Maduro, pada tanggal 3 Januari 2026, telah menyoroti kelemahan militer Venezuela

dalam menghadapi ancaman eksternal. Militer Venezuela yang didukung oleh

bantuan senjata modern dari sekutunya yang diharapkan dapat menjadi kekuatan

pertahanan yang kuat di kawasan Amerika Latin tampak tak berdaya menghadapi

operasi militer kilat AS.

Beberapa faktor lain yang mungkin menyebabkan kelemahan ini, antara lain:

(1) Kurangnya kapasitas intelijen Venezuela untuk mendeteksi dan menghadapi

ancaman eksternalnya.

(2) Ketergantungan militer Venezuela pada senjata modern, yang berbalik menjadi

menjadi kelemahan yang mungkin disebabkan oleh suku cadang dan perawatan,

keterbatasan interoperabilitas, keterbatasan pelatihan dan pengalaman,

vulnerabilitas terhadap serangan siber, dukungan logistik yang kompleks,

keterbatasan kemampuan anti-akses/area denial (A2/AD) dibanding militer

Amerika yang memiliki kemampuan A2/AD yang lebih maju.

(3) Kurangnya Latihan dan Pengalaman: Militer Venezuela tidak memiliki latihan

dan pengalaman yang memadai untuk menghadapi operasi militer kilat Meta

″Perang″.

Dr. Mulyadi, Dosen SPPB Universitas Indonesia5

(4) Presiden Nicolás Maduro yang dituduh melakukan penindasan politik dan

korupsi, serta memiliki hubungan dengan kelompok kriminal dan terorisme

(konspirasi narkoterorisme, impor kokain, dan kepemilikan senjata ilegal)

sebagai bagian dari strategi non-kinetik telah mempermudah alasan AS untuk

melakukan operasi militer kilat “Meta Perang”.

Namun konsekuensi dan implikasi dari “jebolnya langit Venezuela” adalah

Venezuela tidak membuat kehilangan simpati. Sebaliknya, Venezuela justru menjadi

fokus perhatian internasional sejak AS memberlakukan sanksi ekonomi hingga motif

untuk menggantikan Maduro dengan pemerintahan yang lebih pro-Amerika.

Konsekuensi dan Implikasi

Operasi menjebol langit Venezuela merupakan sebuah contoh telanjang operasi

militer kilat “Meta Perang” yang bertujuan untuk mencapai tujuan politik, ekonomi

dan sosial. Operasi ini melanggar prinsip-prinsip hukum internasional dan

menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan internasional. Oleh karena itu, perlu

dilakukan analisis lebih lanjut tentang implikasi operasi ini terhadap hubungan

internasional dan hukum internasional.

Kelemahan militer Venezuela memiliki implikasi yang signifikan terhadap

keamanan regional. Pertama, operasi militer kilat yang dilakukan oleh Amerika

Serikat dapat menjadi preseden bagi negara-negara lain untuk melakukan intervensi

militer di kawasan. Kedua, kelemahan militer Venezuela dapat membuat negara

negara tetangga merasa tidak aman dan meningkatkan risiko konflik regional.

Kelemahan militer Venezuela dalam menghadapi operasi militer kilat AS menyoroti

pentingnya memiliki kapasitas pertahanan yang kuat dan mandiri. Militer Venezuela

perlu melakukan reformasi dan modernisasi untuk meningkatkan kemampuan

pertahanan negara dan kontra-strategi non-kinetiknya dalam menghadapi ancaman

eksternal. Selain itu, negara-negara regional perlu bekerja sama untuk meningkatkan

keamanan dan stabilitas di kawasan.

Reaksi internasional terhadap serangan Amerika Serikat di Venezuela beragam. Iran

mengecam serangan AS sebagai “pelanggaran nyata terhadap kedaulatan nasional

dan integritas teritorial Venezuela”. Rusia menuduh AS melakukan “tindakan agresi

bersenjata terhadap Venezuela”. Korea Utara mengecam penangkapan Maduro

sebagai “perampasan kedaulatan yang serius”. Cuba mengecam serangan AS sebagai

“serangan kriminal”. Belanda memantau situasi di Venezuela dan menjalin

komunikasi dengan perwakilan diplomatiknya. Spanyol menyerukan langkah

langkah deeskalasi dan menghormati hukum internasional. Sekretaris Jenderal PBB

António Guterres memperingatkan bahwa penangkapan Maduro dapat menciptakan

preseden berbahaya bagi tatanan dunia. Uni Eropa segera menyerukan dialog dan

solusi damai untuk Venezuela, serta menghormati kedaulatan dan integritas teritorial

negara tersebut.

Beberapa dampak global serangan Amerika Serikat ke Venezuela antara lain:

(1) Gangguan pasokan minyak global: Venezuela adalah salah satu produsen minyak

terbesar di dunia, dan penangkapan Maduro menimbulkan kekhawatiran tentang

kemungkinan gangguan pasokan minyak. Hal ini dapat berdampak pada ekonomi

negara-negara non-produsen minyak.

Dr. Mulyadi, Dosen SPPB Universitas Indonesia6

(2) Kritik atas Imperialisme Amerika: Amerika Serikat menghadapi kritik atas

tindakannya, dengan beberapa negara menganggapnya sebagai contoh

imperialisme Amerika. Penangkapan Maduro dianggap sebagai campur tangan

AS dalam urusan internal Venezuela, dan beberapa negara menganggapnya

sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara. Hal ini dapat memperburuk

hubungan AS dengan negara-negara lain, terutama di Amerika Latin.

(3) Ketegangan Regional: Beberapa negara di kawasan Amerika Latin telah

mengecam tindakan Amerika Serikat, dan ada kemungkinan bahwa mereka akan

meningkatkan kerja sama mereka dengan negara-negara lain untuk melawan

pengaruh Amerika Serikat.

(4) Dampak pada Pasar Keuangan: Serangan Amerika Serikat ke Venezuela dapat

menyebabkan volatilitas pada harga saham dan obligasi, serta meningkatkan

biaya pinjaman untuk negara-negara yang dianggap berisiko.

(5) Kekhawatiran tentang Kedaulatan Negara: Penangkapan Presiden Nicolas

Maduro dapat menyebabkan negara-negara lain untuk meningkatkan keamanan

mereka dan mengambil langkah-langkah untuk melindungi kedaulatan mereka.

Dalam jangka panjang, serangan Amerika Serikat ke Venezuela dapat memiliki

dampak yang signifikan pada geopolitik global, terutama di Amerika Latin. Hal ini

dapat menyebabkan perubahan dalam hubungan antara negara-negara di kawasan ini,

serta meningkatkan ketegangan antara Amerika Serikat dan negara-negara lain.

Menutup artikel ini beberapa pelajaran penting dari operasi militer kilat “Meta

Perang” AS, yaitu evolusi perang di era kontemporer memerlukan pemahaman yang

lebih mendalam tentang kompleksitas teknologi, politik, ekonomi, dan sosial yang

terlibat. Serangan terhadap Venezuela dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain

tentang bagaimana ″Meta Perang″ dapat digunakan sebagai strategi untuk mencapai

tujuan politik, ekonomi, dan sosial.

Konsepsi arah perkembangan teknologi, seperti teoteknologi (teknologi ke arah

teologi), metoteknologi (teknologi ke arah metodologi), dan teknomitologi

(teknologi ke arah mitologi) telah menjadi kerangka kerja untuk memahami

kompleksitas “Meta Perang” di era kontemporer. Konsep-konsep ini menjadi relevan

dalam memahami kompleksitas serangan militer AS di Venezuela. Penggunaan

teknologi canggih untuk mempengaruhi opini publik, mengganggu sistem keuangan,

dan menghancurkan infrastruktur kritis menunjukkan bagaimana ″Meta Perang″

telah berkembang ke tingkat yang lebih abstrak dan kompleks.

Dalam era digital, implementasi konsep ″Meta Perang″ menjadi semakin relevan

dalam memahami kompleksitas perang. Serangan terhadap Venezuela menunjukkan

bagaimana teknologi canggih dan strategi non-kinetik dalam dapat digunakan untuk

mencapai tujuan politik, ekonomi, sosial tanpa perlu perang konvensional berlarut.

Negara-negara bekembang tampaknya harus lebih waspada dan siap menghadapi

tantangan ″Meta Perang″ yang semakin kompleks. Mereka harus mengembangkan

strategi yang lebih efektif untuk menghadapi ancaman gabungan teknologi canggih

dan strategi non-kinetik dalam ″Meta Perang″ untuk melindungi kepentingan

nasional mereka. Selain itu, komunitas internasional harus bekerja sama untuk

mencegah kampanye ″Meta Perang″ dan mempromosikan perdamaian dan stabilitas

global.

Dr. Mulyadi, Dosen SPPB Universitas Indonesia