Mental Budak dan Tragedi Kemanusiaan, Mengapa Kita Masih Menjadi Penonton?
Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa sebuah bangsa yang besar bisa kalah oleh rasa takutnya sendiri? Ribuan tahun lalu, sebuah fragmen sejarah terekam dalam kitab suci tentang Bani Israil yang enggan memasuki tanah yang dijanjikan. Alih-alih melangkah maju, mereka justru menciptakan “teori kemustahilan” untuk menutupi mental pengecut mereka.
Dalam catatan sejarah, ketika diperintahkan memasuki sebuah negeri, Bani Israil justru berkata kepada Nabi Musa: “Di sana ada kaum yang perkasa (Jabbarin). Kami tidak akan masuk sampai mereka keluar.”
Ini adalah logika yang absurd. Bagaimana mungkin seseorang ingin memiliki sebuah rumah, tapi baru mau masuk setelah penghuni lamanya pergi dengan sukarela? Ini bukan strategi perang, ini adalah mentalitas budak.
Orang yang pengecut cenderung melahirkan teori-teori mustahil. Dari 12 pemimpin mereka, hanya 2 yang berani, sementara 10 lainnya sibuk menebar ketakutan.
Akibatnya fatal. Mereka dikutuk “dikunci oleh alam”, tersesat di padang pasir selama 40 tahun.
Mengapa 40 tahun? Para ulama tafsir menyebutkan bahwa itu adalah waktu yang dibutuhkan untuk memutus mata rantai generasi bermental budak agar digantikan oleh generasi baru yang bermental merdeka.
80 Tahun yang Lebih Perih
Jika Bani Israil dihukum 40 tahun karena enggan berperang, lantas bagaimana dengan kita? Baitul Maqdis telah lepas dari tangan umat selama hampir 80 tahun. Kita bahkan lebih parah dari mereka yang berkata, “Pergilah engkau wahai Musa bersama Tuhanmu, berperanglah kalian berdua, kami duduk manis di sini saja.”
Hari ini, saudara-saudara kita di Gaza bertaruh nyawa. Sementara itu, sebagian dari kita lebih histeris kehilangan kucing peliharaan daripada melihat ribuan nyawa melayang. Kita bisa makan enak dan tidur nyenyak di atas tumpukan berita duka. Kita sedang mengalami kelumpuhan empati yang akut.
Belajar dari Bangsa Circassia
Pada tahun 1817, bangsa Circassia dibantai. Selama 100 tahun setelahnya, mereka melarang anak cucu mereka memakan ikan. Alasannya menyayat hati, mereka khawatir ikan-ikan di laut telah memakan jasad saudara mereka yang tenggelam saat melarikan diri. Itulah cara mereka merawat ingatan.
Melupakan para syuhada adalah cara membunuh mereka untuk kedua kalinya. Pertama mereka dibunuh oleh peluru musuh, kedua mereka dibunuh oleh kelalaian kita yang melupakan perjuangan mereka.
Topeng “Board of Peace” dan Skandal Moral
Dunia Barat sering bicara tentang Hak Asasi Manusia dan demokrasi. Namun, di mana HAM itu saat bom-bom menghancurkan seluruh garis keturunan keluarga di Gaza dalam semalam?
Demokrasi mereka hanyalah “berhala” yang disembah saat menguntungkan, dan dihancurkan saat suara rakyat memihak pada kebenaran. Kini, mereka memunculkan istilah baru: Board of Peace (Papan Perdamaian). Namun, jika kita menelisik siapa di balik layar, kita akan menemukan fakta yang memuakkan. Dokumen Epstein Files telah membongkar borok para “arsitek perdamaian” ini.
Bagaimana mungkin tokoh-tokoh yang namanya terseret dalam daftar hitam predator seksual, seperti inisial mantan Presiden AS (BC), mantan PM Zionis Ehud Barak, hingga bangsawan Inggris, kini duduk manis mendikte masa depan Gaza?
Bagaimana mungkin “serigala” dipercaya menjaga “domba”? Ini bukan papan perdamaian, ini adalah papan penguburan kedaulatan.
Mereka ingin menghentikan perlawanan, bukan menghentikan perang. Jangan tertipu oleh dasi dan senyum diplomatik di hotel mewah Washington atau Jenewa. Para syahid tidak gugur agar tanah mereka dijual oleh para predator moral. Mereka gugur agar martabat kemanusiaan dan kalimat Tuhan tegak berdiri.
Jika kita terus memilih menjadi penonton, waktu akan memaksa kita mengingat dengan cara yang pahit. Jangan biarkan nurani kita mati dilarutkan dalam asam kepentingan politik. Bangunlah, karena sejarah tidak pernah ramah kepada mereka yang membiarkan saudaranya disembelih dalam kesendirian.*

