Menjernihkan Jalan Menuju Indonesia Emas 2045
Oleh: Dr. Drs. Abbas Thaha BEE , MM.
(Sekretaris Majelis Syura Partai Masyumi)
Indonesia tengah menghadapi dinamika politik, ekonomi, dan sosial yang kompleks. Hati ini gundah gulana melihat perkembangan terkini di NKRI. Banyak masalah yang tidak beres dilakukan oleh para aparat dan pimpinan negara, baik di legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Kondisi ini menuntut refleksi serius agar bangsa tidak kehilangan arah menuju cita-cita besar Indonesia Emas 2045.
Dalam konteks ini, saya menghimbau kepada tiga kelompok penting: akademisi, profesional, dan politisi. Mereka adalah putra-putra terbaik NKRI, dengan ilmu agama yang dalam, pendidikan tinggi, dan juga merupakan guru besar. Bahasa mereka bagus, tulisan mereka bagus, dan mereka adalah tokoh besar. Saat ini mereka eksis dalam sistem pemerintahan dan selalu hadir dalam setiap pemerintahan. Namun, pertanyaan mendasar muncul: apakah mereka sudah berbuat baik dalam pendekatan dan perkembangan kehidupan bangsa?
Filosofi kehidupan menuntut agar yang benar disampaikan sebagai benar, dan yang salah disampaikan sebagai salah, dengan cara penuh empati. Khususnya dewasa ini, akibat dari 10 tahun rezim Jokowi, dengan keterlibatan Luhut Binsar Panjaitan dan Mendagri Tito Karnavian yang eksis sekarang, telah terjadi kerusakan peradaban dalam berbagai sisi kehidupan sosial, ekonomi, dan kemasyarakatan.
Momentum menuju 2045 harus dimanfaatkan dengan bijak. Bonus demografi yang akan datang adalah peluang besar, tetapi hanya akan menjadi berkah jika hukum dan keadilan ditegakkan dengan cara yang elegan. Masyarakat tidak boleh terusik, pelaku harus merasa didudukkan dalam proses hukum yang benar.
Saat ini regulator, implementor, dan subjek hukum sudah tidak beres. Banyak perkara dijatuhi putusan luar biasa, namun masih ada yang bebas berkeliaran. Jenderal Sunarko pernah mengatakan aparatur sudah bobrok, dan itu adalah kesalahan kita bersama. Maka mari kita perbaiki.
Para pakar hukum, mantan Waka Polri, juga para kiai telah menyampaikan kondisi yang ada dewasa ini. Nahdlatul Ulama pun sedang berbenah diri dengan Roβis al-Am yang menyatakan permintaan agar ketua umum mundur dalam tiga hari.
Partai Masyumi yang telah eksis dan kembali bangkit, kiranya dapat memberi warna perpolitikan, sebagaimana dahulu melahirkan NKRI dengan emosi integral oleh Allahyarham Muhammad Natsir sebagai tokoh dunia.
Kita juga berharap kepada Pak Prabowo yang telah melakukan pembangunan ekonomi sejak kakeknya Margono membangun koperasi, dan Sumitro yang ikut melakukan koreksi terhadap pemerintahan Soekarno pada masa pergolakan PRRI bersama ayah saya. Banyak tokoh sosialis maupun Masyumi ikut dalam pergolakan itu untuk melakukan koreksi terhadap pemerintahan Soekarno.
Kini saatnya kita menyerukan kepada tiga pendekar bangsa: tegakkanlah, luruskanlah. Katakanlah benar itu benar, yang salah itu salah. Kepada mereka yang pernah salah tetapi juga melakukan perbaikan, mari kita akui. Beberapa tokoh telah menjadi pahlawan walaupun ada cacat dalam perjalanan hidupnya sebagai intelektual dan ulama. Karena tak ada gading yang tak retak. Yang tidak retak hanyalah satu, yaitu Muhammad Rasulullah SAW.
Sekali lagi, mari kita menjernihkan jalan menuju Indonesia berkah atau Indonesia emas pada tahun 2045. Mulai dari sekarang, sehingga bonus demografi menjadi positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kembalikanlah Pasal 33 pada tempatnya, sehingga sumber daya alam dan manusia diperuntukkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan bangsa Indonesia. Para pakar mengatakan, setiap kepala akan mendapat Rp 10 juta, walaupun jumlah kita 270 juta jiwa.
Kepada Roy Suryo, janganlah berkompromi dengan ketidakadilan. Katakanlah kebenaran. Maju terus, pantang mundur.

