MENGENANG PROKLAMASI KEDUA, 3 APRIL 1950
Abdullah Hehamahua
Soekarno dan Hatta proklamasikan kemerdekaan Indonesia dari penjajah asing pada tanggal 17 Agustus 1945.
Namun, M. Natsir, Ketua fraksi Masyumi di parlemen, 3 April 1950, proklamasikan Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebab, dalam pidatonya yang penomenal, “Mosi Integral”, Natsir mengusulkan status Indonesia dari Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi NKRI.
Soekarno dalam pidato kenegeraan 17 Agustua 1950, mengumumkan berlakunya NKRI menggantikan RIS.
Rosihan Anwar, wartawan senior waktu itu menanyakan Soekarno, siapa Perdana Menteri pertama NKRI, apakah Natsir. ?
“Siapa lagi kalau bukan Natsir,” jawab Soekaro, singkat.
“Mengapa Abah menolak masuk kabinet Hatta, ?” tanyaku sebelum rapat Forum Nasi Bungkus dimulai.
M. Natsir Pimpin Forum Nasi Bungkus
Forum Nasi Bungkus adalah media “meetting of mind” di antara generasi awal Masyumi dengan generasi pelanjut.
Forum yang berdiri pada tahun 1980 ini terdiri dari tiga generasi Masyumi. Generasi awal terdiri dari: M. Natsir, Syafruddin Perwiranegara, Moh. Roem, Burhanuddin Harahap, Ali Akbar, Yunan Nasution, dan Anwar Harjono.
Geberasi kedua terdiri dari: Rajab Ranggasoli (mantan Sekjen PB HMI), Nursal (mantan Ketum PB HMI), Ibrahim Madilao (mantan Sekjen PB HMI), Moh. Suleman (anggota DPRI), dan AM Luthfi (arsitek masjid Salman, ITB).
Generasi ketiga: Endang Jauhari (mewakili GPII), Husen Umar (mewakili PII), dan Abdullah Hehamahua (mewakili HMI).
Wadah ini diberi nama Forum Nasi Bungkus karena peserta akan mengonsumsi nasi bungkus sebelum rapat dimulai setiap ba’da Jum’at. Kegiatan ini berlangsung setiap ba’da Jum’at di kantor Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) sejak tahun 1980 – 1984.
Forum yang dipimpin M. Natsir ini punya tiga fungsi yakni:
(1) Transfer nilai perjuangan serta pengalaman mengelola partai, masyarakat, bangsa, dan negara.
(2) Memantau, mengawal, mengoreksi dan mengusulkan jalan keluar bagi pemerintah, setiap terjadi penyimpangan konstitusi serta pembangunan pendidikan, politik, dan ekonomi nasional yang tidak memihak rakyat kecil.
(3) Mengawal serta melaksanakan progran khusus DDII di sektor pelatihan da’i, khusus bagi generasi muda.
M. Natsir Menolak Masuk Kabinet
“Mengapa Abah menolak masuk kabinet Hatta, ?” tanyaku sebagai Sekretaris Forum ke pak Natsir sebelum rapat Forum Nasi Bungkus dimulai.
Pak Natsir (mungkin menganggapku sebagai anaknya karena baru 32 thn) menjelaskan tiga alasan pokok, mengapa beliau menolak masuk kabinet Hatta:
(1) Indonesia adalah negara berdaulat berdasarkan proklamasi 17 Agustus 1945. Olehnya, mengapa harus ada Uni Indonesia – Belanda yang dipimpin Ratu Welhelmina.?
(2) Kabinet Hatta adalah pemerintah dalam negara federasi RIS sedangkan Masyumi tidak setuju bentuk negara federasi.
(3) Hasil Komperensi Meja Bundar (KMB) Denhaag, Belanda, tidak menyertakan Irian Barat sebagai satu kesatuan wilayah Indonesia. Padahal, Irian Barat adalah salah satu wilayah dari Kesultanan Ternate dan Tidore. Hal ini
dibuktikan dengan ibu kota Irian Barat adalah Soasiu yang berada di pulau Halmahera, Maluku Utara.
Mosi Integral M. Natsir
Abah Natsir, berdasarkan tiga alasan di atas, menghubungi pimpinan negara-negara bagian seluruh Indonesia dan fraksi- fraksi di parlemen. Beliau mengajak mereka untuk mau bersatu dalam NKRI.
M. Natsir, sesudah itu. pada tanggal 3 April 1950 melalui pidatonya berjudul “Mosi Integral” dalam sidang pleno parlemen, mengajukan gagasan NKRI, menggantikan RIS. Parlemen menyetujui gagasan M. Natsir yang kemudian disahkan Presiden Soekarno.
Konsekwensinya, Soekarno melantik M. Natsir sebagai PM NKRI yang pertama.
Simpulannya, pada usia 76 tahun NKRI ini, Pemerintah dan DPR perlu menetapkan, 3 April sebagai hari NKRI. Konsekwensi logisnya, jika Soekarno dan Hatta adalah proklamator kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, maka wajar jika M. Natsir ditetapkan sebagai Bapak NKRI. Semoga !!! (Depok, 3 April 2026).

