Mengapa Partai Masyumi Pecah Dan Mengapa Tokoh Islam Sulit Bersatu

March 18, 2026

MENGAPA PARTAI MASYUMI PECAH DAN MENGAPA TOKOH ISLAM SULIT BERSATU?

(Diolah MHT dari beberapa sumber).

Perpecahan di tubuh Partai Masyumi sebenarnya tidak terjadi karena satu sebab saja, tetapi kombinasi faktor : ideologi, kepentingan organisasi, representasi kekuasaan, dan budaya politik di kalangan elite Islam pada masa awal republik.

Dua peristiwa penting adalah keluarnya Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) pada 1947 dan Nahdlatul Ulama (NU) pada 1952.

Partai Masyumi didirikan tahun 1945 sebagai federasi organisasi Islam, bukan partai tunggal yang homogen.
Anggotanya antara lain
Nahdlatul Ulama,Muhammadiyah
Partai Syarikat Islam Indonesia,
berbagai organisasi Islam lainnya.

Tokoh utamanya nya
Mohammad Natsir,
Sjafruddin Prawiranegara,
Prawoto Mangkusasmito,
Wahid Hasyim.
Karena bentuknya koalisi organisasi, potensi konflik sudah ada sejak awal.

Penyebab utama perpecahan
1. Konflik kepemimpinan dan dominasi kelompok modernis.
Di dalam Masyumi muncul persepsi bahwa kepemimpinan didominasi kelompok modernis (Muhammadiyah dan tokoh intelektual),
Mohammad Natsir,
Sjafruddin Prawiranegara.

Sementara kelompok tradisional (NU) merasa perannya kurang dihargai.
Akibatnya muncul ketegangan:
modernis lebih rasional,organisasional sementara
tradisional berbasis ulama dan pesantren.
Ini adalah perbedaan kultur politik Islam.

2. Konflik jabatan Menteri Agama (penyebab langsung keluarnya NU)
Pada masa kabinet awal republik
posisi Menteri Agama dianggap representasi ulama tradisional.

Ketika kabinet dibentuk oleh Mohammad Natsir (1950), NU merasa posisi Menteri Agama tidak lagi dijamin bagi tokoh NU.

Akhirnya tahun 1952 NU keluar dari Masyumi dan membentuk partai sendiri.
Setelah itu Nahdlatul Ulama menjadi partai politik yang  kuat pada Pemilu 1955.

3. Perbedaan strategi politik.
Ada perbedaan pendekatan tentang bagaimana memperjuangkan Islam dalam negara.
Kelompok Masyumi modernis
lebih fleksibel,
siap kompromi dalam sistem demokrasi parlementer.

Sebagian tokoh lain ingin
peran Islam lebih formal dalam negara.
Perbedaan ini sering menimbulkan ketegangan dlm soal  strategi.

4. Konflik internal lama dalam gerakan Islam
Sebelum Masyumi berdiri pun sudah ada rivalitas.
Misalnya konflik dalam sejarah Sarekat Islam,
rivalitas antar organisasi Islam sejak masa kolonial.
Akibatnya Masyumi tidak pernah benar-benar menjadi organisasi yang solid.

5. Partai Syarikat Islam Indonesia keluar lebih dulu ( 1947)karena
merasa identitas SI hilang dalam Masyumi,
konflik kepemimpinan,
perbedaan garis politik.
PSII ingin tetap mempertahankan tradisi Sarekat Islam sebagai partai sendiri.

Dampak perpecahan (sangat besar).
Dalam Pemilihan Umum Indonesia 1955 suara Islam terpecah:

Masyumi
±20%,NU±18%,PSII±3%
Jika bersatu, suara Islam bisa lebih dari 40% dan kemungkinan besar menjadi kekuatan politik dominan.

Mengapa tokoh dan umat Islam sering sulit bersatu?
Ada beberapa faktor struktural:
1. Basis sosial berbeda ada yg tergolong
modernis (kelas menengah, kota, pendidikan modern) sementara ada yg basis sosial
tradisional (pesantren, desa, ulama) yg telah disinggung diatas. Diduga soal ini sdh menurun.

2. Kepemimpinan karismatik.
Gerakan Islam sering dipimpin tokoh kuat yg dalam sikapnya sulit berkompromi.

3. Setiap organisasi sudah punya jaringan,kader,identitas
Sehingga enggan melebur total.

4. Elite politik Islam sering memiliki ambisi sendiri,basis pengikut,
perbedaan strategi.

Menurut sejarawan politik Deliar Noer, ada tiga karakter gerakan politik Islam Indonesia:
1. Kuat secara moral dan intelektual.
Tokoh Islam banyak yang berkualitas tinggi.
Contoh tokoh Masyumi
Mohammad Natsir,
Sjafruddin Prawiranegara,
Mereka dikenal sangat intelektual dan bersih.

2. Lemah dalam konsolidasi kekuasaan
Gerakan Islam sering terlalu idealis,kurang pragmatis
kurang solid dalam organisasi.

3. Mudah pecah karena konflik elite.
Ketika terjadi konflik kecil, sering tidak ada mekanisme kompromi.

KESIMPULAN.
Perpecahan Partai Masyumi terutama disebabkan oleh
konflik kepemimpinan modernis vs tradisional,
perebutan representasi kekuasaan (terutama Menteri Agama),
perbedaan strategi politik,
rivalitas organisasi Islam yang sudah lama ada.
Akibatnya umat Islam terfragmentasi secara politik meskipun secara demografis mayoritas.

Banyak ilmuwan menyimpulkan
Umat Islam di Indonesia kuat sebagai kekuatan sosial, tetapi lemah sebagai kekuatan politik yang terintegrasi.
Karena perbedaan tradisi keagamaan,
ego organisasi,
persaingan elite.

Beberapa peneliti menyebut adanya “politik moralistik” dalam gerakan Islam.
Ciri-cirinya sangat menekankan prinsip,mudah kecewa,
cepat menarik diri jika tidak sepakat.
Akibatnya konflik cepat berubah menjadi perpecahan.
Disamping itu adanya politik
adu domba yg dilakukan
sejak zaman kolonial Belanda,
yg dilakukanTokoh orientalis Christiaan Snouck Hurgronje dg strategi
membiarkan Islam sebagai agama, tetapi membatasi Islam sebagai kekuatan politik.

Paradoks Fiskal Indonesia

*Paradoks Fiskal Indonesia* Oleh: Anthony Budiawan — Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies)