Mengapa Masyumi Membubarkan Diri: Pilihan Politik Bermartabat di Tengah Tekanan Kekuasaan
Dalam sejarah politik Indonesia, pembubaran Partai Masyumi sering disalahpahami sebagai hasil semata dari tindakan represif negara. Padahal, jika ditelusuri lebih jernih, Masyumi justru mengambil langkah strategis dan bermartabat: membubarkan diri sebelum dijadikan partai terlarang.
Keputusan ini bukan tanpa alasan, bukan pula karena kekalahan politik. Sebaliknya, ia lahir dari kesadaran hukum, kehati-hatian moral, dan tekanan politik yang sangat kuat pada masa itu.
Tekanan Politik di Balik Keputusan Besar
Pada akhir era Demokrasi Parlementer, Masyumi berada pada posisi politik yang sebenarnya kuat. Dalam Pemilu 1955, Masyumi memenangkan 10 dari 15 daerah pemilihan, sebuah capaian besar yang menunjukkan dukungan luas umat Islam dan rakyat Indonesia.
Namun, kekuatan elektoral ini justru berubah menjadi beban politik. Di tengah menguatnya Demokrasi Terpimpin dan naiknya pengaruh PKI, Masyumi dipandang sebagai penghalang serius bagi arah politik yang diinginkan Presiden Soekarno dan sekutu-sekutu ideologisnya.
Tekanan demi tekanan pun menguat—baik secara politik, hukum, maupun opini publik—dalam iklim yang semakin tidak ramah terhadap oposisi.
Ide Muhammad Roem: Menjaga Kehormatan dan Aset Umat
Di tengah situasi genting itu, muncul gagasan strategis dari Mohammad Roem, salah satu tokoh utama Masyumi. Gagasannya sederhana namun menentukan:
> Jika Masyumi dibubarkan oleh negara, ia akan dicap sebagai partai terlarang, dan seluruh asetnya akan diambil alih oleh negara.
Konsekuensi ini bukan sekadar administratif. Status “partai terlarang” akan menodai sejarah Masyumi, merusak kehormatan politik umat Islam, dan memutus kesinambungan perjuangan para kadernya.
Karena itu, pilihan paling bermartabat adalah membubarkan diri secara mandiri—sebelum keputusan negara berlaku.
Masyumi Bukan Partai Terlarang
Fakta penting yang kerap diabaikan adalah ini: *Masyumi tidak pernah berstatus sebagai partai terlarang. Memang benar Presiden Soekarno telah mengeluarkan surat pembubaran Masyumi. Namun secara faktual dan administratif, *sebelum surat itu efektif berlaku, Masyumi telah lebih dahulu membubarkan diri.
Langkah ini membuat Masyumi berbeda dari partai-partai lain yang dibubarkan secara paksa. Ia tidak dibubarkan melalui proses kriminalisasi organisasi, melainkan melalui keputusan internal yang sadar dan terukur.
Dengan demikian, Masyumi menjaga:
* Kehormatan organisasi
* Hak dan aset umat
* Martabat perjuangan politik Islam
Mengapa Situasi Ini Menguntungkan PKI?
Pembubaran Masyumi—meski dilakukan secara bermartabat—secara objektif menguntungkan PKI. Tanpa kehadiran Masyumi sebagai kekuatan politik Islam yang rasional dan demokratis, ruang politik semakin terbuka bagi ideologi kiri yang saat itu mendapat dukungan kuat dari kekuasaan.
PKI menjadi pihak yang paling diuntungkan dari melemahnya oposisi Islam dan nasionalis-demokrat. Tekanan terhadap Masyumi, dengan demikian, bukan hanya persoalan konflik internal negara, tetapi juga bagian dari pertarungan ideologi besar di Indonesia.
Pilihan Sulit dalam Politik yang Tidak Sehat
Keputusan Masyumi membubarkan diri bukan tanda kekalahan, melainkan pilihan etis dalam sistem politik yang sudah tidak sehat. Ketika hukum digunakan sebagai alat tekanan, dan demokrasi kehilangan keseimbangannya, bertahan dengan cara apa pun justru bisa merusak nilai perjuangan itu sendiri.
Masyumi memilih keluar dari gelanggang kekuasaan dengan kepala tegak—tanpa menjadi partai terlarang, tanpa menggadaikan prinsip, dan tanpa menyeret umat ke dalam konflik yang lebih luas.
Penutup: Pelajaran Sejarah yang Relevan Hari Ini
Kisah pembubaran Masyumi mengajarkan bahwa politik tidak selalu soal bertahan di kekuasaan, tetapi tentang menjaga nilai, kehormatan, dan masa depan perjuangan. Di tengah tekanan politik yang berat, Masyumi memilih jalan sunyi yang bermartabat.
Di era sekarang, ketika politik sering diwarnai pragmatisme dan transaksi, sejarah Masyumi mengingatkan kita bahwa kadang mundur satu langkah adalah cara terbaik untuk menjaga integritas dan amanah jangka panjang.
Sejarah ini bukan untuk diratapi, melainkan untuk direnungkan—agar demokrasi Indonesia tidak kembali mengulangi kesalahan yang sama.
Jika Anda mencari politik yang berintegritas dan berbasis nilai, saatnya mengenal lebih dalam Partai Masyumi. Pelajari sejarahnya, nilai perjuangannya, dan ikut berkontribusi dalam membangun demokrasi Indonesia yang bermartabat.
Jika kita menginginkan masa depan politik yang lebih beretika dan menenangkanya, sudah saatnya menempatkan nilai dan nurani di pusat pilihan kita .
Mari gunakan hak pilih secara sadar, reflektif, dan berbasis nilai, demi memperkuat demokrasi berintegritas yang benar-benar melayani publik.
gagasan besar, cita-cita luhur, dan visi keadilan tidak akan berdaya tanpa kekuatan politik yang terorganisir.
Dan kekuatan politik tidak lahir dari wacana, melainkan dari jumlah massa yang nyata.
Partai MASYUMI hadir membawa asas, cita, dan visi Islami yang menjunjung:
keadilan bersama, kemakmuran bersama, cinta tanah air, serta kebangkitan seluruh rakyat Indonesia—tanpa membedakan agama dan suku.
Pertanyaannya sederhana, tapi menentukan masa depan:
👉 Apakah Anda masih ingin sekadar setuju…
atau sudah siap ikut menghitungkan diri dalam perjuangan?
Di tahun tahun kedepan, politik adalah perang jumlah.
Yang tidak terdaftar, tidak dihitung.
Yang tidak bergabung, hanya jadi penonton sejarah.
Yuk, ambil posisi. Masuk MASYUMI.
📌 Cara bergabung:
Daftar langsung melalui aplikasi: simasy.id
Atau kirim foto KTP + nomor HP (diri sendiri & teman yang ingin bergabung) ke:
Ibu Irma Amalia – 087700016999
Khusus Jawa Tengah:
Bp. Bambang Suhartono – 082134435559
Alternatif pendaftaran: simasy.id
Ini bukan soal partai semata.
Ini soal siapa yang menentukan arah bangsa.
Kalau bukan sekarang, kapan?
Kalau bukan kita, siapa?
MASYUMI — dari keyakinan menjadi kekuatan.
masbams
Purworejo, Jan 2026

