partaimasyumi.id-Kemarin pagi saya bertemu Moni di safe house. Ia bagian dari shadow team Yuan di New York—orang Indonesia yang saya rekrut pada 2012. Sejak bekerja di New York, ia membawa ibunya yang janda tinggal bersama, sehingga hampir 12 tahun ia tak pernah kembali ke tanah air. Moni memang ahli geopolitik dengan ketajaman analisis yang jarang dimiliki orang seusianya. Kali ini saya memanggilnya ke Jakarta untuk memperkuat Yuan Green Energy Taskforce.
“Kangen Indonesia tidak?” tanya saya sambil tersenyum begitu ia duduk di sofa.
Ia tertawa kecil, namun tatapannya menunjukkan sesuatu yang dalam, seperti seseorang yang lama meninggalkan rumah, tetapi tak pernah betul-betul pergi.
Setelah briefing, saya langsung masuk ke hal yang ingin saya tanyakan.
“Mengapa bandara privat termasuk titik risiko tertinggi untuk penyelundupan?” tanya saya.
“Karena minim pengawasan institusional,” jawab Moni cepat. “Bandara privat, apalagi yang berada di kawasan industri, sering tidak diawaki penuh oleh Bea Cukai, tidak memiliki pos militer permanen, tidak punya manifest penerbangan yang bersifat publik, dan tidak tunduk pada standar ICAO unloading control sebagaimana bandara komersial.”
Saya mengernyit. “Kenapa bisa begitu?”
“Karena fungsi asli bandara privat adalah menciptakan blind spot dalam rantai logistik,” jelasnya tenang. “Kargo kecil bernilai tinggi dapat disamarkan sebagai sealed pouch. Tidak akan ada yang curiga.”
Ia melanjutkan, “Di Amerika Latin, kawasan industri dipakai kartel narkoba untuk mengirim kargo ilegal. Di Afrika, airstrip khusus tambang emas dan berlian menjadi jalur pengiriman ke Dubai. Karena akses keluar-masuk dikendalikan oleh operator kawasan, bukan negara. Itu membuka pintu kolusi internal antara pengelola bandara, perusahaan, dan vendor logistik.”
Ia berhenti sejenak. “Penutupan bandara privat biasanya selalu melibatkan militer. Konspirasinya kompleks. Lihat Meksiko. Lihat Myanmar.”
Saya mengangguk pelan. “Bagaimana dengan Indonesia?”
Moni menatap saya lekat-lekat. “Rare earth, B. Itulah komoditas yang paling menggiurkan sekarang.”
Saya meninggikan alis. “Rare earth?”
“Laterit Indonesia itu bukan hanya mengandung nikel,” jelasnya. “Di dalamnya ada scandium, yttrium, lanthanum, neodymium—deretan logam tanah jarang yang menjadi tulang punggung industri baterai, chip, jet tempur, satelit, hingga AI server.”
Ia mencondongkan tubuh. “Sisa pembakaran tungku rotary kiln smelter bisa menjadi konsentrat REE. Nilainya… bisa jutaan dolar. Satu kilogram scandium oxide saja mencapai sekitar USD 5.000.”
Saya terdiam sejenak. “Dan semua itu bisa keluar lewat bandara privat?”
“Dengan sangat mudah,” jawabnya. “Bentuknya bubuk. Bisa disamarkan sebagai sampel geologi atau laboratory reagent.”
“Kenapa memakai pesawat kecil?” tanya saya.
“Karena volumenya kecil, nilai ekonominya tinggi. Dua puluh kilogram saja sudah ratusan ribu dolar. Pesawat seperti Pilatus PC-12 atau Gulfstream dapat mengangkut ratusan kilogram tanpa ada yang mengetahui. Manifest tidak dipublikasikan. Penerbangan langsung menuju Singapura, Hong Kong, Guangzhou.”
Ia menatap saya tajam. “Dan yang paling penting: tidak perlu kontainer, tidak butuh izin ekspor mineral. Hanya satu tas hitam. Selesai.”
Saya menarik napas panjang. “Sebegitu mudahnya?”
Moni mengangguk. “Ini bukan teori, B. Di Kongo, cobalt keluar melalui private airstrip. Di Myanmar, rare earth disalurkan ke China lewat air cargo. Di Mongolia, runway privat dipakai mengirim REE ke Tianjin. Di Papua New Guinea, emas diterbangkan dengan charter jet. Afrika? Banyak airstrip tambang emas dan berlian dipakai untuk mengangkut kargo ke Dubai.”
Ia menatap saya lama, suaranya tenang namun mengandung peringatan.
“Dalam konteks geopolitik critical minerals, ini bukan sekadar penyelundupan. Ini ancaman terhadap ekonomi dan keamanan nasional.”
Saya terdiam. Kata-katanya seperti menyingkap sesuatu yang selama ini tak diucapkan keras-keras—bahwa perebutan mineral kritis bukan hanya soal industri, tetapi soal masa depan sebuah negara.
“ Mon, saya mau ke PIM, temanin saya. “ kata saya. Dia tersenyum. Usianya sudah 35 belum juga menikah. Dari jalan Thamrin dia minta supir Yuan untuk tunggu dan dia sendiri yang setir antar saya ke PIM. Masalahnya dia pakai rok Mini dan kaus oblong dibalut blazer. Mana tubuhnya putih banget. Bayangin aja. Orang Manado etnis china.
——
Lanjutan cerita dari safehouse. Mobil melaju perlahan menuju PIM. Moni yang menyetir—tangannya stabil di kemudi, matanya sesekali memeriksa spion—berbicara tanpa pernah kehilangan fokus. Suasana di dalam kabin terasa seperti ruang kuliah malam hari, ketika kebenaran paling pahit diucapkan tanpa tedeng aling-aling.
“Apakah negara berkembang itu benar-benar tidak paham bagaimana mengelola peradaban?” tanya saya.
Moni tersenyum kecil, pahit. “Bukan tidak paham, Pak. They are well educated but not enough smart.”
Saya menoleh. “Apa maksudmu ‘not enough smart’?”
Sambil tetap menatap jalan, Moni menjawab, “Karena mereka selalu memilih too good to be true solution. Jalan pintas. Fast track. Kekuasaan elektoral itu tidak dibangun di atas akal sehat, tapi di atas propaganda dan ilusi. Yang penting terlihat bekerja, bukan benar-benar membangun.”
Mobil melewati lampu merah yang baru berubah hijau. Moni melanjutkan, suaranya lebih rendah namun tajam:
“Dan, Pak… kalau mau tahu seberapa rusaknya sebuah negara, lihat pasar PSK-nya. Indikator paling jujur. Tidak bisa disensor.”
Saya menaikkan alis.
“Di Brazil, Argentina, tarif PSK hanya USD 20 sekali kencan. Venezuela cuma USD 10. Sementara elitnya makan malam USD 500 tanpa rasa bersalah.”
Saya terkejut. “Semurah itu?”
Moni mengangguk, matanya tetap pada jalan. “Itu fakta real tentang betapa jahatnya sistem yang membuat harga manusia sangat murah. Ketika tubuh lebih murah dari steak newzealand, itu bukan masalah moral individu. Itu masalah struktur. Orang dipaksa survival di bawah garis kemanusiaannya sendiri.”
Mobil melaju ke arah Blok M. Jalanan mulai padat. Lalu Moni menambahkan sesuatu yang lebih keras, suaranya bergetar menahan muak:
“Dan lebih parah lagi, Pak… penguasa bukannya menambah sektor produksi. Mereka malah menggiring rakyat jadi buruh migran.”
Ia menatap saya sekilas. “ Engga malu mereka, Pak. Mengorganize pengangguran supaya kerja di luar negeri lalu bangga menyebut remitansi sebagai penyelamat ekonomi. Itu moral terendah elit: memonetisasi keputusasaan rakyatnya. Padahal selalu saat kampanye mereka menjanjikan ketersediaan lapangan keria jutaan. Udah begitu tabiat politisi . Engga ada malu berbohong “
Saya terdiam. Kalimat itu menghantam dada saya seperti hantaman gelombang asin: pahit, tapi benar. Moni kembali bicara, matanya tetap fokus pada jalan.
“ Pak… sepintar apa pun orang, kalau dia sudah tabrak batas spiritual, dia berubah jadi monster. Dan monster itu bukan monster pribadi—monster institusi, monster negara. Makanya negara kaya SDA seperti Venezuela tetap dianggap sampah oleh pasar. Bukan karena minyaknya kurang. Tapi karena yang mengelola negara itu bukan lagi manusia—tapi monster. Liat aja index korupsi mereka. Itu fakta yang punya relevansi nya “
Ia menghela napas panjang.
“Suku bunga surat utang tinggi bukan karena ekonomi lemah, Pak. Tapi karena moral pemerintahnya rendah. Pasar melihat itu. Investor melihat itu. Dunia melihat itu.”
Mobil mulai memasuki kawasan PIM. Lampu-lampu mal menyala seperti perhiasan palsu: berkilau, tapi menutupi kebusukan.
*
Renungan
Percakapan dengan Moni meninggalkan ruang kosong di kepala saya—ruang yang penuh gema.
Saya tiba-tiba memahami sesuatu. Bangsa runtuh bukan karena kekurangan lapangan kerja, tapi karena pemimpinnya tidak mau menciptakannya. Karena lebih mudah mengirim rakyat ke luar negeri daripada membangun industri dalam negeri.
Karena lebih mudah meminjam uang daripada membangun kapasitas produksi.
Karena lebih mudah menciptakan ilusi daripada memupuk martabat.
Dan benar kata Moni—harga manusia menunjukkan harga peradaban.
Jika tubuh manusia seharga USD 10, sementara makan malam elite USD 500, maka garis pemisah antara manusia dan komoditas telah hilang.
Peradaban runtuh bukan oleh kemiskinan.
Peradaban runtuh oleh elit yang merasa tidak punya kewajiban moral atas rakyatnya. Di depan PIM, mobil berhenti. Lampu-lampu kota tetap menyala, tapi dalam hati saya ada sesuatu yang padam.
EJB

