ISLAM ITU INDAH (15)
Abdullah Hehamahua
Islam itu indah. !!! Sebab, sekalipun orang miskin lebih dulu masuk surga, tetapi orang kaya tetap punya kesempatan sama untuk masuk surga. Allah SWT berfirman:
“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebahagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebahagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS Al Hadid: 7).
Rasulullah SAW pun bersabda: “Orang kaya yang masuk surga adalah mereka yang mendapatkan harta dari jalan halal, memiliki ilmu agama, dan bertaqwa dalam menggunakannya (HR Tirmidzi).
Amr bin Al Ash berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang kepadaku, beliau memerintahkan, “Ambillah pakaianmu dan senjatamu, lalu menghadaplah kepadaku!” Aku pun mendatangi beliau ketika beliau sedang berwudhu’. Beliau melihat-lihat kepadaku, kemudian bersabda, “Aku akan mengutusmu memimpin satu pasukan, semoga Allâh akan menyelamatkanmu dan memberimu harta rampasan perang. Aku berharap engkau menyukai harta dengan kesukaan yang baik”. ‘Amr bin al-Ash mengatakan, “Wahai Rasûlullâh, aku tidak masuk Islam karena harta. Tetapi aku masuk Islam karena mencintai Islam dan agar aku bersama Rasûlullâh.“ Maka beliau bersabda, “Hai Amr, sebaik-baik harta yang baik Adalah untuk orang yang shalih”.
Abdurrahman bin Auf, Konglomerat yang Ingin Jadi Orang Miskin
Abdurrahman bin Auf adalah konglomerat penomenal dari para sahabat di Madinah. Namun, beliau pernah dengar Rasulullah SAW mengatakan, bahwa dirinya akan masuk surga paling akhir. Sebab, proses penghisaban hartanya yang lama.
Abdullah bin Auf tidak mau masuk surga yang terakhir. Beliau ingin masuk surga pada tahap awal bersama para sahabat lain. Konsekwensi logisnya, Abdurrahman bin Auf ingin menjadi orang miskin agar masuk surga secara cepat. Konsekwensi logis lanjutannya, Abdurrahman bin Auf menginfakkan separuh kekayaannya. Bahkan, beliau pada lain waktu pernah pula menginfakkan 40.000 dinar (setara Rp. 509,760,000,000) ke masyarakat yang memerlukan.
Perang Tabuk termasuk salah satu pertempuran besar dalam sejarah Islam. Konsekwensi logisnya, seluruh lelaki penduduk Madinah pergi ke medan perang. Konsekwensi logis lanjutannya, tidak ada yang mengurus pohon kurma. Dampak negatifnya, semua kurma di Madinah, busuk sehingga tidak laku dijual.
Abdurrahman bin Auf pun berpikir, inilah kesempatan untuk menjadi miskin. Beliau pun membeli semua kurma busuk milik penduduk Madinah tersebut dengan harga normal.
Kadarullah, di negeri Yaman, merebak penyakit menular. Para tabib di negeri tersebut menyarankan raja bahwa, hanya kurma busuk yang bisa menyembuhkan penyakit menular tersebut.
Utusan raja Yaman mendatangi penduduk Madinah untuk mencari kurma busuk. Mereka bersedia membeli dengan sepuluh kali lipat dari harga kurma biasa. Para sahabat pun menyuruh mereka menghubungi Abdurrahman bin Auf yang menyimpan kurma busuk.
Maasyaa Allaah, indahnya Islam. Sebab, Abdurrahman bin Auf yang ingin jadi orang miskin, kembali menjadi konglomerat karena menolong penduduk Madinah dengan membeli kurma mereka yang busuk.
Simpulannya, berzakat, berinfak, dan bersedekah, tidak mengurangi harta seseorang. Justru, hartanya bertambah beberapa kali lipat. Olehnya, marilah kita berislam secara indah dengan gemar berzakat, berinfak, dan bersedekah. (Depok 12 Februai 2026).

