INDONESIAMU, INDONESIAKU, INDONESIA KITA (10)
Abdullah Hehamahua
Pembaca yang budiman !!! Artikel ini, terhenti sampai seri ke-9 tahun lalu. Sebab, satu dan hal lain hal, termasuk saya harus istirahat di rumah sakit selama sebulan, baru sekarang kulanjutkan lagi penulisannya.
Artikel seri 9 mengkomumikasikan serba serbi tentang industri kelapa sawit Indonesia. Inti dari seri tersebut, Indonesia, penghasil kelapa sawit nomor satu dunia. Namun, hilirisasi turunan kelapa sawit Indonesia, jauh kalah dari Malaysia. Bahkan, tragisnya, emak-emak pernah antri beli minyak goreng.
Dampak negatif dari perkebunan kelapa sawit, terjadi kebakaran lahan terbesar di dunia (1997 – 1998).
Seri ini, dikomunikasikan industri karet sebagai salah satu perkebunan rakyat, khususnya di Sumatera dan Kalimantan.
Karet Menurut Anda
Anda memandang karet dengan mata sebelah. Sebab, ia kalah dari kelapa sawit sebagai penghasil devisa. Padahal, mayoritas (88,6%) perkebunan karet, milik rakyat.
Perkembangan kebun karet khusus sewaktu kepemimpinan Jokowi selama 10 tahun, luas areal menurun setiap tahun, rata-rta 1,81%. Hal yang sama berlaku terhadap produksinya, dengan laju penurunan 3,89% per tahun. Apakah hal ini disebabkan mayoritas perkebunan karet milik rakyat (88,6%) sedangkan kepunyaan negara hanya 5,2% dan 6,3% dikuasai swasta. ? aTanyakan ke rumput yang bergoyang.
Anda sangat abai terhadap perkebunan rakyat. Sebab, pada tahun 2024, Ditjenbun menyebutkan, luas areal karet nasional turun 0,11% dari tahun 2023, sekalipun produksi karet meningkat 0,95%.
Karet Menurut Saya
Saya lebih suka perkebunan karet dikembangkan secara nasional, minimal setara kelapa sawit. Ada beberapa alasan:
1. Pohon karet tidak banyak menyerap air seperti kelapa sawit. Dampak positifnya, api cepat padam jika terjadi kebakaran lahan karena ada cadangan air di bawah pohon karet.
2. Lebah trigona dapat dibudidayakan di perkebunan karet. Sebab, lebah ini membantu proses penyerbukan pohon karet. Apalagi madu lebah trigona sangat mahal, sejuta rupiah seliter. Propolisnya (sarang) seharga enam ratus ribu rupiah sekilogram. Ini karena madu lebah trigona lebih tinggi khasiatnya dibanding madu jenis lain, baik sebagai obat maupun asupan nutrisi.
3. Manfaat dalam industri dan kehidupan sehari-hari seperti: komponen otomotif; produk medis & kesehatan; barang konsumen: pakan ternak, dan infrastruktur.
4. Manfaat lingkungan seperti: konservasi tanah & air; penyerapan karbon yang mengurangi dampak rumah kaca; menyediakan ekosistem bagi berbagai spesies flora dan fauna; biji karet dapat diolah menjadi pakan ternak, bahan bakar nabati, bahkan menjadi makanan ringan seperti tempe atau keripik;
kayu pohon karet dapat digunakan untuk bahan furnitur dan konstruksi bangunan; serta daun karet kebo memiliki potensi antibakteri dan antioksidan mampu menyerap racun udara.
Perkebunan Karet Kita
Pemerintah menyebutkan,
Luas areal perkebunan karet cenderung menurun rata-rata 1,81% per tahun sejak 2016.
Pemerintah juga menginformasikan, meski Indonesia merupakan produsen karet
terbesar kedua di dunia, tapi tantangannya cukup serius.
Tantangan tersebut meliputi: alih fungsi lahan ke kelapa sawit; rendahnya harga, tanaman yang sudah tua; dan tantangan ekspor EUDR (European Union Deforestation Regulation) yang persyaratannya sangat tinggi.
Pemerintah juga menambahkan, Sumsel, Sumut, dan Jambi masih menjadi kontributor karet terbesar secara nasional.
Simpulan
1. Perkebunan karet harus dikembang-suburkan seoptimal mungkin, setidaknya setara dengan kelapa sawit.
2. Kementerian dan para pihak terkait super aktif mengsosialisasikan manfaat tanaman karet. Sosialisasi meliputi pemilihan bibit unggul, cara penanaman, pemupukan, perawatan, penyadapan, produksi, dan industri hilirisasi
3. Ekspor karet hendaknya dalam bentuk bahan jadi, baik berupa peralatan otomotif, komponen rumah, infrastruktur, maupun farmasi dan pemakanan.
(Bersambung) Depok, 10 Mei 2026)

