Abdullah Hehamahua Kenang Wafatnya Istri, Tekankan Pentingnya Ikhtiar dan Tawakal
Kepergian Emma Heryaty binti Arifin, istri Abdullah Hehamahua, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Di tengah kehilangan tersebut, Abdullah mengingatkan pentingnya ikhtiar dan tawakal dalam menghadapi ketetapan Allah SWT. Hal itu disampaikannya saat menerima kunjungan Radio Silaturahim (Rasil) di kediamannya di Depok, Jawa Barat.
Dalam wawancara bersama Rasil, Abdullah menceritakan kondisi kesehatan istrinya yang terus menurun sebelum dibawa ke rumah sakit. Emma tidak lagi mampu bangun sendiri dan harus menjalani berbagai aktivitas, termasuk salat, dalam posisi duduk hingga berbaring.
Setelah menjalani pemeriksaan darah di sebuah klinik, keluarga disarankan segera membawa Emma ke rumah sakit. Namun, setibanya di instalasi gawat darurat, Emma harus menunggu sebelum akhirnya mendapatkan kamar perawatan pada malam hari.
Meski telah mendapatkan penanganan medis, kondisi Emma terus memburuk. Keluarga kemudian mengupayakan perawatan di ruang intensive care unit (ICU). Namun, sebelum sempat dipindahkan, kondisinya semakin kritis hingga akhirnya meninggal dunia pada usia 68 tahun di Rumah Sakit Bhakti Yudha, Depok, Jawa Barat.
Kepergian Emma menyisakan kesedihan mendalam, terlebih sejumlah rencana keluarga belum sempat terwujud. Salah satunya adalah rencana menunaikan ibadah umrah bersama keluarga.
Emma juga tidak sempat menyaksikan rencana promosi jabatan akademik anak mereka, yang berprofesi sebagai dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB), menjadi profesor pada Desember mendatang.
Abdullah berusaha menerima kepergian sang istri sebagai ketetapan Allah SWT. Ia menekankan bahwa berbagai upaya untuk mendapatkan kesembuhan tetap harus dilakukan, termasuk melalui pertolongan medis.
Menurut Abdullah, ikhtiar dan tawakal tidak boleh dipertentangkan. Manusia harus berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan kesembuhan, tetapi tetap menyadari bahwa hasil akhirnya berada dalam kehendak Allah SWT.
Ia juga mengingatkan bahwa seseorang yang masih hidup tidak berarti pasti berada dalam kondisi sehat. Selama ajal belum tiba, manusia masih menjalani kehidupannya, tetapi tidak ada yang mengetahui kapan ketetapan Allah akan datang.
Pengalaman mendampingi istrinya hingga akhir hayat menjadi pengingat tentang keterbatasan manusia dalam menghadapi ketetapan Allah. Ikhtiar harus tetap dilakukan, sementara tawakal menjadi landasan untuk menerima hasil yang telah ditentukan-Nya.

