Buya Hamka Ulama Pejuang dan Pejuang yang Ulama

February 16, 2026

Buya Hamka Ulama Pejuang dan Pejuang yang Ulama

Sebagai ulama besar, Buya Hamka telah meninggalkan banyak pelajaran hidup bagi umat dan bangsa Indonesia. Sepanjang hidup, Hamka telah membuktikan konsistensinya dalam menegakkan Islam. Beliau adalah sosok ulama yang santun dalam muamalah namun sangat tegas dalam soal aqidah. Tidak seperti kebanyakan ulama lainnya yang kehilangan ketegasan saat berhadapan dengan penguasa, Hamka , dia tidak mau menggadaikan (keyakinan) agamanya hanya demi mempertahankan kedudukannya. “Kita sebagai ulama telah menjual diri kita kepada Allah, Mana mungkin bisa dijual lagi kepada siapapun,” tegas Hamka saat pelantikannya sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Ketegasannya itu pula yang menyebabkan Hamka mengeluarkan fatwa larangan bagi umat Islam mengucapkan selamat natal dan mengikuti perayaan natal. Pemerintah pun kepanasan dan meminta Hamka menganulir fatwanya, tapi begitulah Hamka dia rela menanggalkan jabatan sebagai ketua MUI demi menjaga akidahnya.
Seperti telah diduga, ketegasan-nya menyebabkan banyak pihak membencinya. Tapi Hamka menunjukkan bahwa beliau bukanlah ulama kebanyakan. Dalam hal aqidah beliau memang tegas, tapi dalam ber-muamalah beliau adalah orang yang santun dan pemaaf, tak pernah memelihara dendam dalam hatinya.
Ada cerita menarik mengenai bagaimana Hamka menghadapi orang yang membenci dan memfitnahnya. Tiga orang tokoh ini memusuhi dan terus menjatuhkan beliau. Tiga orang itu adalah Soekarno, Muhammad Yamin dan Pramoedya Ananta Toer.
Seokarno ketika menjabat presiden mempenjarakan Buya Hamka selama dua tahun empat bulan, atas dasar tuduhan yang dipaksakan, merencanakan pembunuhan terhadap Soekarno. Hamka dipenjara tanpa diadili dan tanpa diberi kesempatan untuk membela diri. Betapa kejam perlakuan Soekarno terhadap ulama besar ini. Seakan tidak cukup sampai disitu, semua buku Hamka pun dilarang beredar. Waktu pun berlalu, Hamka telah dibebaskan sedangkan Soekarno telah jatuh dari kekuasaannya.
Disinilah kebesaran hati Buya Hamka menemukan jalannya. Soekarno mulai diasingkan dan sakit-sakitan, tidak nampak lagi tanda-tanda kebesarannya. Menjelang akhir hidupnya, tanpa dinyana Soekarno mengutus orang untuk menyampaikan pesan kepada Hamka, orang yang pernah didzoliminya. Lewat Mayjen Soeryo, Soekarno berpesan “Kelak jika aku pergi (meninggalkan dunia), mohon kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku,”
Inilah kesempatan bagi Hamka untuk membalaskan dendamnya. Tapi Hamka bukan seperti itu, seketika kabar kematian Soekarno, Hamka langsung melayat ke Wisma Yaso tempat Soekarno disemayamkan. Sesuai wasiat Bung Karno, Hamkalah yang menjadi imam shalat jenazah. Ketika ditanya apakah Hamka tidak dendam atas perlakuan Bung Karno. Hamka menjawab
“Saya tidak pernah dendam pada orang yang menyakiti saya. Dendam itu dosa. Selama saya dipenjara saya dapat menyelesaikan tafsir Al-Quran 30 Juz, jika diluar tahanan belum tentu saya punya waktu,”
Kisah selanjutnya dari tokoh nasionalis Muhammad Yamin, Perbedaan ideologi membuat Yamin membenci Hamka. Yamin aktif di PNI yang berideologi nasionalia-sekuler sedangkan Hamka aktif di Masyumi dengan ideologi (nasionalis) Islam. PNI menginginkan Pancasila sebagai dasar negara sedangkan Masyumi menginginkan Islam sebagai dasar negara. Dalam sidang konstituante Hamka berpidato “Bila negara ini mengambil pancasila sebagai dasar negara, sama saja berjalan menuju neraka,”.
Yamin yang sekuler marah, dia menyerukan kebencian kepada Hamka di setiap kesempatan.
Waktu berlalu, tahun 1962 Muhammad Yamin jatuh sakit dan dirawat di RSPAD. Saat sakitnya bertambah parah, Chaerul Saleh menteri negara di kabinet menelpon Hamka. “Buya, saya membawa pesan dari Pak Yamin. Beliau sakit parah dan meminta saya menyampaikan pesan beliau pada Buya,” ujarnya
Buya tersentak, “Apa pesannya?” Chaerul Saleh menjawab “Pak Yamin meminta saya menjemput Buya untuk menemani beliau di akhir hidupnya, beliau juga meminta Buya menemaninya sampai ke liang lahat,”
Tanpa pikir panjang Buya Hamka langsung minta diantar ke RSPAD untuk menjenguk Yamin. Sesampai disana Yamin langsung meminta Hamka mendekat. Lalu Yamin menjabat erat tangan Hamka sedangkan Hamka menuntunnya mengucapkan kalimat tauhid. Tak berselang lama Yamin menghembuskan nafas terakhirnya disamping ulama yang pernah dibencinya. Orang-orang yang hadir terharu melihat adegan ini. Sesuai pesan, Hamka pun mengantarkan jenazah Muhammad Yamin sampai keliang lahat.
Karena ada kabar dari kampung halaman M.Yamin Talawi Sumatera Barat kalau masyarakakat Talawi yang amat kuat mendukung Masyumi tidak menerima M,Yamin dimakamkan disana.
Buya Hamkapun mengantar jenazah M.Yamin sampai ke kampung halamannya dan tak ada satupun masyarakat Talawi yang berani menolak jenazah M. Yamin.
Kisah selanjutnya tentang Pramoedya Ananta Toer, budayawan kiri (komunis). Jelas secara ideologi berseberangan dengan Hamka yang Masyumi. Pram sangat membenci Hamka yang antikomunis, oleh karena itu melalui Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang juga underbow PKI berusaha ‘menghabisi’ Hamka dengan menuduhnya plagiat, pribadi Buya Hamka pun diserang habis-habisan.
Namun akhir perseturuan berbuah manis saat Pram meminta anaknya, Astuti dan calon menantunya yang non-Islam datang untuk belajar Islam pada Buya Hamka. “Saya lebih mantap mengirimkan calon menantu saya untuk diislamkan dan belajar Islam pada Hamka, meski kami berbeda pandangan politik,” ujar Pram mengungkapkan alasannya.
Kedatangan Astuti dan calon suaminya membuat Hamka terharu. Ia pun dengan ikhlas hati membimbing anak dari musuh politiknya itu. Tak lupa Hamka menitip salam kepada Pramoedya, sang musuh politiknya.
Astuti terkejut dan terharu atas kelapangan hati Buya Hamka yang notabene sering didzolimi ayahnya tersebut.
Itulah kepribadian Buya Hamka, ulama Besar yang tidak pernah menyimpan dendam di hatinya. Saat dirinya berkesempatan untuk membalaskan dendamnya, ia lebih memilih untuk memaafkan musuhnya dan melupakan dendam masa lalu. *
“Cintailah orang yang membencimu, mungkin bila kita mencintainya, dia akan sadar bahwa dia telah membenci orang yang salah” (Buya Hamka).
11. Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), Maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal. Al-Maidah (5)
32. mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. At Taubah.(9)
8. mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. Ash Shaff.(61)
29. Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman.mutafifin (83)
34. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mutafifin (83)
6. dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang Amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) Itulah sejahat-jahat tempat kembali. Al-Fath (48)
7. Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Muhammad (47).

Catatan- Ponpes Ad Daar Ath Thoyyibah
Karanganyar Kebumen- Indonesia 1447