Kebangkitan Nasional itu Bukan 20 Mei 1908, Tetapi 16 Oktober 1905 Lewat Gerakan Dagang Pribumi SDI

August 10, 2026

*Kebangkitan Nasional itu Bukan 20 Mei 1908, Tetapi 16 Oktober 1905 Lewat Gerakan Dagang Pribumi SDI*
(Kajian Ulang Sejarah)

Oleh : Azkar Badri.
Dosen Dan Konsultan Komunikasi.

Dalam suasana memperingati Hari Kemerdekaan RI ke 81, perlu menelusuri sejarah yang telah dilakukan oleh putra bangsa terdahulu, dalam bentuk perlawanannya terhadap kolonialisme Belanda dan penjajah lainnya. Kemudian mengingatkan perjuangan mereka (tidak melupakan sejarah) serta memberikan apresiasi sebagai bentuk kepedulian dari generasi yang tinggal menikmati kemerdekaan. (Meskipun menikmati disini masih terjadi perdebatan panjang). Termasuk sejarah peletakan dasar nasionalisme, Kebangsaan di Republik ini.

Dalam konteks semangat Kebangkitan Nasional, perlu menguji ulang “titik nol” Kebangkitan Nasional
Setiap tanggal 20 Mei selama ini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Tanggal itu diambil dari berdiri Boedi Oetomo di Batavia oleh para pelajar STOVIA. Penetapan resminya dilakukan lewat Keppres No. 316 Tahun 1959.

Namun jika dikaji gerakan Budi Utomo hanya terbatas pada kesadaran elit terpelajar, gerakan kelas menengah. Bukan sebagai gerakan massa yang langsung menyentuh urat nadi penjajahan ekonomi. Maka tonggak itu perlu dipertanyakan.

VOC dibubarkan 1799, tapi monopoli dan diskriminasi dagangnya diteruskan Hindia Belanda. Dan yang pertama kali melakukan perlawan itu secara terorganisir dan massal justeru bukan Budi Utomo, melainkan Sarekat Dagang Islam (SDI).

*Budi Utomo 1908. Kebangkitan Kaum Priyayi, Bukan Kebangkitan Rakyat*
Boedi Oetomo didirikan oleh Dr. Soetomo dan pelajar STOVIA, atas gagasan Dr. Wahidin Sudirohusodo. Tujuannya sosial, ekonomi, budaya, dan pada awalnya tidak politik. Keanggotaannya awalnya terbatas pada Jawa dan Madura. Sekali lagi, hanya untuk golongan priyayi dan pelajar.

Inilah kritik utama para sejarawan bahwa, Budi Utomo lahir dari sistem pendidikan kolonial, dan belum menyuarakan perlawanan tegas terhadap penjajahan. Dan belum menyentuh basis massa, hanya terbatas sebagai “pelopor pemikiran”.

*Lahir Dari Luka Ekonomi Membangun Semangat Kebangsaan*
Pada akhir abad 19-awal 20, kebijakan kolonial memberi konsesi dagang kepada pedagang asing, terutama etnis Cina, yang memonopoli Gula, Kopi, Tembakau dan Batik. Pedagang pribumi Muslim tertekan dan tidak diberi peluang.

Haji Samanhudi, seorang pedagang Batik Laweyan Solo, mendirikan Sarekat Dagang Islam pada 16 Oktober 1905. Tujuannya sangat jelas dalam membangun semangat kebangsaan lewat gerakan ekonomi kaum pribumi dengan menghimpun para Pedagang Pribumi Muslim agar bisa bersaing dengan pedagang besar Asing, Tionghoa dan “memajukan kesejahteraan pedagang Islam pribumi dan meruntuhkan dominasi pedagang Tiongkok”.

Sarekat Dagang Islam (SDI) melakukan “operasi bawah-tanah” tidak lagi membeli bahan baku dari Cina, dan berhubungan langsung dengan importir Eropa.

Hal ini terbaca oleh Belanda bahwa, gerakan SDI dianggap ancaman dan bahaya besar bagi eksistensi imperialisme mereka.

Bahkan ada analisis yang menempatkan SDI dalam satu rangkaian dengan VOC. VOC meletakkan dasar monopoli, SDI melakukan perlawanan ekonomi. Dengan kata lain, SDI adalah antitesis langsung dari kapitalisme kolonial yang diwarisi VOC.

*Dari dagang ke politik massa.*
Dalam waktu singkat SDI berkembang ke Purwokerto, Madiun, Surabaya. Anggotanya mencapai sekitar 93.000 orang pada tahun 1912 dan punya cabang di Jakarta, Bandung, Semarang, Makassar, Medan, Aceh.

Kemudian pada 10 September 1912 namanya berubah menjadi Syarikat Islam(SI) di bawah HOS Tjokroaminoto. Cakupan garapannya meluas ke politik. SI menjadi organisasi massa pertama yang menampung ratusan ribu rakyat dari segala golongan, dengan watak anti-imperialisme, anti-kapitalisme, anti-feodalisme.

Argumentasi SDI lebih layak menyandang predikat sebagai peletak dasar semangat nasionalisme, dan layak ditetapkan lahirnya sebagai “Hari Kebangkitan Nasional”. Kajiannya :
1. *Inklusivitas*: Budi Utomo terbatas priyayi Jawa. Sedangkan SDI/SI merangkul pedagang, petani, buruh, pegawai, dan lintas daerah. Bahkan dalam Wikipedia mencatat “Kebangkitan nasional dianggap lebih terwakili oleh Sarekat Dagang Islam (SDI) yang mempunyai anggota di seluruh Hindia Belanda”.
2. *Sasaran langsung*: Jika VOC adalah simbol eksploitasi ekonomi kolonial, maka perlawanan pertama yang menyasar sektor itu adalah SDI. Ia memutus rantai monopoli bahan baku dan membangun koperasi, toko, kredit.
3. *Dampak sistemik*: Pemerintah kolonial sampai membentuk “organisasi tandingan” untuk menandingi SDI. Ini menunjukkan SDI dianggap ancaman nyata, bukan sekadar perkumpulan budaya.
4. *Kesinambungan ideologi*: Nilai dagang SDI: kejujuran, keadilan, larangan riba. Ini menjadi fondasi ekonomi kerakyatan yang kemudian digaungkan dalam konstitusi.

Sejarawan juga mencatat: “tahun 1911 burdjuasi dagang mengorganisasi diri dalam SDI”. Maka lebih pas kalau 1908 adalah kebangkitan intelektual. Dan 16 Oktober 1905 adalah kebangkitan bangsa lewat ekonomi yang dilakukan oleh SDI.

*Penutup*
Gerakan yang membangkitkan semangat kebangsaan lebih tepat jika diambil dari Lahirnya organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) tanggal 16 Oktober 1905. Gerakan kebangsaan lewat gerakan ekonomi pribumi.

Bangsa ini tidak akan bangkit dari ruang kelas STOVIA, tetapi karena pasar Laweyan yang menolak didikte oleh Belanda. SDI membuktikan bahwa perlawanan terhadap warisan VOC tidak harus menunggu elit, ia bisa dimulai dari saudagar batik yang menolak kalah dengan permainan dagang kolonial Belanda.

Dengan demikian, jika kebangkitan diukur dari seberapa luas ia menyentuh rakyat kecil dan seberapa langsung ia menantang struktur kolonial, maka Serekat Dagang Islam tepat sebagai titik awal kebangkitan nasional Indonesia.

-Salam Indonesia Kuat.

*Daftar Referensi*
1. Wikipedia. _Sarekat Islam_. Sejarah awal SDI didirikan 16 Oktober 1905 oleh Haji Samanhudi. Tujuan awal menghimpun pedagang pribumi Muslim.
2. An-Nur Lampung. _Sarekat Dagang Islam: Dari Perkumpulan Pedagang hingga Organisasi Pergerakan Nasional_. Latar belakang monopoli pedagang Cina.
3. UMSU. _Sejarah Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei Lahirnya Organisasi Budi Utomo_. Penetapan Keppres 1959.
4. Wikipedia. _Hari Kebangkitan Nasional_. Polemik penetapan Budi Utomo, SI lebih mewakili seluruh Hindia Belanda.
5. MataKita. _Kapitalisme VOC, Perjuangan Sarekat Dagang Islam dan Kongsi Dagang Baru_. Rangkaian VOC – SDI – kongsi dagang baru.
6. Jejak Islam untuk Bangsa. _Sarekat Dagang Islam dan Kebangkitan Nasional_. SI sebagai organisasi massa anti-imperialisme.
7. Batarfie. _Syarikat Dagang Islam, Pilar Kebangkitan Nasional_. Kritik terhadap Budi Utomo yang elitis.