Udin Sjamsuddin, Warisan Masyumi, dan Harapan Kebangkitan Indonesia

June 23, 2026

UDIN SJAMSUDDIN, WARISAN MASYUMI, DAN HARAPAN KEBANGKITAN INDONESIA

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, segala puji hanya milik Allah SWT, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, teladan agung yang mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah amanah, kekuasaan adalah tanggung jawab, dan keadilan adalah fondasi peradaban.

Merawat Ingatan Kolektif Bangsa

Kehadiran buku Udin Sjamsuddin: Laskar Masjumi dari Tanah Deli merupakan kontribusi penting dalam upaya merawat ingatan kolektif bangsa. Di tengah arus zaman yang bergerak cepat, bangsa ini sering kali melupakan jasa para pejuang yang bekerja dalam diam, berjuang tanpa pamrih, dan mengabdikan hidupnya bagi agama, bangsa, dan negara.

Padahal, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung-gedung tinggi dan teknologi modern. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghormati sejarah, menghargai para pendahulunya, serta mengambil pelajaran dari perjalanan generasi terdahulu.

Buku ini menghadirkan sosok H. Udin Sjamsuddin bukan sekadar sebagai individu, melainkan sebagai representasi generasi pejuang Islam yang tumbuh dalam tradisi pengabdian, kesederhanaan, dan perjuangan kebangsaan. Melalui perjalanan hidupnya, kita dapat melihat bagaimana Islam, nasionalisme, pendidikan, dan politik berpadu menjadi satu kesatuan yang utuh dalam membangun Indonesia.

Udin Sjamsuddin dan Tradisi Perjuangan Masyumi

Udin Sjamsuddin adalah bagian dari generasi yang meyakini bahwa politik bukan sekadar alat meraih kekuasaan, melainkan sarana memperjuangkan kemaslahatan umat dan kepentingan bangsa. Karena itu, perjalanan hidup beliau tidak dapat dilepaskan dari sejarah besar Al Washliyah dan Partai Masyumi yang menjadi rumah perjuangannya.

Dalam sejarah Indonesia, Masyumi bukan sekadar partai politik. Masyumi adalah sekolah besar kepemimpinan nasional. Dari rahim Masyumi lahir tokoh-tokoh yang tidak hanya dikenal karena kecerdasannya, tetapi juga karena integritas dan pengabdiannya.

Nama-nama seperti Mohammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Mohammad Roem, Sukiman Wirjosandjojo, Kasman Singodimedjo, Agus Salim, Buya Hamka, Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, Zainal Abidin Ahmad, Anwar Harjono, dan sederet tokoh lainnya telah menorehkan tinta emas dalam perjalanan Republik Indonesia.

Para Negarawan Masyumi

Mohammad Natsir mengajarkan bahwa persatuan bangsa berada di atas kepentingan golongan. Melalui Mosi Integral Tahun 1950, beliau berhasil mengembalikan Indonesia dari negara federal menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sjafruddin Prawiranegara mengajarkan bahwa amanah negara lebih berharga daripada keselamatan pribadi. Ketika para pemimpin bangsa ditawan Belanda, beliau memimpin Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dan memastikan Republik tetap berdiri.

Mohammad Roem memperlihatkan bagaimana diplomasi yang bermartabat mampu menjaga kehormatan bangsa.

Buya Hamka menunjukkan bahwa seorang ulama dapat menjadi intelektual, budayawan, sekaligus penjaga moral publik.

Agus Salim mengajarkan kecerdasan, kesederhanaan, dan keteguhan prinsip dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa.

Mereka adalah negarawan yang menjadikan politik sebagai ibadah dan pengabdian.

Di Sumatera Utara, semangat yang sama hidup dalam diri Udin Sjamsuddin dan para tokoh Masyumi lainnya, termasuk Mawardi Noor yang memiliki tempat tersendiri dalam sejarah politik daerah tersebut. Mereka membuktikan bahwa perjuangan politik tidak harus lahir dari kekayaan dan kekuasaan, tetapi dapat tumbuh dari keikhlasan, kedekatan dengan rakyat, serta keteguhan memegang prinsip.

Relevansi Warisan Masyumi bagi Indonesia Hari Ini

Apa yang diwariskan oleh para tokoh Masyumi sesungguhnya sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.

Bangsa kita sedang menghadapi berbagai tantangan besar. Kepercayaan publik terhadap partai politik mengalami penurunan. Politik sering dipersepsikan sebagai arena transaksi kepentingan. Politik uang menggerogoti kualitas demokrasi. Korupsi masih menjadi persoalan serius. Ketimpangan ekonomi semakin terasa. Pengangguran dan kemiskinan masih membayangi sebagian rakyat.

Di sisi lain, kerusakan lingkungan mengancam masa depan generasi mendatang. Sementara itu, sumber daya alam yang melimpah sering kali lebih banyak dinikmati oleh segelintir kelompok dibandingkan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Pelajaran dari Ibnu Khaldun

Kondisi tersebut mengingatkan kita pada analisis besar Ibnu Khaldun dalam karya monumentalnya, Muqaddimah.

Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa suatu negara akan mengalami kemunduran ketika keadilan mulai melemah, ketika para elite lebih sibuk memperkaya diri daripada melayani rakyat, ketika kekuasaan kehilangan orientasi moral, dan ketika rakyat dibebani berbagai kewajiban yang memberatkan kehidupannya.

Menurut beliau, kezaliman adalah tanda awal kehancuran sebuah peradaban.

Pandangan tersebut bukan sekadar teori sejarah, melainkan pelajaran yang terus berulang dalam perjalanan bangsa-bangsa di dunia.

Keadilan dan Musyawarah sebagai Fondasi Negara

Al-Qur’an menempatkan keadilan sebagai fondasi kehidupan sosial dan politik.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil.”
(QS. An-Nisa: 58)

Ayat ini menegaskan bahwa amanah dan keadilan merupakan syarat utama tegaknya kehidupan bernegara.

Allah SWT juga berfirman:

“Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.”
(QS. Asy-Syura: 38)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa partisipasi rakyat, musyawarah, dan keterbukaan merupakan prinsip yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Kebangkitan Masyumi Abad Kedua

Dalam konteks itulah, warisan Masyumi menemukan relevansinya kembali.

Kebangkitan Masyumi pada abad ke-21 tidak boleh dipahami semata-mata sebagai kebangkitan organisasi politik. Lebih dari itu, kebangkitan Masyumi harus dimaknai sebagai kebangkitan nilai-nilai yang pernah menjadi fondasi perjuangan para pendirinya.

  • Kebangkitan amanah di tengah maraknya korupsi.
  • Kebangkitan kejujuran di tengah budaya manipulasi.
  • Kebangkitan keadilan di tengah ketimpangan sosial.
  • Kebangkitan musyawarah di tengah dominasi oligarki.
  • Kebangkitan keberpihakan kepada rakyat kecil di tengah menguatnya kepentingan kelompok-kelompok pemilik modal.

Masyumi Abad Kedua harus hadir sebagai gerakan moral, intelektual, dan kebangsaan yang mampu menjawab tantangan zaman.

Masyumi tidak boleh hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi harus menawarkan jalan keluar bagi masa depan. Ia harus berbicara tentang pendidikan yang berkualitas, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, kemandirian pangan, kedaulatan energi, pemerataan pembangunan, pemberdayaan UMKM, serta perlindungan lingkungan hidup.

Namun seluruh agenda tersebut harus tetap berpijak pada nilai dasar Islam: keadilan, amanah, kemanusiaan, dan kemaslahatan.

Harapan bagi Generasi Muda Indonesia

Generasi Milenial, Generasi Z, dan Generasi Alpha membutuhkan politik yang memberikan harapan, bukan sekadar janji.

Mereka membutuhkan pemimpin yang jujur, kompeten, dan berani memperjuangkan kepentingan rakyat. Mereka membutuhkan teladan.

Dan teladan itu dapat ditemukan dalam kehidupan tokoh-tokoh seperti Udin Sjamsuddin dan generasi Masyumi yang telah mendahuluinya.

Karena itu, buku ini tidak hanya penting sebagai catatan sejarah seorang tokoh. Buku ini juga menjadi pengingat bahwa bangsa Indonesia pernah memiliki tradisi politik yang luhur, yang melahirkan pemimpin-pemimpin sederhana, berintegritas, dan dekat dengan rakyat.

Melalui buku ini, kita diajak untuk melihat kembali jejak perjuangan para pendahulu, mengambil hikmah dari pengorbanan mereka, serta melanjutkan cita-cita yang belum selesai diwujudkan.

Penutup

Sejarah bukan untuk disembah.

Sejarah adalah pelajaran.

Dari sejarah Masyumi kita belajar bahwa politik tanpa moral akan melahirkan kerusakan, sedangkan moral tanpa keberanian tidak akan mampu mengubah keadaan.

Indonesia memerlukan keduanya: moralitas dan keberanian.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing bangsa ini menuju negeri yang adil, makmur, bermartabat, serta menjadi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Jakarta, 2026

Dr. Ahmad Yani, S.H., M.H.
Ketua Umum DPP Partai Masyumi