*Membumikan Kembali Spirit Masyumi,*
*Mengapa Politik Akar Rumput Perlu Solusi, Bukan Sekadar Nostalgia?*
/Oleh: Budi Sumarno ( Simpatisan Partai Masyumi)/
Jakarta, 8/8/2026: Menyebut nama Masyumi hari ini sering kali membawa ingatan kita pada lembaran hitam-putih buku sejarah. Kita teringat pada sosok para tokohnya yang legendaris—mereka yang dikenal sangat sederhana, berintegritas tinggi, dan fasih berdebat tentang fondasi negara. Namun, jika kita jujur melihat realitas politik saat ini, romansa masa lalu saja tidak akan pernah cukup untuk menggerakkan hati masyarakat di tingkat bawah (grassroots).
Masyarakat hari ini tidak hidup di era 1950-an. Menghidupkan kembali semangat perjuangan politik yang berakar kuat dari bawah memerlukan strategi baru yang jauh lebih segar, membumi, dan lepas dari jebakan nostalgia yang kaku.
*Tantangan Generasi*
Tantangan terbesar dalam membangun kaderisasi politik berbasis nilai saat ini adalah kesenjangan generasi. Bagi anak muda era digital para Gen Z dan Milenial yang mendominasi porsi pemilih sejarah masa lalu sering kali dianggap sebagai dongeng pengantar tidur. Mereka tidak punya ikatan emosional dengan masa lalu tersebut.
Di sisi lain, panggung politik saat ini sudah sangat padat. Berbagai kelompok politik sudah berbagi wilayah kekuasaan di tingkat bawah. Jika sebuah gerakan baru datang hanya membawa nama besar atau sekadar jargon keagamaan yang doktrinal, gerakan tersebut akan langsung tenggelam dalam riuhnya kompetisi.
Kaderisasi di akar rumput akan langsung macet jika komunikasi yang digunakan terlalu teoretis, elitis, dan berjarak dari urusan perut masyarakat.
*Dari Diskusi Teori ke Aksi Nyata*
Agar bisa diterima oleh masyarakat bawah, pendekatan kaderisasi harus kembali pada khitah perjuangan yang dicontohkan Mohammad Natsir, yaitu Dakwah Bi Al-Hal, berdakwah melalui aksi nyata dan pemberdayaan komunitas.
Masyarakat di desa-desa, wilayah pesisir, maupun kaum urban di pinggiran kota tidak terlalu ambil pusing dengan perdebatan politik di ibu kota. Yang mereka butuhkan adalah jawaban atas persoalan sehari-hari, bagaimana cara memajukan usaha mikro (UMKM) mereka, bagaimana mengantisipasi harga pupuk yang mahal bagi petani, atau bagaimana anak-anak mereka bisa mendapatkan akses pendidikan yang layak.
Di sinilah kaderisasi itu harus mengambil peran. Gerakan ini harus hadir bukan sebagai organisasi yang sibuk membagikan brosur atau bendera, melainkan sebagai kelompok yang membawa solusi nyata. Loyalitas masyarakat di tingkat bawah hanya bisa tumbuh secara alami ketika mereka merasakan langsung manfaat kehadiran para kader di tengah-tengah mereka.
*Pendekatan Budaya dan Kreativitas Digital*
Selain aspek ekonomi, pendekatan kultural atau kebudayaan adalah kunci yang sering kali terlupakan. Generasi muda saat ini sangat visual dan ekspresif. Mengapa tidak mendekati mereka lewat ruang-ruang kreatif?
Politik modern adalah tentang membangun empati dan keterikatan emosional. Mengadakan pelatihan pembuatan film pendek bagi anak muda daerah, memanfaatkan ruang publik seperti museum untuk ruang diskusi, atau membuat konten digital yang mengedukasi jauh lebih efektif ketimbang mengumpulkan massa dalam rapat akbar yang monoton.
Melalui media kreatif, nilai-nilai kejujuran, keadilan sosial, dan kepedulian yang dulu menjadi ciri khas tokoh-tokoh masa lalu dapat dikemas ulang menjadi konten yang menarik, mudah dicerna, dan relevan dengan kehidupan anak muda sekarang.
*Menatap Masa Depan*
Membangun kembali basis massa dari akar rumput adalah sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran. Gerakan ini harus kokoh berdiri sebagai gerakan moral dan social ekonomi terlebih dahulu sebelum melangkah ke ranah politik praktis.
Jika gerakan ini mampu melahirkan kader-kader di tingkat daerah yang tidak hanya paham nilai-nilai moral, tetapi juga terampil menggerakkan ekonomi warga, kreatif di dunia digital, dan konsisten membela hak-hak masyarakat lokal, maka kebangkitan itu bukan lagi sekadar impian.
Membawa kembali spirit perjuangan masa lalu ke akar rumput berarti mengembalikan politik ke fungsi aslinya: sebuah jalan pengabdian yang sunyi dari kemewahan, tetapi riuh dengan kerja nyata yang langsung dirasakan oleh rakyat.
~(Budi Sumarno – Simpatisan Partai Masyumi & Pegiat Literasi, Film & Kebudayaan)

