INDONESIAMU, INDONESIAKU, INDONESIA KITA (14)
Abdullah Hehamahua
Seri 12 dan 13 menginformasikan kebutuhan asasi tubuh manusia tentang karbohidrat dan protein. Namun, tubuh yang sehat, perlu vitamin. Olehnya, seri ini dikomunikasikan vitamin yang berasal dari buah dan sayur segar.
Vitamin Menurut Anda
Anda, seperti kasus protein, belum signifikan menghilangkan jargon “durian bangkok” atau “jambu bangkok.” Padahal, di Thailand, tidak ada jargon “durian” atau “jambu” Jakarta.
Tragisnya, anda justru impor buah dari Tiongkok, AS,
Australia, Thailand,
Chile, Peru, dan Selandia Baru.
Memang, apel, anggur, pir adalah buah yang tidak akrab dengan iklim tropis, seperti Indonesia. Namun, di Malang, Jatim, ada kebun apel selama puluhan tahun.
Anda juga lupa, Indonesia punya beberapa jenis buah yang populer seperti durian yang berada di seluruh Indonesia. Ada dukuh Palembang, jeruk Pontianak, salak pondoh, pisang dan nenas Lampung, mangga arum manis. Apalagi manggis yang hanya ada di tiga negara, yakni Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Namun, anda masih impor durian, mangga, dan kelapa muda dari Thailand dan Malaysia. Padahal ketiga jenis buah ini banyak di Indonesia.
Apalagi, wilayah Thailand hanya seluas Sumatera. Malaysia, hanya seluas Kalimantan. Maknanya, produksi ketiga buah tersebut di Indonesia, lebih banyak dari dua negara jiran tersebut. Apakah ada “kongkaligong” di antara importir dan instansi terkait.? Biarlah KPK yang menjawabnya.
Mengenai sayur, tahun 2025, anda impor 935.827 2 ton dari Tiongkok, India, dan Miyanmar.
Vitamin Menurutku
Setiap halaman orang kampung, ada pohon buah: mangga, kelapa, dan pepaya.
Di kebun, ada semua tanaman buah kecuali pir, apel, anggur, dan kurma. Bahkan, buah salak hanya ada di Indonesia. Buah manggis, sedunia hanya ada di Indone- sia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
Pelbagai sayur ada di kebun, bahkan di pekarangan rumah orang kampung. Ada bayam, tomat, kangkung, katuk, timun, terung, pare, kacang panjang, kelor, dan labu siam. Di daerah tertentu, ada kol, bawang, sawi, dan seledri.
Hematku, dua jenis buah yang dapat menjadi komoditas ekspor adalah manggis dan salak. Sebab, khasiat kedua buah ini, sangat signifikan.
a. Khasiat Buah Manggis
(1) Memiliki sumber antioksidan yang tinggi di mana senyawa xanthone yang melimpah bersifat anti-inflamasi dan membantu melawan kerusakan sel
(2) Meningkatkan kekebalan tubuh. Sebab, kombinasi vitamin C dan nutrisi penting lainnya membantu tubuh melawan infeksi dan menjaga kebugaran tubuh.
(3) Mengontrol kadar gula darah. Sebab, serat dan xanthonenya membantu turunkan resistensi insulin.
(4) Kandungan serat yang tinggi, melancarkan buang air besar dan melindungi usus.
(5) Anti bakteri dan anti-inflamasi yang dimilikinya efektif mengatasi jerawat dan meredakan peradangan di kulit wajah.
(6) Kalori yang rendah dan efek anti-inflamasi ÿang dimiliki dapat meningkatkan metabolisme lemak di dalam tubuh.
b. Khasiat Buah Salak
(1) Kaya akan serat. Ia mendukung kesehatan usus di mana dalam jumlah wajar, dapat mencegah sembelit dan membuat tinja lebih lunak.
(2) Beta-karoten yang dimiliki, membantu turunkan risiko katarak dan rabun senja.
(3) Kandungan serat yang tinggi memberikan rasa kenyang lebih lama, baik untuk diet.
(4) Vitamin C dan antioksidan (seperti likopen) di dalamnya membantu memperkuat sistem imun dan menangkal radikal bebas yang merusak sel.
(5) Kandungan kalium yang dimiliki membantu mengatur tekanan darah dan menjaga irama jantung agar tetap stabil.
(6) Kandungan pektin, kalium, dan beta-karoten yang dimiliki, melancarkan aliran darah ke otak, sehingga mendukung fungsi kognitif dan memori.
Vitamin Kita
Anda, saya, kita semua, tetap merujuk pasal 29 dan 33 UUD, 18 Agustus 1945. Olehnya, sumber vitamin bangsa difokuskan terhadap industrialisasi buah manggis dan salak sebagai komoditas ekspor. Konsekwensinya, pemerintah perlu sediakan kredit lunak tanpa riba bagi petsni manggis dan salak serta perlunya subsidi pupuk.
Penerintah pada waktu yang sama, mengembangkan perkebunan jenis buah yang lain dan semua jenis sayur yang ada di kalangan petani. Bahkan, instansi terkait perlu kembsng’biakkan apel Solo ke daerah yang iklimnya seperti daerah Malang. Dampak positifnya, Indonesia tidak perlu impor buah dan sayur.
Simpulan
1. Pemerintah perlu sediakan pinjaman lunak tanpa riba bagi pekebun buah dan sayur, khusus bagi buah dan sayur yang sudah ada di Indonesia. Dampak positifnya, pemerintah tidak perlu impor buah dan sayur. Pemerintah juga perlu salurkan pupuk bersubsidi bagi pekebun buah dan sayur.
2. Perlu industrialisasi manggis dan salak sebagai komoditas ekspor.(Depok, 1 Juni 2026)

